Home Ekonomi BUMN Menteri BUMN Luruskan Soal Kerugian PLN

Menteri BUMN Luruskan Soal Kerugian PLN

Menteri BUMN Rini Soemarno (Foto: Istimewa)

Jakarta, TopBusiness – Menteri BUMN Rini Soemarno meluruskan tentang adanya asumsi bahwa PT Perusahaan Listrik Negara (Persero/PLN) mengalami kerugian usaha hingga Rp 18,4 trilun pada kuartal III-2018.

Menurut Rini , angka tersebut bermakna potensi kerugian dalam pembukuan kinerja, karena terjadi pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Catatan rugi pembukuan dengan angka belasan triliunan itu, bisa timbul karena PLN memiliki kontrak jangka panjang dengan independent power producer (IPP) yang berdenominasi dolar AS.

Lantaran, nilai kontraknya dalam US$ maka terjadi peningkatan nilai pinjaman. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Namun, pinjaman itu tidak harus dibayar PLN pada tahun ini. Artinya, secara riil kerugian belum terjadi.

“Sehingga kalau saatnya nanti harus membayar pinjaman jangka panjang ya harus bayar. Saat sekarang tidak terjadi, hanya ‘unrealize’, jadi hanya tercatat di buku, kalau sekarang saya bayar maka akan segini,” kata Rini di Kantor Kementerian BUMN, Kamis (1/11/2018).

Dengan demikian, ujar Rini, angka kerugian tersebut hanya rugi yang tercatat dalam pembukaan atau kerugian yang belum terealisasi. Hingga saat ini, arus kas dan likuiditas (cashflow) PLN masih kuat. “Urusan PLN itu adalah karena rupiah itu melemah sehingga ada yang dikatakan unrealize lost,” ujar Rini.

Penjelasan Rini tersebut menanggapi nilai kerugian yang tercatat di laporan keuangan PLN sebesar Rp18,4 triliun untuk kuartal III-2018 ramai diberitakan berbagai media.Dalam laporan itu, angka kerugian PLN disebabkan peningkatan beban operasi, terutama karena selisih nilai tukar. Nilai kerugian kurs mendominasi hingga Rp17,32 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here