Home Ekonomi BUMN Pembangkit dengan Berbahan Solar Cell Diperlukan

Pembangkit dengan Berbahan Solar Cell Diperlukan

Jakarta, TopBusiness – PT Len Indonesia, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) akan merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan menggunakan solar cell.

Presiden Direktur PT Len Zakky Gamal Yasin dalam wawancara khusus dengan Top Business di Kantor Jakarta MTH Building di Bilangan MT Haryono, Jakarta Selatan, menyatakan dengan terbentuknya perusahaan patungan (Joint Venture)  antara PT Len Industri, PT Pertamina(Persero) dan PT PLN (Persero) dan segera dapat merealisasikan pembangunan kelistrikan dengan mengunakan solar sell di seluruh perusahaan Milik Negara (BUMN)  dengan total daya terpasang  mencapai 1,4 GWp (Giga Watt Peak) atau setara dengan 1.400 MW dengan total investasi selama lima tahun dibutuhkan sebesar Rp 12 triliun.

“Ini sebuah effort besar jika bisa terealisasi dalam waktu dekat, selama ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tidak bergerak sama sekali, investor tidak tertarik berinvestasi di PLTS ini, tidak ekonomis jika dikembangkan secara bisnis. Lantas pula komponen solar cell ini masih sangatlah tinggi harganya, karena seluruh komponen dan bahan bakunya masih tergantung dengan subtitusi impor dari luar negeri. Saat ini yang terbesar menguasai komponennya negara China dengan harga paling kompetitif dibandingkan dengan negara lain”, ucap Zakky.

Jika pembangunan PLTS di BUMN terealisir, tegas Zakky,  dengan kapasitas 1,4 GWp maka industri dalam negeri dari hulu dan hilir solar cell ini akan tumbuh dan siap memproduksi seluruh komponennya di dalam negeri.  “Tentu pula kita akan mendapatkan harga jauh lebih murah. Industri hulu solar panel bisa tumbuh di dalam negeri,  bahan baku solar panel tersebut pasir silica yang banyak bahan baku pasir silica tersebut di dalam negeri. Lah wong bahan bakunya ada di Indonesia kenapa kita harus beli dari China. Dalam perhitungan bisnis industri solar panel dengan keekonomisan jika permintaan pasar bisa mencapai 200-250 MW, ini baru bisa ekonomis, tentunya dengan kebutuhan 1.400 MW nanti kan tentu sudah menjadi sebuah pasar yang sangat menggiurkan dan nantinya bagi para industri untuk memperoduksi di Indonesia. Itu baru dari BUMN saja,” ungkap Zakky.

Harapan Zakky, semeoga seluruh stakeholder  BUMN, BUMD, Pemerintahan Propinsi, Kabupaten dan Kota agar program pengunaan solar cell ini berjalan dengan massif,  sehingga pemerintah harus menjadi roll model agar kebaikan ini bisa diikuti oleh masyarakt seluruh penguna solar sell ini. “Kita juga harus peduli dan memberikan kontribusi agar bisa menurunkan suhu panas bumi ,  kontribusi kita agar pemanasan global ini tidak mengancam Indonesia. Tentunya dengan pengunaan PLTS secara massif ini kita sudah bisa memberikan kontribusi penyerapan karbon dengan besar”, tegas Zakky.

Sehingga memberikan keuntungan yang optimal.  “Semoga program BUMN peduli pembangunan PLTS ini bumi semakin bersih, hijau, ancaman global warming tidak terjadi di bumi Indonesia”.

 

Albarsyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here