Berkah Tol Trans Sumatera Mengalir di Warung Padang Hingga Kebun Buah Naga

Penulis Nurdian Akhmad

Rendang ayam, cincang daging sapi, ayam goreng, sambal cabai hijau dan lalapan daun singkong serta belasan menu rumah makan padang senantiasa tersaji sepanjang hari hingga malam di Rumah Makan (RM) Indarung yang berjarak 70 meter saja dari exit tol Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Barat. Buka 24 jam, RM Indarung yang berada di Jalan Lintas Sumatera ini berdiri tidak lama setelah ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo pada 8 Maret 2019.

Amrin Buyung, 50, sang pemilik, gesit membuka peluang dari pengoperasian tol yang menghubungkan Bakauheni dengan Palembang yang dibangun oleh PT Hutama Karya (Persero) itu. “Juli ini pas setahun RM kami dibuka, dulunya saya jualan ikan asin kepada pedagang di pasar sekitar Lahat dan Muara Enim, bisa dibilang agen lah. Namun, banyak rugi karena sering dihutangi dan tidak dibayar. Karena saya waktu muda pernah punya pengalaman kerja di restoran dan istri saya walaupun aslinya dari Jawa tapi pintar masak makanan padang, kami putuskan sewa di sini,” ujar Amrin kepada TopBusiness.id, Kamis (30/7/2020), di antara kesibukannya mengawasi pegawainya melayani supir serta penumpang mobil travel dari Sumedang yang menuju Jambi.

Menyewa tanah dengan lebar muka 25 meter, yang difungsikan sebagai lahan usaha sekaligus rumah yang dihuni bersama istri dan empat anaknya, Amrin mengaku usahanya bukan cuma bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anaknya, namun juga ketenangan karena tak lagi perlu terlibat dalam drama tagih menagih utang, pun memberinya kesempatan berjumpa banyak orang. Lahan parkir RM Indarung bisa menampung enam bis serta 15 mobil travel.

“Kami usaha di sini sendiri, jadi nggak ada kewajiban bagi hasil, hasil usaha sehari semalam kami hitung di pagi hari dan dipakai belanja ke Pasar Bandar Jaya, Terbanggi Besar, Lampung Tengah.  Sisa yang diperoleh itu ya berarti untungnya, itu untuk membiayai kuliah dua anak saya yang kuliah di Universitas Telkom Bandung dan universitas di Sumatera Utara. Dua lagi masih sekolah SMP. Senangnya lagi kami bisa lihat dan dengar cerita pembeli dari mana-mana,” ujar Amrin yang menyediakan 60 tempat duduk, musola dan toilet.

Rumah Makan Padang Indarung milik Amrin Buyung di Jalan Lintas Sumatera, dekat exit Tol Gunung Sugih, Lampung Barat.

Berkah pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan pembukaan exit tol Gunung Sugih, Amrin bisa merintis usaha di bidang kuliner sekaligus memberikan layanan prima pada pengemudi dan penumpang mobil travel dan bus lintas Sumatera seperti bus ALS. Awalnya mereka hanya menjajal untuk bersantap dan beristirahat di RM Indarung, kini menjadi langganan dan jumlahnya terus bertambah.

“Dari Bakauheni, mereka biasanya langsung masuk tol. Nah biasanya di tol telepon ke sini dan bilang ada berapa penumpang yang dibawa sehingga kami bisa siap-siap. Kalau penumpangnya banyak dan dirasa nasinya atau lauknya kurang jadi masih bisa kita masak. Tiba di sini, makanan  sudah siap, bisa juga istirahat, shalat juga ke toilet. Memang sengaja mobil travel dan bus itu keluar exit tol Gunung Sugih hanya untuk makan di sini, habis makan dan istirahat, ya mereka masuk lagi ke tol dan melanjutkan ke tujuannya, ada yang ke Aceh, Jambi dan Palembang. Sepanjang ada tol mereka melanjutkan pakai tol karena pertimbangan waktu, menghindari kemacetan dan keamanan di jalan,” tutur dia.

Aliran rezeki yang berhulu dari pembangunan infrastruktur yang dikawal Hutama Karya sebagai pengelola JTTS itu bahkan telah mengalir pada tiga karyawan RM Indarung yang membantu Amrin dan sang istri, Wahyu Miarsih, 46, yang menjadi juru masak.

“Kami bergiliran, capai tapi hasilnya Alhamdulillah bisa buat makan dan sekolah. Bisa dibilang kami hidup dari pengemudi travel dan bus Trans Sumatera karena kalau pembeli biasa ya sedikit walaupun ada ya,” ujar Amrin yang menyebut seperti juga tempat makan sekaligus tempat istirahat lainnya, ia memberikan layanan makan dan rokok gratis pada pengemudi sebagai bentuk terima kasih sudah membawa penumpangnya bersantap dan mengebulkan asap di dapur RM Indarung setiap harinya. Setelah setahun, kini bus yang parkir di muka RM Indarung mencapai 10 dalam sehari, sedangkan mobil travel sebanyak 16 setiap harinya.

Optimisme di Masa Pandemi
Sempat terdampak hebat pada awal masa pandemi, hingga jumlah bus dan mobil travel yang mampir berkurang lebih dari setengahnya, kini di masa adaptasi kebiasaan baru, RM Indarung mulai kedatangan 4 bis dan 7 travel setiap harinya. “Kalau jumlah penumpangnya, ya memang berkurang dibanding sebelum korona, tapi ya dari dulu pun bervariasi. Bis bisa saja ada 30 penumpang, tapi kadang belasan orang, kalau travel itu kalau yang besar bisa belasan orang,” ujar Amrin.

“Tapi sekarang ini sudah mulai membaik, sudah banyak perubahan dibandingkan Maret, tapi kan yang mengalami kondisi ini semua orang ya. Kita juga taat peraturan, sediakan sarana cuci tangan dan tempat duduk juga dikasi jarak, supaya orang juga tenang makan di sini. Kebetulan anak-anak yang kuliah juga kembali ke sini dulu karena belajar jarak jauh, jadi bisa bantu-bantu juga.”

Dampak berkelanjutan yang dihasilkan JTTS  itu mengalir, termasuk pada berbagai usaha rakyat di sekitar exit tol, salah satunya di RM Indarung yang setiap harinya menyerap bahan baku lokal, mulai sayuran, ayam hingga 10 kg dan beras 10kg hingga 20 kg. 

“Semoga tolnya makin ramai, dan si korona ini cepat berakhir, supaya kendaraan yang melintas juga makin banyak dan warung kami juga ikut maju,”  kata Amrin.

Panen Makin Lancar

Berkah dari beroperasinya JTTS  juga dirasakan Abraham Untung Suripan,56, seorang petani buah naga dari Desa Kampung Baru, Kecamatan Mesuji Makmur,  Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Setelah exit tol Simpang Pematang JTTS dibuka, Abraham lebih mudah menjual hasil panen dari 1.000 pohon buah naga atau Hylocereus polyrhizus. Panen setiap 15 hari itu mendatangkan perolehan sebanyak 3 ton yang dihargai Rp20 ribu per Kg.”Itu harga kebun ya karena panen kami langsung diambil ke kebun,” ujar Abraham di tengah kesibukannya di kebun buah naga seluas satu hektare miliknya kepada TopBusiness.id, Kamis (30/7/2020).

Berkat kerja kerasnya beralih dari komoditas karet dengan mempelajari karakter buah naga yang sarat teknik perawatan,  yang dirintisnya sejak 2013 kini berbuah hasil panen yang konsisten jumlah maupun kualitasnya. “Butuh waktu buat beradapatasi, dulu saya tanamnya mulai dengan 55 batang,” kata Abraham.

Berjarak 45 km dari exit tol Simpang Pematang, Mesuji, dampak Tol Trans Sumatera dirasakan pada petani di Desa Kampung Baru. “Pengaruhnya banyak, transportasi lebih mudah dan murah, karena semula jalan lintas Sumatera yang kami gunakan hanya jalur timur. Buat kami para petani, ini menjadi penting karena menentukan harga jual pengepul, karena mereka juga pasti memasukkan biaya transportasi juga saat membeli panen kita. Secara umum sekarang akses untuk semua komoditas, termasuk bahan-bahan pokok masyarakat juga makin lancar,” kata Abraham yang mengaku pada Rabu malam menikmati kembali bentangan tol yang kini menghubungkan tanah kelahirannya dengan Lampung hanya dalam jarak tempuh 3 jam. “Dulunya butuh setengah hari loh ke Lampung untuk kami sekeluarga bersilaturahmi dengan saudara di sana.”

Kini, tata niaga buah naga merah, yang di dalamnya termasuk komponen daya beli masyarakat, ongkos pengangkutan hingga akses dari kebun ke pasar, secerah warnanya. Abraham yang di lingkungan desanya terbilang sukses membudidayakan buah naga, membagi pengalamannya pada petani lain. Kini petani Desa Kampung Baru ramai-ramai merintis budidaya buah naga merah. 



Ketika nantinya buah naga merah menjadi komoditas utama Kampung Baru, Abraham berharap jika mereka bisa mengungkitnya sebagai oleh-oleh khas yang juga bisa dijadikan kebanggaan serta dijajakan di lokasi-lokasi tempat istirahat di ruas Trans Sumatera, terutama Mesuji. “Supaya buah naga dikenal sebagai oleh-oleh dari Mesuji,” ucapnya.

Gairah kebun-kebun buah naga, baik yang telah produktif seperti milik Abraham, juga para petani yang masih merintis,  kini terhubung lebih efisien dengan pasar berkat mulusnya Trans Sumatera. Optimisme itu pula yang kini memacu Abraham berekspansi dengan komoditas cabe jawa atau Piper retrofractum sebagai bahan baku jamu bernilai tinggi.

“Jika Trans Sumatera juga bisa jadi bagian dari promosi hortikultura, maka kita bisa membangun citra positif hasil pertanian, budi daya kita bagus loh, hanya katanya kurang bagus di promosi,” ujar bapak empat anak ini.

Buka Keterisolasian Daerah

Berkembangnya ekonomi di seputar Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dikuatkan oleh fakta terjadinya lonjakan permintaan (demand) listrik di sekitar tol Trans Sumatera dari Bakauheni hingga ke Kayu Agung. Berdasarkan analisa Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, demand kelistrikan di Sumatera selama lima tahun terakhir rata-rata naik 5,7 persen per tahun. Tapi sepanjang tahun 2019 ada satu daerah yang dilaporkan mengalami pertumbuhan demand yang sangat tinggi, yaitu sekitar 10,08 persen. Daerah itu ada di Lampung terutama di Bakauheni, Terbanggi Besar, Sungai Sodong, sampai ke Kayu Agung.

“Kemudian kita dalami lagi bahwa pertumbuhan ekonomi itu ada di kiri kanan jalan tol, terutama daerah yang berhubungan dengan exit tol tersebut. Dan kita dalami lagi, ternyata memang konektivitas, yakni pembangunan infrastruktur yang dibangun oleh Presiden Jokowi berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, di sini kami menengarainya dengan adanya pertumbuhan demand tersebut,” ujar Darmawan yang akrab disapa Darmo dalam diskusi terbatas yang diikuti TopBusiness, awal Juli 2020 lalu.

Berbeda dengan jalan tol di Jawa yang dibesut untuk mengurai kemacetan jalan raya, menurut Darmo, JTTS dibangun pemerintah untuk membuka daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi menjadi daerah yang terbuka untuk investasi. Sebab itu,  kata dia, jarak exit tol JTTS dengan jalan lintas Sumatera rata-rata sekitar 40-70 Kilometer (Km). Ini berbeda dengan jalan tol Trans Jawa yang rata-rata hanya berjarak  2-3 kilometer dari jalan Pantura.

Tapi filosofi pemerintah membangun JTTS ini, menurut Darmo, masih kurang dipahami oleh pemerintah daerah. Ia menceritakan pengalamannya menjelang peresmian tol Trans Sumatera di Terbanggi Besar tahun 2019 lalu. Tiga hari sebelum tol diresmikan oleh Presiden Jokowi, ia bersama salah satu bupati di daerah Lampung menyusuri jalan tol dari Bakauheni hingga ke Kayu Agung. Ia pun berhenti di salah satu exit tol dan bertanya ke bupati tersebut, “nanti exit tol-nya ini untuk apa? Tapi dia malah bertanya, exit tol-nya kenapa ada di sini? (jauh dari jalan lintas Sumatera-red).”

“Tol Trans Sumatera ini adalah bukan untuk mengurai kemacetan, tapi untuk membuka daerah-daerah yang terisolasi. Karena kami begitu menyusuri tol dari Bakauheni sampai Kayu Agung, sampai Sungai Sodong, Terbanggi Besar, tadinya kalau mau ke Pelabuhan Bakauheni sekitar 8-10 jam. Dengan terbangunnya tol ini hanya sekitar 2-3 jam, dan daerah ini terutama di exit tol-nya berkembang luar biasa,” tutur Darmo yang juga eks Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP).

Darmo juga melihat bahwa okupansi jalan tol ini semakin meningkat, terutama untuk kendaraan truk-truk perkebunan, pertanian, industri pengolahan, pertambangan dan lain-lain. Dengan adanya tol ternyata lahan-lahan yang sebelum hanya berupa lahan tidur, kini berubah menjadi lahan produktif untuk pertanian dan perkebunan. Jadi, kata dia, dengan adanya konektivitas ini ternyata potensi dari pertanian, perkebunan, industri pertambangan bisa berkembang dengan baik.

Menurut Darmo, sucsess story ruas Bakauheni-Terbanggi Besar yang terlihat dari pertumbuhan listrik dan adanya kegiatan ekonomi baru dari daerah-daerah yang tadinya terisolasi sekarang terbuka untuk investasi ini diharapkan bisa di-scalle up di seluruh ruastol JTTS dari Bakauheni sampai ke Aceh. “Adanya akselerasi ekonomi di Lampung ini diharapkan bisa diekstrapolasikan sampai ke Aceh yang sampai saat ini masih terus digarap oleh Hutama Karya,” ujar dia.

Selain data demand listrik yang disampaikan Darmawan Prasodjo, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung juga mencatat, laju pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) Provinsi Lampung pada 2019 terungkit menjadi 5,27 persen dari tahun sebelumnya 5,25 persen.

Sumber: BPS Provinsi Lampung

Kerja Keras Capai Target

PT Hutama Karya (Persero) dipercaya untuk membangun dan mengembangkan proyek-proyek infrastruktur strategis di Tanah Air. Melalui Peraturan Presiden (Peraturan Presiden) No. 100 Tahun 2014 yang kemudian diperbarui dengan PP Nomor117 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera., Hutama Karya diberi tugas untuk membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS). JTTS merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang pembangunannya diprioritaskan pemerintah.

Sesuai mandat pemerintah, Hutama Karya mendapatkan tugas untuk pembangunan dan pengusahaan 24 ruas Jalan Tol Trans-Sumatera sepanjang kurang lebih 2.770 kmdari Lampung hingga Aceh. Sepanjang 2.048 Km di antaranya merupakan koridor utama atau main corridor yang meliputi Lampung–Palembang sepanjang 358 Km, Palembang–Pekanbaru 610 kilometer, Pekanbaru–Medan 548 Km, dan Medan–Banda Aceh 460 Km. Adapun investasi yang diperlukan untuk proyek ini sesuai rancangan awal adalah sebesar Rp 476 triliun.

Pembangunan proyek JTTS dimulai pada Mei 2016 dan diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo adalah ruas Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140 Km pada 8 Maret 2019. Dilanjutkan kemudian ruas tol Terbanggi besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 189 Km diresmikan pada 15 November 2019 dan ruas tol Kayu Agung-Palembang sejauh 33 Km beroperasi per 1 April 2020.

Sampai pertengahan Juli 2020, Hutama Karya yang tahun ini berusia 59 tahun berhasil mengoperasikan 364 Km jalan tol dari 5 ruas. Selain itu, ada ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 Km yang masuk tahap final dan total 771 Km dalam proses konstruksi. Manajemen HK menargetkan tahun ini total ruas JTTS yang sudah beroperasi sepanjang 500 Km.Pemerintah memberi target kepada Hutama Karya untuk merampungkan seluruh ruas tol JTTS pada tahun 2024.

Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto yang baru dilantik 5 Juni lalu menggantikan Bintang Perbowo menyatakan optimistis bisa mengejar target pembangunan jalan tol Trans Sumatera ini. Dia menyatakan dan mengharapkan, Trans Sumatera bisa berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah-daerah di Pulau Sumatera

JTTS diyakini akan menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi, apalagi di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi dunia saat ini akibat Pandemi Covid-19. JTTS juga akan menimbulkan multiplier effect  hingga 3 kali lipat dari PDB seiring dengan terbukanya konektivitas, efisiensi waktu tempuh, memangkas biaya logistik, dan tumbuhnya daerah-daerah ekonomi baru seperti diharapkan Presiden Joko Widodo dan juga harapan kita semua.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar