Jakarta, TopBusiness – PT Delta Dunia Makmur Tbk (IDX: DOID) terus berekspansi di tahun 2024 ini. Hal tersebut terlihat dari serapan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang cukup tinggi di tahun ini.
Menurut Iwan Fuad Salim, Direktur Delta Dunia Group, perseroan fokus pada ekspansi strategis dan diversifikasi. Sehingga belanja modal (Capex) Grup hingga Setember 2024 itu mencapai USD 133,1 juta angka tersebut berarti mencatatkan kenaikan sebesar 79% secara tahunan year on year (YoY).
“Investasi ini (capex) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mendorong pertumbuhan melalui ekspansi di site yang sudah ada, serta biaya Repair and Maintenance (R&M) yang memastikan umur panjang dan efisiensi aset Grup, sejalan dengan panduan Capex sepanjang tahun sebesar USD 150 juta hingga USD 190 juta,” ujar dia, dalam keterangannya, dikutip Senin (23/12/2024).
Secara bersamaan, kata dia, pengelolaan modal kerja yang lebih baik menghasilkan peningkatan arus kas operasional sebesar 2%, mencapai sekitar USD 232 juta. Free cash flow (FCF) tercatat sebesar USD 80,2 juta.
Namun, setelah akuisisi, FCF menurun menjadi USD -35,6 juta akibat investasi strategis, terutama di ACG dan belanja modal yang berkaitan dengan kontrak. “Investasi ini mencerminkan komitmen Grup terhadap pertumbuhan dan membangun legacy yang berkelanjutan,” katanya.
Dia melanjutkan, DOID terus berkomitmen menciptakan nilai bagi para pemegang saham sambil mempertahankan posisi keuangan yang kuat melalui manajemen keuangan yang berhati-hati. Termasuk di dalamnya, menyelaraskan jatuh tempo utang secara strategis dengan usia pakai peralatan operasional.
Per September 2024, Grup mencatatkan rasio Utang Bersih/EBITDA yang sehat sebesar 2,17x. Akuisisi terbaru, seperti Atlantic Carbon Group, Inc. (ACG), diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja dan memperbaiki rasio ini seiring dengan integrasi penuh EBITDA ACG.
Sementara itu, untuk kinerja keuangan per kuartal III-2024, DOID mempertahankan pendapatan stabil sebesar USD 1,35 miliar, dibandingkan dengan USD 1,36 miliar (yoy). Meskipun memang, hal itu menghadapi gangguan operasional yang disebabkan oleh peningkatan curah hujan di Indonesia dan Australia, yang masing-masing meningkat sebesar 38% dan 53%.
Inisiatif pemulihan setelah hujan (recovery after rain) yang efektif membatasi penurunan pengupasan tanah (OB removal) menjadi hanya 9% YoY, sementara produksi batu bara meningkat 3%, mencerminkan efektivitas strategi mitigasi dan ketahanan operasional.
EBITDA Grup turun 16,4% YoY menjadi USD252,3 juta, terutama disebabkan oleh kondisi ekstrem tersebut dan investasi yang direncanakan untuk meningkatkan kapasitas produksi jangka panjang Grup.
Penguatan nilai tukar Rupiah (IDR) dan Dolar Australia (AUD) terhadap Dolar Amerika Serikat (USD), bersama dengan stabilnya tingkat Secured Overnight Financing Rate (SOFR), memungkinkan Grup mengelola tekanan keuangan dengan lebih efektif.
Pada kuartal III-2024, biaya keuangan Grup meningkat sebesar 20% YoY akibat investasi berorientasi masa depan, yang menyebabkan kerugian bersih USD 17,4 juta—membaik signifikan dari kerugian bersih USD26,6 juta pada 1H 2024.
Penting untuk dicatat bahwa kerugian ini terutama disebabkan oleh langkah proaktif yang diambil untuk memperkuat fondasi keuangan Grup, termasuk pembayaran utang lebih awal dan pembelian kembali obligasi.
Tindakan-tindakan ini, meskipun berdampak pada hasil jangka pendek, diharapkan dapat mengurangi beban bunga dan meningkatkan fleksibilitas keuangan Grup dalam jangka panjang.
“Periode 9M 2024 menjadi fase penting lainnya dalam perjalanan transformasi kami, yang ditandai dengan pencapaian-pencapaian signifikan yang memantapkan langkah kami menuju pertumbuhan berkelanjutan,” kata Iwan.
