Jakarta- PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk akan terus berbenah diri untuk memantapkan diri sebagai kawasan wisata bahari terpadu. Hal itu dilakukan dengan penyelesaian rencana induk kawasan dan menjalin kerjasama dengan mitra pengembang.
Menurut Sekretaris Perusahaan Pembangunan Jaya Ancol, Ellen Gaby Tulangow bahwa langkah itu dilakukan untuk meningkatkan nilai jual produk properti.
“Pada saat yang sama kami melakukan renovasi Putri Duyung Ancol, renovasi pompa air, penambahan pompa banjir dan perbaikan infrastruktur guna mendukung kenyamanan konsumen,” kata Ellen di Jakarta, Rabu(24/5/2017).
Ia menjelaskan, langkah diatas juga didukung dengan Inovasi yang direncanakan antara lain; Pengembangan Sea World Ancol, pembangunan coaster dan children playground di Dufan, Lagoon cafe, pembangunan instalasi air limbah bekerjasama dengan PD PAL dan perpanjangan jalur kereta wisata dari area timur sampai area barat Ancol yang dapat menjadi alternatif pilihan inner transportation.
“Diharapkan melalui berbagai upaya yang dilakukan dan pengembangan bisnis dapat meningkatkan kinerja Perseroan dengan tumbuh lebih baik lagi sepanjang 2017,” kata dia.
Untuk diketahui, pendapatan segmen rekreasi dan resor meningkat sebesar 16,21%, dari Rp930,30 Milyar di tahun 2015 menjadi Rp1,080 Triliun di tahun 2016. Adapun peningkatan jumlah pengunjung dari 17,8 juta di tahun 2015 menjadi 18,08 juta di tahun 2016. Sementara pendapatan pada segmen properti tahun 2016 meningkat dari Rp189,99 Miliar di tahun 2015 menjadi Rp199,81 Miliar di tahun 2016 yang sebagian besar didorong oleh penjualan apartemen Northland.
Dengan demikian Per 31 Desember 2016, pendapatan yang berhasil dibukukan Perseroan adalah sebesar Rp. 1,284 Triliun, tumbuh 13.44% dari realisasi Tahun 2015 sebesar Rp1,131 Triliun. Laba Perseroan mengalami penurunan dari Rp291 Milyar di tahun 2015 menjadi Rp131 Miliar di tahun 2016.
Ellen menjelaskan, penyebab penurunan laba Perseroan antara lain; terjadi peningkatan beban lain-lain di antaranya pembatalan penjualan kavling, pencadangan proyek hotel baru yang terhenti dan pengembalian pendapatan rekomendasi atas perpanjangan HPL yang telah diterima Perseroan, Perseroan juga melunasi pembayaran hutang PBB tahun 2014 dan 2015 dan Kondisi pasar properti yang relatif belum bagus serta adanya moratorium reklamasi Teluk Jakarta juga membuat Perseroan menunda penjualan kavling yang telah dianggarkan.(az)