Jakarta, TopBusiness – Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Air Limbah Domestik (UPTD PALD) milik Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat yang mengelola semua limbah domestik ini ternyata sudah memiliki cita-cita menjadi perusahaan nasional.
Bahkan langkah-langkah untuk mewujudkannya pun sudah dijalankan jauh-jauh hari. Dan dengan beraninya, tekad ini pun sudah dicanangkan dalam visi BLUD ini, yaitu, ‘Merajai Pengelolaan Air Limbah Nasional’.
Demikian seperti yang disampaikan oleh Andrea Sucipto Pimpinan BLUD UPTD PALD Kota Bekasi dalam sebuah proses wawancara dengan tim dari TopBusiness yakni Busthomi, Hasna Noor Suhermin, dan Kevin Wisnu saat menyambangi kantor BLUD UPTD PALD ini di kawasan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/2/2025) lalu.
Dalam wawancara itu terungkap, selama ini BLUD kebanggaan masyarakat Kota Bekasi tersebut ternyata sudah banyak menerima kontrak dari perusahaan nasional dan beberapa BUMD dan Dinas dari beberapa kota di Indonesia.
“Saat ini kami sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan-peruahaan besar nasional. Seperti PGN (PT Perusahaan Gas Negara Tbk), McD (McDonald’s Indonesia), Richeese (PT Richeese Kuliner Indonesia), HokBen (Hokben Indoensia). Itu (kerja sama) untuk semua kantor yang ada di Indonesia. Untuk PGN ini semua kantor mereka. Ada 41 lokasi se-Indonesia,” terang Andrea.
Dijelaskannya, langkah itu memang bagian dari mewujudkan visi tersebut. Karena pertama, kata dia, BLUD ini sudah berhasil memiliki branding yang kuat. Branding itu terbentuk lantaran adanya legalitas perizinannya yang kuat, ditopang pengolahan yang selama ini sudah teruji dan pelayanan yang prima, plus adanya integritas pelayanan yang tinggi.
“Kalau ini semua sudah dilalui, maka tinggal menikmati branding kita sendiri. Kenapa bisa dapat kontrak se-Indonesia? Ya, karena kita mengurus perizinan dulu. Kalau tidak seperti itu, ya susah,” ucapnya, bangga.

Diketahui, tak hanya perusahaan nasional itu saja yang sudah menjalin kerja sama dengan BLUD ini. Ternyata, sudah ada kerja sama dengan BLUD sejenis dari Provinsi Bali dan juga Lampung. Selain itu juga beberapa dinas, seperti Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Malang pernah berkunjung ke BLUD UPTD PALD Bekasi ini untuk studi banding.
“Jadi kami ini bukan hanya melayani masyarakat kota Bekasi, tapi juga melayani banyak korporasi di Indonesia,” ucapnya lagi.
Bahkan, dengan statusnya saat ini yang masih sebagai BLUD, dia sudah memiliki tekad jika dalam waktu tak lama lagi akan berubah menjadi BUMD. “Dengan branding kita yang kuat, bayangkan sudah banyak Perusahaan yang percaya kepada kami, sebuah unit (UPTD). Makanya dengan kinerja tersebut, kami sudah punya roadmap, tiga tahun lagi bisa menjadi BUMD,” tekadnya.
Strategi KSO
Dengan kiprahnya selama ini yang sudah menorehkan tinta positif, tentu saja tak lepas dari strategi yang sudah diusungnya itu. Salah satu yang cukup kuat, dan dia mengakuinya, adalah menjalin kereja sama opersional atau KSO.
Dia sadar, dengan armada yang terbatas, maka agar bisa melayani seluruh masyarakat Kota Bekasi, maka langkah KSO itu sangat jitu. Namun dalam menjalankan KSO itu, pihaknya tetap selektif, yaitu dengan perusahaan sedot tinja yang sudah terverifikasi.
“Sehingga KSO-nya itu memang sedikit, akan tetapi yang sudah teregister di kami ada 147 sistem usaha. Cuma yang benar-benar dapat KSO dengan kita ya itu tadi, hanya tiga. Kenapa tiga? Karena yang tiga ini syaratnya betul-betul terverifikasi,” katanya, menjelaskan.
“Karena untuk kode KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) itu ada juga yang belum terverifikasi. Sementara syaratnya itu harus sudah terverifikasi. Jadi yang belum itu bagaimana? Ya teman-teman yang lain itu nanti di bawah perusahaan yang sudah KSO dengan kami. Mereka bermitra. Jadi armada yang ada itu dari pihak lain, sehingga mereka hidup semua,” jelasnya lagi.
Dengan kondisi seperti itu, kata dia, perputaran uang di bisnis ini cukup tinggi. Seperti di tahun 2024 kemarin, dia mengungkap, ada perputaran uang sebanyak Rp47 miliar di bisnis ini, dan sebesar Rp9,8 miliar itu sebagai pendapatan dari BLUD UPTD PALD ini. Dengan begitu, Andrea menegaskan, tugas dari pemerintah untuk menciptakan sistem usaha yang baik, sudah terwujud dengan adanya KSO itu.
“Sementara untuk Silpa (surplus/Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) kami sebesar Rp6,8 miliar. Itu Silpa yang kami dapat di 2024. Atau keuntungan kita. Kalau di BUMD itu laba bersih,” tuturnya.

Ditopang Infrastruktur yang Kuat
Performa yang apik itu memang sudah didukung oleh system yang sudah terdigitalisasi dan infrastruktur mekanis lainnya. Hal ini pun untuk mendukung bahwa Bantargebang nantinya akan menjadi sentra pengolahan sampah saja.
Terkait hal ini, kata dia, juga menjadi keinginan dari Walikota Bekasi terpilih, Tri Adhianto Tjahyono. Dalam satu kesempatan, ketika dirinya diundang oleh walikota Bekasi itu, diketahui bahwa usai walikota berkoordinasi dengan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi dan Gubernur DK Jakarta, Pramono Anung, Bekasi akan menjadi sentra pengolahan limbah.
“Karena di sini ada semua, sampah, limbah, dan lainnya. Makanya kita mengundang pernah perusahaan Australia terkait waste water of treatment untuk membantu tujuan tersebut. Cuma untuk mewujudkannya, perlu dibahas prosesnya seperti apa, kajiannya seperti apa, dan harus seperti apa langkahnya nantinya, dan proses pendanaan juga harus seperti apa yang non APBD itu,” jelas Andrea.
Sejauh ini, kata dia, untuk teknologi pengolahannya, BLUD UPTD PALD Bekasi sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibangun 2016 lalu. Kemudian sebentar lagi akan groundbreaking pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) tahap II. Selanjutnya, juga akan dibangun tahap III dan tahap IV yang diharapkan pendanaannya nanti bersumber dari non APBD.
Apalagi memang, kata dia, dengan adanya instalasi saat ini dirasa masih kurang untuk bisa melayani seluruh masyarakat Kota Bekasi. “Sebetulnya idealnya untuk bisa melayani masyarakat kota Bekasi itu, bukan berapa unit yang dimiliki. Idealnya berapa kapasitasnya. Kalau untuk meng-cover seluruh Kota Bekasi itu dibutuhkan 1.300 meter kubik per hari. Saat ini baru kapasitas 200 meter kubik per hari. Berarti kan pangsa pasarnya itu masih luas,” jelas Andrea lagi.
Untuk itu, dirinya menaruh harapan terhadap daerah tetangga yaitu DK Jakarta agar bisa mengalirkan dananya untuk pembangunan instalasi lainnya. “Ya, kata saya sih, bantu kita bangun. Misalkan nantinya, dari 100% kapasitas yang terbangun itu, ya sebanyak 70% menampung limbah DKI dan 30% menampung limbah Bekasi. Itu baru sinergi yang bagus,” katanya, berharap.
Lebih lanjut ditegaskannya, dengan adanya kinerja yang positif itu, tak aneh jika target ke depannya dari BLUD UPTD PALD ini akan terus meningkat. Jika mengacu dari target yang diamanatkan dari Pemkot, tahun ini pendapatannya ditargetkan sebesar Rp4 miliar dan tahun depan sebesar Rp6 miliar.
Namun begitu, dirinya dan tim tetap memiliki target sendiri, tentu saja melebihi pencapaian tahun 2024 lalu. “Ya, tahun ini, BLUD ini bisa BEP (break even point) lah,” ujarnya mengakhiri, dengan diiringi senyuman.
