Jakarta, TopBusiness – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (IDX: INTP) mengaku masih optimistis kinerja perseroan di tahun 2025 ini. Kendati sektor semen nasional masih penuh tantangan, namun dengan masih banyaknya beberapa proyek nasional bisa menopang kinerja Perseroan.
Salah satu yang diincar oleh perseroan adalah program 3 juta rumah yang tengah didorong pemerintah saat ini. Sehingga di kuartal II atau pasca lebaran kinerja industry semen juga akan kembali ke jalur normal.
“Dengan adanya program 3 juta rumah, idealnya itu 1 juta rumah akan membutuhkan 3 ton, sehingga 3 juta rumah Sembilan ton semen. Itu akan positif ke kinerja industry semen dan juga kami,” tutur Direktur Utama INTP, Christian Kartawijaya, dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (25/3/2025).
Selain proyek 3 juta rumah, proyek lainnya yang bisa menopang kinerja perseroan adalah proyek MRT, LRT, tol Trans Sumatra, new capital city, dan proyek-proyek Gedung yang selama ini tengah digarap perseroan.
“Kami masih memperkirakan kemungkinan permintaan positif sebesar 1%–2% pada tahun ini meskipun ada pengurangan anggaran infrastruktur. Namun kami melihat proyek infrastruktur yang sedang berjalan masih akan diselesaikan, termasuk beberapa proyek baru dan yang sudah ada dari sektor komersial dan industry,” terangnya.
Namun di awal tahun, kata dia, INTP mengakui permintaan semen memang melesu. Hal ini karena adanya musim hujan yang diikuti oleh bulan puasa.
“Sementara program Pemerintah seperti perpanjangan diskon PPN untuk kepemilikan rumah baru, program tiga juta rumah per tahun tadi, dan renovasi sekolah seharusnya menjadi pendorong positif bagi permintaan semen,” katanya.
Untuk itu, selama masa yang penuh tantangan ini, INTP lebih menekankan kebijakan pengendalian biaya, mengidentifikasi area-area yang biayanya dapat dikurangi tanpa mengorbankan kualitas dan layanan.
Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dan bahan baku alternatif juga merupakan salah satu inisiatif utama tahun 2025, khususnya untuk pabrik perseroan di Grobogan, Jawa Tengah dan pabrik yang disewa di Maros, Sulawesi Selatan,kebijakan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga secara ekonomi.
“Jadi, kami mengantisipasi lebih cepat dimulainya kembali aktivitas konstruksi pada awal April 2025 karena tahun lalu kegiatan tersebut jatuh pada minggu kedua April, termasuk kondisi yang lebih baik karena cuaca yang lebih kering,” tandasnya.
