Jakarta, TopBusiness – Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) Elias Ginting menyatakan bahwa ekspor kokas Indonesia menunjukkan tren yang positif hingga Mei 2025.
Berdasarkan data BPS, total volume ekspor kokas mencapai 2,56 juta metrik ton (MT) atau meningkat 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor tercatat sebesar US$ 563 juta, hal ini merupakan dampak dari tekanan pada harga komoditas Kokas di pasar global.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, total ekspor kokas Indonesia mencapai 5,56 juta ton, dengan India sebagai pasar utama yang menyerap sekitar 2,6 juta ton atau 47 persen dari total ekspor nasional.
Berdasarkan data tersebut, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai eksportir kokas terbesar di dunia, hanya sedikit di bawah Polandia (5,88 juta ton) dan China (8,33 juta ton) yang mendominasi pasar global.
Namun demikian, di tahun 2025, porsi ekspor ke India mengalami penurunan signifikan menjadi hanya 21% akibat diberlakukannya kebijakan safeguard oleh Pemerintah India pada semester I ini dan telah diperpanjang sampai akhir tahun 2025.
Meskipun demikian, industri kokas Indonesia mampu memperluas pasar ke negara-negara lain seperti Brasil, Belgia, Vietnam, Italia, dan Turki.
“Pertumbuhan ekspor ini menunjukkan ketahanan industri kokas nasional dalam menghadapi tantangan pasar internasional, termasuk hambatan kebijakan perdagangan dan tekanan harga,” ujar Elias dalam pernyataan resminya, Kamis (17/7/2025).
Kokas merupakan salah satu komponen utama dalam proses produksi baja, khususnya pada teknologi blast furnace, yang digunakan secara luas di berbagai belahan dunia.
Sebagai agen reduktor dan sumber panas, kokas berperan krusial dalam mengubah bijih besi menjadi besi cair sebelum diolah menjadi baja.
Oleh karena itu, permintaan global terhadap kokas sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan industri baja, menjadikannya komoditas strategis dalam rantai pasok industri berat dunia.
APUKN mencatat bahwa Brasil kini menjadi pasar ekspor terbesar kedua setelah India, dengan permintaan mencapai 367 ribu MT atau 14?ri total ekspor, menandakan potensi pasar yang besar di luar pasar tradisional.
Secara global, harga kokas mengalami penurunan seiring dengan menurunnya harga bahan baku utama yaitu coking coal. Namun, penurunan harga kokas tercatat lebih tajam dibandingkan coking coal, yang menyebabkan tekanan terhadap cost produksi Kokas.
“Margin ekspor semakin menipis karena harga jual kokas tidak sebanding dengan biaya produksi dan bahan baku,” jelas Elias.
Dalam kesempatan ini, Elias juga memperkenalkan Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) yang telah resmi berdiri sejak awal tahun 2025, dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM, dan telah melakukan inagurasi pada bulan Mei 2025. Adapun dalam jajaran kepengurusan APUKN, Muhdori Nur Yasin dinobatkan sebagai Dewan Pengawas.
APUKN hadir sebagai wadah resmi pelaku industri kokas di Indonesia, bertujuan memperkuat koordinasi antara pelaku usaha dan pemerintah, serta mendorong penguatan industri hilir batu bara nasional.
