Jakarta, TopBusiness – Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan dunia energi global. Perusahaan energi asal Italia, Eni, menyatakan komitmennya untuk menanamkan investasi senilai 10 miliar dollar AS atau setara dengan Rp165 triliun (kurs Rp16.500) di wilayah lepas pantai provinsi ini.
Rencana investasi itu disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat menghadiri pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Timur di Samarinda, akhir pekan kemarin.
“Investasi yang diminati Eni di Kaltim adalah untuk lapangan produksi gas alam yang berada di lepas pantai wilayah Kaltim (Selat Makassar), yakni ladang gas alam di Blok Jangkrik dan Blok Merakes,” kata Bahlil kepada wartawan di lokasi acara, dikutip dari Antara.
Eni merupakan perusahaan energi multinasional yang berbasis di Roma, berdiri sejak 1953, dan kini beroperasi di lebih dari 70 negara.
Fokus utamanya berada pada eksplorasi, produksi, dan pengembangan hidrokarbon, baik di daratan maupun laut lepas.
Ia optimistis proyek ini dapat mendongkrak kapasitas produksi nasional, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun pasar ekspor. Danantara dan Perusahaan Arab Saudi Bawa Investasi Energi Hijau Rp 162 triliun. “Dengan adanya tambahan produksi dari dua ladang itu, kita berharap bisa mendorong ketahanan energi nasional dan meningkatkan daya saing ekspor gas alam kita,” ujarnya.
Situasi ekonomi global yang tidak menentu, menurut Bahlil, tidak menyurutkan minat investor asing untuk masuk ke Indonesia. Ia menyebut, konflik geopolitik dan ketegangan perdagangan, termasuk perang tarif yang dilakukan Amerika Serikat, menjadi tantangan besar bagi iklim investasi dunia.
Namun ia mengapresiasi kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang disebutnya berhasil menurunkan tarif perdagangan dari Amerika Serikat kepada Indonesia. “Diplomasi Presiden kita berhasil menurunkan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini pencapaian luar biasa di tengah perang tarif global,” kata dia.
Ia menyebut akan ada peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal, serta upaya agar sebagian participating interest (PI) proyek diberikan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. “Kalau PI bisa dimiliki daerah, maka Dana Bagi Hasil (DBH) yang diterima Kaltim akan jauh lebih besar. Ini bentuk keberpihakan terhadap daerah penghasil migas,” ungkapnya.
Dengan masuknya Eni ke Kaltim, pemerintah berharap investasi tersebut dapat mempercepat perputaran ekonomi, memperkuat posisi Indonesia di pasar energi global, sekaligus menjadikan kawasan Indonesia Timur sebagai tulang punggung ekonomi energi nasional.
