TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Semester I Untung Rp 26,53 Triliun, BRI Tetap Jaga Kualitas Kredit

Nurdian Akhmad
31 July 2025 | 11:01
rubrik: Business Info
Semester I Untung Rp 26,53 Triliun, BRI Tetap Jaga Kualitas Kredit

Jakarta, TopBusiness – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI mencetak laba bersih senilai Rp 26,53 triliun hingga semester I-2025. Raihan ini turun 11,25 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu senilai Rp 29,89 triliun.

Apabila memperhitungkan kepentingan non-pengendali, maka laba bersih periode berjalan BRI adalah sebesar Rp26,53 triliun pada Juni 2025.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, kinerja keuangan BRI pada paruh pertama 2025 menunjukkan tren pertumbuhan positif dan berkelanjutan. “Dengan penekanan pada strategi penghimpunan dana murah atau CASA yang berhasil mendorong efisiensi biaya dana dan menopang fundamental bisnis perseroan,” kata dia dalam konferensi pers paparan kinerja semester I, Kamis (31/7/2025).

Mengutip laporan keuangan yang dirilis, Kamis (31/7/2025), perolehan laba bersih ini merupakan yang terendah bagi BRI dalam tiga tahun terakhir untuk periode enam bulan pertama.

Kenaikan beban impairment menjadi pemberat utama kinerja BRI, pasalnya beban tersebut naik 25,8 persen yoy menjadi Rp23,3 triliun di periode Januari-Juni 2025. Adapun, pendapatan bunga bersih BRI sejatinya tumbuh 2,8 persen (yoy) dari Rp71,28 triliun menjadi Rp73,27 triliun hingga paruh pertama tahun ini.

Kendati demikian, BRI mencatatkan kenaikan sejumlah pos beban. Kerugian terkait risiko operasional naik signifikan dari Rp63,89 miliar menjadi Rp686,73 miliar. Selain itu, beban pencadangan atau impairment juga naik 25,8 persen menjadi Rp23,27 triliun.

Terkait fungsi intermediasi, BRI tercatat telah menyalurkan total kredit sebesar Rp1.416,62 triliun per semester I 2025, meningkat 5,97 persen (yoy) dari Rp1.336,78 triliun. Komposisi kredit UMKM tercatat sebesar 80,32 persen dari portofolio pembiayaan perseroan atau setara dengan Rp1.137,84 triliun.

Lebih lanjut, aset bank pelat merah ini pun meningkat 6,52 persen (yoy) menjadi Rp2.106,37 triliun dari sebelumnya Rp1.977,37 triliun.

BACA JUGA:   Menteri Basuki Resmikan Gedung Auditorium dan Entrepreneurship Terpadu Universitas Brawijaya

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross BRI relatif stabil pada level 3,23 persen dibandingkan sebelumnya 3,21 persen. NPL net tercatat bergerak dari 0,86 persen menjadi 0,99 persen.

Terkait pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun BRI meningkat 6,65 persen (yoy) menjadi Rp1.482,12 triliun per semester I 2025, dari sebelumnya Rp1.389,66 triliun.

Dana murah alias current account saving account (CASA) naik 10,6 persen (yoy) menjadi Rp970,94 triliun. Realisasi tersebut mencerminkan rasio CASA sebesar 65,51 persen dari total simpanan BRI hingga semester I 2025.

Terkait rasio kinerja lainnya, margin bunga bersih (net interest income/NIM) BRI menurun dari 6,81 persen menjadi 6,58 persen pada bulan keenam tahun ini. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasian tercatat sebesar 25,01 persen.

Sementara itu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan-to-deposit ratio (LDR) BRI berada pada level 84,97 persen per semester I 2025.

Jaga Kualitas Kredit

Terkait daya beli yang melemah, Direktur Manajemen Resiko BRI, Mucharom, menambahkan,  ada beberapa strategi BRI untuk menjaga kualitas kredit terutama bagi UMKM.

“Bahwa kami tentunya secara konsisten menempatkan kualitas kredit dalam pembiayaan, termasuk UMKM fokus kami menerapkan berbagai strategi bahwa penyaluran akan tetap sehat, tepat sasaran dan berkontribusi terhadap pertumbuhan nasional,” ujar Mucharom.

Menurut dia, pengelolaan risiko BRI menjadi poin yang sangat penting dan saat ini pengelolaan risiko organisasi difokuskan pada masing-masing segmen dalam penyaluran kredit selektif.

“Kemudian kami menyempurnakan model assesment sehingga kredit model lebih prediktif dan granular masing-masing bisa membaca dan termasuk di beberapa region kemudian EWS dalam monitoring dari digital collection. Kami juga menguatkan fungsi remidy dan recovery dari sisi mikro dan konsumer market kami,” ujar Mucharom.

Tags: brikinerja BRI
Previous Post

Di Pembukaan Perdagangan, IHSG Menipis

Next Post

5 Kemampuan Penting Generasi Muda, Versi Wamenperin

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR