Jakarta, TopBusiness –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), memperingati 48 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia (HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia) yang mengusung tema “Mewujudkan Ekonomi Mandiri, Berdaulat, dan Maju Bersama”.
Dalam perayaan ini, SRO memaparkan pencapaian dan target ke depan. KSEI pun membeberkan keberhasilan sepanjang tahun ini. Salah satunya terkait dengan pencapaian jumlah investor pasar modal.
Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat mengatakan, berkat berkat dukungan penuh regulator dan pelaku pasar lainnya adalah peningkatan jumlah investor pasar modal yang mencapai 18% menjadi 17,59 juta. Hal ini berarti bertambah 2,7 juta investor, sampai dengan 8 Agustus 2025.
“Berdasarkan jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya berjumlah 7,5 juta (meningkat 17%), reksa dana 16,6 juta (meningkat 18%), dan investor Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak 1,3 juta (meningkat 9%),” ujar dia, di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/8/2025).
Berdasarkan komposisi kepemilikan aset oleh individu dan institusi, investor institusi mendominasi nilai aset dengan porsi mencapai 79,04%. Sedangkan untuk komposisi aset lokal-asing, aset yang dimiliki investor lokal tercatat sebesar 62,19%.
Nilai aset yang tercatat di C-BEST mencapai Rp8.927 triliun. Sementara itu, nilai Asset Under Management di S-INVEST tercatat sebesar Rp836,87 triliun.
“Jika di-breakdown lagi, dari jumlah tersebut sebanyak 50% adalah usia kurang dari 30 tahun, sebanyak 52% dengan penghasilan Rp10-100 juta, dan sebesar 61% yaitu berpotensi sebagai pegawai,” jelas dia.
Selain itu, sepanjang tahun 2025, KSEI telah melakukan 4.727 distribusi tindakan korporasi dengan nilai sebesar Rp407 triliun, dengan nilai tindakan korporasi saham sebesar Rp176,41 triliun dan EBUS sebesar Rp230,90 triliun.
Adapun berdasarkan sebaran investor domestik, pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan jumlah investor dan nilai aset terbesar, namun potensi pengembangan pasar modal di wilayah lain di Indonesia sangat terbuka lebar.
Sepanjang tahun 2025, aset investor di berbagai daerah seperti Sumatra, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan tren peningkatan. Menyadari hal ini, KSEI bersama SRO dan OJK terus berkomitmen memperluas edukasi serta mendorong inklusi keuangan hingga ke pelosok negeri.
