Jakarta, TopBusiness – Masa depan sistem pembayaran Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada kecepatan dan efisiensi transaksi. Lonjakan ancaman siber, maraknya pencurian data, dan meningkatnya kompleksitas fraud mendorong industri untuk menempatkan keamanan pertukaran data, ketersediaan infrastruktur berbagi, serta kolaborasi lintas sektor sebagai prioritas utama.
Isu ini menjadi sorotan dalam Jalin CX Summit 2025, forum tahunan yang digelar PT Jalin Pembayaran Nusantara (“JALIN”) bagian dari Holding BUMN Danareksa di Yogyakarta dengan tema panel Building Collective Readiness Against Evolving Fraud Threats in Financial Industry.
Forum ini menghadirkan perwakilan regulator, lembaga keamanan siber, asosiasi fintech, perbankan, dan penyedia teknologi global untuk membahas arah baru ekosistem pembayaran nasional di tengah percepatan digitalisasi layanan keuangan.
“Ketahanan ekosistem digital Indonesia sangat bergantung pada kepercayaan publik,” kata Direktur JALIN Eko Dedi Rukminto dalam keterangan tertulis, Senin (11/8).
Menurut Eko, isu tersebut bukan hanya persoalan industri, tetapi bagian dari kepentingan nasional. Dia menggarisbawahi soal perlunya menjamin perlindungan atas transaksi masyarakat, data keuangan tetap berdaulat, dan inovasi yang tetap berkembang sejalan dengan keamanan.
Sebagai perwakilan industri, Wakil Sekjen II Asosiasi Fintech Indonesia Saat Prihartono menyatakan, asosiasi mendorong kolaborasi antara pelaku fintech, perbankan, dan regulator untuk membangun standar pencegahan fraud yang konsisten, serta dapat diterapkan lintas platform.
Dari sisi regulator, Kepala Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Farida Peranginangin, mengatakan, BI menghadirkan regulatory sandbox sebagai sarana bagi perbankan, fintech, dan penyedia teknologi untuk menguji model bisnis baru secara terukur sebelum diterapkan secara luas.
Pendekatan ini dikatakan mempercepat pemanfaatan teknologi pembayaran yang lebih efisien dan inklusif, sembari memastikan standar keamanan dan tata kelola tetap terjaga.
“Infrastruktur pembayaran yang aman dan interoperabel adalah prasyarat utama untuk membangun kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, inovasi tak akan punya ruang tumbuh,” ujar Farida.
Ia menambahkan, bank sentral tidak hanya mengatur tetapi turut menjadi katalis inovasi pembayaran digital.
Adapun, Cybersecurity Ventures memproyeksikan kerugian global akibat kejahatan siber akan menembus USD10,5 triliun pada 2025. Isu ini jelas akan menjadi ancaman bagi perekonomian.
Di Indonesia, BSSN mencatat lebih dari 330 juta anomali siber sepanjang 2024. Ini menyiratkan tingginya intensitas serangan terhadap sektor digital nasional.
Sementara itu, IBM Cost of a Data Breach 2024 melaporkan rata-rata kerugian kebocoran data di Asia Tenggara mencapai USD3,2 juta per insiden, dengan sektor keuangan menjadi salah satu target utama.
