Jakarta, TopBusiness – Program pengembangan masyakat atau PPM PT Pertamina EP CEPU (PEPC) Zona 12, salah satunya, mengelola sampah agar bermanfaat bagi lingkungan itu sendiri dan khususnya masyarakat sekitar serta memberikan kontribusi nilai ekonomis.
PPM di wilayah kerja operasi (WKP) Blok Cepu adalah program Biru Langit Jambaran Tiung Biru. Ini program pengelolaan limbah domestik terintegrasi, tentunya program hijau tersebut dalam rangka menyelamatkan bumi dari gempuran sampah. Sampah pada akhirnya ‘menghijaukan’ bumi dan memberdayakan masyarakat di lingkungan operasional PEPC CEPU.
Ditegaskan Edi Arto selaku Officer Communication Relation &CSR PEPC, program gagasan PEPC ialah dalam turut menyelamatkan bumi. “Ini sejalan dengan aturan dalam ISO 26000, serta creathing shared value (CSV) dan menerapkan environment, social and governance (ESG) serta SDGs di setiap operasional PEPC. Sebagai perusahaan energi milik anak bangsa ini turut melakukan pratik yang terpuji atas penyelamatan bumi,” kata dia kepada TopBusiness.id pada kegiatan Media Visit JABANUSA, beberapa waktu lalu.
Program hijau terintegrarsi dapat memberdayakan kelompok peternak ikan, maggot, dan ruminasi pakan ternak kambing, sapi dan ayam.
Menurut Edi, program PEPC ini menggerakkan masyarakat akan sadar lingkungan atau lebih dikenal dengan ‘Si Imut My Darling’, program ini merupakan salah satu program pelibatan dan pengembangan masyarakat dari PT Pertamina EP CEPU (PEPC) ZONA 12 yang berfokus pada pengelolaan limbah sampah domestik.
Program ‘Si Imut My Darling’ diinisiasi PEPC sejak 2019 di Desa Sendangharjo, Ngasem, bersama dengan bantuan salah satu local hero yang bernama Imam Muhlas.
Program ini dilatarbelakangi rendahnya kesadaran masyarakat di sekitar JTB terhadap pengelolaan limbah domestik, dan fasilitas pengelolaan limbah dan sampah yang belum memadai.
Program ini telah berjalan selama kurang lebih 5 tahun dengan berbagai macam inovasi, seperti, pemanfatan limbah domestik untuk budidaya larva/magoot BSF (Black Soldler Fly), pengelolaan limbah domestik terintegrasi, pemanfaatan teknologi sederhana dan tepat guna (fast pyrolsis) hinga menjadi model gerakan zero waste yang bernilai ekonomi.
Melalui budidaya larva/maggot BSF, menghasilkan beberapa produk seperti pakan lele, pakan ayam dan ungags. Limbahnya pun masih bisa dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman sebagai pupuk pertanian. Jadi seluruh limbahnya termanfaatkan menjadi produk bermutu.
Selain itu, sampah plastik diolah menggunakan teknik fast pyrolsis untuk menghasilkan bahan bakar kendaraan bank sampah keluarga harapan (BSMKH). Untuk mendukung kegiatan operasionalnya seperti mengangkut sampah dan limbah di wilayah sekitar.
Program telah mendapatkan penghargaan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bojonegoro sebagai juara harapan 1 pada “Gelar Cipta Inovasi Teknologi Teknologi Tepat Guna”.
Selanjutnya, Indonesia Corporate Social Sustainability Award (ICSA) 2024 pada kategori Best Practice In Circuler Economy Project.
“Dengan diraihnya beberapa penghargaan dapat menjadi semangat masyarakat untuk terus sadar dan peduli dalam mengelola sampah dan limbah yang ada di sekitar. Tidak hanya desa Sendangharjo, tetapi juga diharapkan bisa menurunkan virus baiknya di desa tetangga sekitar Wilayah Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru,” pungkasnya.

