Jakarta, TopBusiness – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (IDX: CSRA) mengumumkan hasil kinerja keuangan dan operasional untuk periode kuartal ketiga yang berakhir pada 30 September 2025 (9M25).
Selama sembilan bulan pertama tahun 2025 itu, CSRA melaporkan, berkat adanya efisiensi dan inovasi telah menghasilkan hasil yang positif. Ini didukung dengan peningkatan penjualan serta penekanan pada biaya yang ketat. Dengan begitu, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp1,33 triliun, meningkat dari Rp758,78 miliar pada 9M24.
“Hal ini didorong oleh peningkatan produksi CPO dan Kernel yang sangat signifikan sehubungan dengan telah beroperasinya ketiga PKS Perusahaan serta peningkatan harga jual rata-rata yang lebih tinggi secara tahunan,” ujar Seman Sendjaja, Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/10/2025).
Tercatat, harga jual CPO meningkat sekitar 15,7% YoY pada 9M25, sedangkan harga jual TBS dan kernel juga naik masing-masing sebesar 24,3% dan 69,4% YoY.
Dengan kondisi itu, kata dia, perusahaan memperkirakan terjadi pertumbuhan produksi jangka panjang, mengingat sebagian besar tanaman yang telah memasuki usia prima.
“Perusahaan secara aktif melakukan penanaman ulang yang berkelanjutan dengan varietas benih berkualitas tinggi. Makanya, CSRA memprioritaskan peningkatan hasil Tandan Buah Segar di perkebunan yang ada dengan secara sistematis menerapkan strategi pemupukan yang terukur,” katanya.
Pendekatan proaktif ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memastikan keberlanjutan jangka panjang operasional Perusahaan. Pada 9M25, yield TBS berada di angka 14,1 ton/ha, meningkat dari 13,6 ton/ha yang dicapai pada 9M24 akibat praktik agronomi yang mumpuni.
Laba Bersih
Lebih jauh ditegaskannya, pengelolaan yang baik ini membuat Perusahaan berhasil memperoleh laba kotor sebesar Rp479,26 miliar pada 9M25, mencerminkan peningkatan 38,4% dibandingkan Rp346,38 miliar pada 9M24, dengan marjin 35,9% pada 9M24, turun dari 45,6% pada 9M24.
Pertumbuhan laba kotor terutama didukung oleh peningkatan penjualan yang berhasil diraih oleh Perusahaan.
Adapun untuk laba operasi 9M25, CSRA mencatat sebesar Rp302,42 miliar, yang menunjukkan peningkatan 43,9% dibandingkan Rp210,04 miliar pada 9M24, dengan marjin 22,7%, dibandingkan 27,7% pada periode yang sama tahun lalu.
“Kinerja laba operasi yang baik ini berdampak positif pada melinjaknya laba bersih 9M25 yang kuat sebesar Rp213,92 miliar, meningkat 70,6% YoY dari Rp125,39 miliar pada periode yang sama tahun lalu,” ujarnya.
Total aset per 30 September 2025 berada di level Rp2,53 triliun, meningkat sebesar 12,4% dari posisi FY24 sebesar Rp2,25 triliun. Peningkatan yang paling signifikan berasal dari aset lancar yang produktif dan likuid, dimana aset lancar pada 9M25 meningkat sebesar 36,8% dibandingkan FY24.
Sedangkan aset tidak lancar meningkat 6,1% dari Rp1,79 triliun menjadi Rp1,89 triliun pada periode ini dimana peningkatan terbesar berasal dari peningkatan jumlah aset tetap setelah dikurangi akumulasi penyusutan.
Total liabilitas pada 9M25 mencapai Rp1,03 triliun, meningkat sebesar 8,2% dibandingkan dengan akhir 2024.
Dengan utang bank jangka panjang mencapai Rp657,67miliar, mencerminkan penurunan 6,3% dibandingkan posisi pada akhir 2024 setelah dikurangi dengan jatuh tempo saat ini. Selain itu, liabilitas lancar meningkat sebesar 48,8% seiring pembayaran pinjaman bank jangka panjang yang telah jatuh tempo.
Posisi ekuitas berada di level Rp1,50 triliun per 30 September 2025, meningkat sebesar 15,5% dibandingkan posisi pada akhir 2024 akibat peningkatan laba ditahan dari lonjakan pendapatan periode saat ini. Posisi keuangan CSRA menegaskan niat manajemen untuk meningkatkan operasi bisnis dan praktik manajemen.
“Strategi ini merupakan indikator penting dari keberlanjutan jangka panjang perusahaan dan potensi pertumbuhannya. Fondasi keuangan yang solid ini memposisikan perusahaan untuk tahan dalam menghadapi fluktuasi pasar secara efektif dan mengejar peluang strategis,” pungkasnya.
