Jakarta, TopBusiness — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berkomitmen untuk memperkuat ekspor nasional melalui pelibatan lebih luas pelaku UMKM dalam rantai perdagangan global. Upaya ini dilakukan melalui program UMKM BISA Ekspor, yang dirancang untuk mempermudah akses pasar, menyediakan pelatihan, serta memastikan standarisasi produk agar sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
Dalam Strategic Forum bertema “Perluasan Pasar Ekspor ke Peru dan Tunisia: Potensi, Peluang, dan Tantangan IP-CEPA dan IT-PTA” yang digelar di Pusat PPEJP Kemendag pada Selasa (25/11/2025), Mendag menekankan bahwa strategi business matching baik secara online maupun offline menjadi kunci bagi UMKM untuk menembus pasar global.
Ia menambahkan, pemerintah membuka akses pasar ke Peru dan Tunisia agar UMKM bisa memanfaatkan perjanjian dagang secara maksimal. “Mari kita manfaatkan peluang dagang ini dengan Tunisia, dengan Peru,” katanya.
Budi juga menyoroti kemudahan yang ditawarkan lewat pemanfaatan perjanjian dagang, termasuk tarif nol persen dan sistem pengurusan Surat Keterangan Asal (SKA) preferensi yang kini berjalan otomatis. “Tidak akan salah mengisi yang Most Favoured Nation (MFN) misalnya. Otomatis kalau nol ya sudah, di sistem kita akan nol persen,” jelasnya.
Mendag turut memaparkan capaian positif perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan tercatat meningkat 50,93 persen hingga September 2025, sementara ekspor tumbuh 8,14 persen, melampaui target 7,1 persen tahun ini. Ia menekankan bahwa pelaku usaha, termasuk BUMN, harus lebih agresif mencari mitra dagang dari berbagai negara.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, menyampaikan bahwa diversifikasi pasar menjadi strategi penting di tengah dinamika ekonomi kawasan Asia-Pasifik.
“Penandatangan Indonesia-Peru CEPA memperkuat strategi diversifikasi, termasuk di Amerika Selatan dan Asia Tenggara,” ujar Djatmiko. Ia berharap forum strategis semacam ini dapat dimanfaatkan untuk membahas potensi, peluang, serta tantangan implementasi berbagai perjanjian dagang.
Forum yang dihadiri sekitar 200 peserta, baik secara daring maupun tatap muka, ini melibatkan akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha domestik. Djatmiko berharap seluruh peserta dapat memaksimalkan pemanfaatan perjanjian dagang melalui business matching dengan negara mitra yang relevan.
