Jakarta, BusinessNews Indonesia—Menurut Analis Bahana Sekuritas Henry Wibowo, rendahnya penyaluran kredit perbankan pada tahun lalu, lantaran korporasi dan UKM (usaha kecil menengah) menahan diri untuk melakukan ekspansi usaha sehingga permintaan kredit cukup rendah.
Namun, tahun ini, permintaan kredit akan berangsur membaik dengan perkiraan tumbuh sekitar 10%, yang utamanya berasal dari kredit infrastruktur badan usaha milik negara (BUMN).
”Permintaan kredit investasi pada tahun ini akan beranjak naik, karena tahun ini adalah saat yang pas untuk melakukan berbagai aksi korporasi besar sebelum memasuki Pilpres tahun depan,” kata Henry kepada wartawannya majalahnya BusinessNews Indonesia di Jakarta hari ini.
Selain itu, kredit konsumer khususnya dari kredit pemilikan rumah (KPR) diprediksikan masih akan tumbuh, diikuti peningkatan kredit modal kerja.
Henry meyakini bahwa membaiknya pertumbuhan kredit di segmen-segmen tersebut akan sejalan dengan meningkatnya kualitas kredit yang bakal tercermin pada penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).
“Sehingga tren penurunan biaya pencadangan yang disisihkan industri perbankan untuk menutupi NPL masih akan terus berlanjut sepanjang 2018,” paparnya.
Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan kredit perbankan dapat dikatakan masih alami kontraksi.
Pasalnya, kredit yang biasanya tumbuh double digit, hingga akhir tahun 2017 masih tumbuh di bawah 10%.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memerlihatkan kredit hanya tumbuh 8,35% secara tahunan pada akhir tahun lalu.
