Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia meningkat dibuka di level 8.991, dengan kenaikan sekitar 55 poin (0,62 persen).
Pada pembukaan sesi I, indeks menunjukkan kenaikan signifikan yang mendekati level psikologis penting 9.000 poin, seiring mayoritas saham mencatatkan penguatan.
Sentimen Penguat IHSG
Penguatan pagi ini terjadi di tengah beragam sentimen positif dari dalam dan luar negeri:
- Penguatan bursa global – Bursa utama di Asia dan Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan lalu, memberi momentum risk-on kepada pelaku pasar Indonesia pada pembukaan perdagangan hari ini.
- Rapor saham yang mayoritas naik – Ratusan saham emiten tercatat mengalami kenaikan pada awal sesi perdagangan, sedangkan yang melemah relatif lebih sedikit, mencerminkan market breadth yang sehat.
- Data fundamental pasar – Aktivitas perdagangan pagi ini dipenuhi oleh volume dan frekuensi transaksi yang solid, menunjukkan partisipasi investor yang masih tinggi di awal pekan.
Analisis Teknikal dan Potensi Pergerakan Selanjutnya
Dari sisi teknikal, analis memperkirakan IHSG potensial melanjutkan penguatannya dalam jangka pendek, terutama jika indeks berhasil menembus kembali level 9.000 secara konsisten. Resistance terdekat berada di sekitar 9.000–9.020, sedangkan area support jangka pendek diperkirakan di sekitar 8.900–8.920. Penguatan ini masih mendapat sokongan dari aliran modal asing yang mulai kembali memasuki pasar setelah libur panjang akhir tahun.
Namun, analis juga mencatat beberapa catatan kewaspadaan berupa aksi profit-taking, setelah IHSG sempat menyentuh level psikologis tinggi dapat menimbulkan volatilitas jangka pendek. Pelaku pasar pun sedang mengamati rilis data ekonomi domestik dan respon terhadap perkembangan ekonomi global, seperti keputusan kebijakan suku bunga di AS.
Sentimen Global dan Tantangan Makro
Selain faktor teknikal, kondisi makro global turut memberi impact terhadap IHSG. Pergerakan bursa saham AS yang cenderung menguat akhir pekan lalu menjadi salah satu catalyst positif, namun risiko volatilitas tetap ada jika muncul ketidakpastian geopolitik atau perubahan arah kebijakan moneter global.
Data pendukung: AI
