Jakarta, TopBusiness — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan industri alas kaki nasional merupakan salah satu penopang utama sektor padat karya di Indonesia, sekaligus memiliki peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial nasional. Di sisi lain, kalangan pelaku industri ini menargetkan nilai ekspor alas kaki nasional dapat menembus US$ 10 miliar atau sekitar Rp169 triliun dalam tiga tahun ke depan.
Kontribusi industri alas kaki terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan tercatat mencapai 1,2 persen pada kuartal III-2025, sementara dari sisi ketenagakerjaan sektor ini menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025.
“Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, industri alas kaki nasional menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat. Pada 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13 persen dan mencapai US$7,28 miliar. Capaian ini mencerminkan daya saing yang tetap terjaga di pasar global,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Kamis (22/1/2026).
Sejalan dengan kinerja ekspor, kepercayaan investor terhadap sektor alas kaki juga terus meningkat. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2024 mencapai US$ 859 juta, dan hingga Semester I-2025 telah menembus US$ 803 juta. Tingginya minat investasi tersebut tercermin dari tingkat utilisasi industri yang konsisten berada di atas 80 persen, menandakan kapasitas produksi yang optimal dan prospek usaha yang positif.
Meski demikian, Airlangga mengingatkan masih terdapat tantangan eksternal, termasuk penerapan kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Karena itu, Pemerintah mendorong percepatan implementasi Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) sebagai strategi diversifikasi dan penguatan pasar ekspor.
“Oleh karena itu, Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka. Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujarnya.
Dalam menjaga resiliensi industri alas kaki, Pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan, antara lain penguatan pasar domestik melalui Permendag Nomor 23 Tahun 2025 terkait pengaturan impor barang konsumsi, pemberian stimulus fiskal tenaga kerja melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah sesuai PMK Nomor 10 Tahun 2025, penyediaan Kredit Investasi Padat Karya melalui Permenko Nomor 4 Tahun 2025, serta fasilitasi ekspor lewat optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor.
Di sisi pelaku usaha, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menargetkan nilai ekspor alas kaki nasional dapat menembus US$ 10 miliar atau sekitar Rp169 triliun dalam tiga tahun ke depan. Hingga November 2025, realisasi ekspor alas kaki tercatat sebesar US$ 7,2 miliar, tumbuh 13,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Aprisindo memproyeksikan hingga akhir 2025 nilai ekspor mencapai US$ 7,8–US$ 7,9 miliar.
Ketua Dewan Pembina Aprisindo Eddy Widjanarko menyatakan optimisme peningkatan ekspor tersebut didukung oleh peluang pasar Uni Eropa melalui IEU-CEPA. “Kami mempunyai cita-cita dan kami yakin akan berhasil, bahwa di tahun 2028 atau maksimum di tahun 2029, kami akan mencapai minimal US$ 10 miliar,” ujarnya.
Aprisindo berharap perjanjian IEU-CEPA dapat segera diratifikasi sebelum 2027. Saat ini, ekspor alas kaki Indonesia ke Uni Eropa masih memanfaatkan skema Generalized System of Preferences (GSP) dengan tarif bea masuk di kisaran 5–12 persen. Namun, Indonesia dijadwalkan keluar dari skema tersebut pada Januari 2027 karena statusnya sebagai negara berpenghasilan menengah atas.
Ketua Bidang Perdagangan dan Perundingan Internasional Aprisindo Devi Kusumaningtyas menilai ratifikasi IEU-CEPA menjadi krusial agar industri alas kaki Indonesia dapat menikmati tarif 0 persen ke pasar Uni Eropa. “Kalau IEU-CEPA belum diratifikasi, tarif ekspor bisa menjadi lebih tinggi. Kami menunggu supaya industri benar-benar bisa menikmati 0 persen dan menggantikan pasar yang saat ini melemah di Amerika dan negara lain,” ujarnya.
