Jakarta, TopBusiness – Perumda Air Minum Giri Tirta Sari Kabupaten Wonogiri menempatkan inovasi dan digitalisasi sebagai strategi utama dalam menuntaskan persoalan kekeringan air bersih, terutama di wilayah selatan yang selama ini dikenal rawan krisis sumber air.
Direktur Perumda Air Minum Giri Tirta Sari, Drs. Sumarjo, MM, menyampaikan perusahaan memegang mandat ganda sebagai entitas bisnis sekaligus pelayan publik. Karena itu, keseimbangan antara keuntungan dan fungsi sosial terus dijaga dalam setiap kebijakan.
“Perumda didirikan untuk memberikan jasa pelayanan umum dalam penyediaan air minum dan juga memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip ekonomi, di samping mempunyai fungsi sosial,” ujar Sumarjo saat wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2026, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, visi perusahaan adalah mewujudkan perusahaan air minum yang sehat, profesional, mandiri, menuju pelayanan prima.
Dari sisi kinerja, Perumda mencatat capaian menggembirakan. Berdasarkan indikator Kementerian PUPR, tingkat kesehatan perusahaan pada 2024 memperoleh nilai 3,47 atau berada dalam kategori sehat.
Jumlah sambungan pelanggan mencapai 42.980. Kualitas air dinyatakan memenuhi syarat air bersih, rata-rata layanan mengalir 21,14 jam per hari, sementara tingkat kehilangan air berada di angka 22,34 persen.
Namun pekerjaan rumah terbesar masih berada di kawasan selatan. Karakter wilayah karst membuat air baku sulit didapat, sehingga beberapa kecamatan rutin menghadapi kekeringan.
Menghadapi kondisi itu, manajemen melakukan pengeboran sumur dalam di lokasi potensial berbasis kajian geolistrik dan geosonar. Selain itu, dibangun jaringan distribusi dan instalasi pengolahan agar air dapat langsung dimanfaatkan warga.
“Program tersebut sekaligus menjawab target pemerintah daerah untuk memperluas akses. Dari target 4.000 sambungan rumah di wilayah rawan, realisasi telah mencapai 4.917 sambungan,” terang Sumarjo.
Sumarjo menilai keberhasilan itu tidak lepas dari transformasi digital yang menyentuh sisi internal maupun eksternal perusahaan. Untuk pelanggan, hadir aplikasi PDAM Wonogiri Mobile yang memudahkan laporan gangguan, pendaftaran baru, pengecekan hasil baca meter, hingga pembayaran online.
Sementara dari sisi manajemen pendapatan, kebijakan cashless payment mendorong tingkat pelunasan rekening hingga 99 persen. Perusahaan juga dapat menutup sekitar 20 loket sehingga pegawai bisa dialihkan ke bidang lain dan biaya tenaga kerja lebih efisien.
“Pembacaan meter pun memakai aplikasi digital. Dengan sistem ini, petugas wajib datang ke lokasi pelanggan sehingga data lebih akurat dan potensi kehilangan pendapatan dapat ditekan,” ujar Sumarjo.
Tak hanya fokus pada bisnis, Perumda menjalankan program lingkungan berkelanjutan seperti penggunaan energi surya pada sejumlah sumur, efisiensi melalui pembentukan district meter area, serta bantuan bibit pohon di kawasan sumber air.
Menurut Sumarjo, manfaat terbesar dari seluruh langkah tersebut adalah perubahan nyata bagi warga. Akses air bersih kini lebih dekat, ketergantungan pada pasokan mobil tangki berkurang, dan beban ekonomi masyarakat ikut menurun.
