Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah pada perdagangan Jumat (6/3/2026) pagi. Pada awal sesi perdagangan, IHSG turun 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47 dari posisi penutupan sebelumnya.
Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks LQ45 yang berisi 45 saham dengan tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar juga mengalami penurunan. Indeks LQ45 tercatat turun 1,61 poin atau 0,20 persen ke level 786,21.
Pada awal perdagangan pagi, aktivitas transaksi di pasar saham terpantau cukup aktif. Tercatat sebanyak sekitar 252 ribu kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai sekitar 4,6 miliar saham. Nilai transaksi yang terjadi di pasar reguler diperkirakan mencapai sekitar Rp2,65 triliun.
Pergerakan saham pada pembukaan perdagangan menunjukkan tekanan jual yang masih cukup dominan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar bergerak bervariasi dan turut memengaruhi arah pergerakan indeks. Saham-saham sektor perbankan seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tercatat bergerak fluktuatif. Sementara itu, saham emiten telekomunikasi Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan konglomerasi Astra International Tbk (ASII) juga ikut mewarnai pergerakan indeks.
Selain sektor perbankan, saham-saham sektor energi seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menjadi perhatian pelaku pasar seiring dengan pergerakan harga komoditas global yang masih berfluktuasi.
Secara sektoral, sebagian besar sektor bergerak variatif dengan kecenderungan melemah pada awal perdagangan. Sektor keuangan dan sektor teknologi menjadi salah satu penekan indeks, sementara sektor energi dan sebagian saham komoditas relatif mampu menahan pelemahan lebih dalam.
Pelemahan IHSG pada awal perdagangan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, investor masih mencermati dinamika pasar global, termasuk perkembangan geopolitik serta arah kebijakan suku bunga bank sentral di negara maju yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.
Selain itu, pergerakan harga komoditas global seperti minyak dan logam juga turut memberikan sentimen terhadap saham-saham berbasis komoditas di dalam negeri. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi investasi.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga memantau perkembangan nilai tukar rupiah serta sejumlah indikator ekonomi yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Aksi ambil untung setelah penguatan indeks pada beberapa sesi sebelumnya juga menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan IHSG pada awal perdagangan hari ini.
Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah bergerak di area psikologis 7.700. Beberapa analis menilai indeks berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dalam jangka pendek sambil menunggu sentimen baru dari pasar global maupun domestik.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai koreksi yang terjadi masih tergolong wajar dan dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat, terutama pada sektor perbankan, energi, dan komoditas yang masih memiliki prospek kinerja yang cukup baik.
(Data: AI)
