Jakarta, TopBusiness – Penyerangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu memicu eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dilatarbelakangi tuduhan pengembangan program nuklir Iran.
Konflik itu membuat adanya kebijakan penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pelayaran kapal tanker minyak di kawasan Timur Tengah. Hal itu berimplikasi pada lonjakan kenaikan harga minyak mentah brent berada pada level 84 USD per barel pada 3 Maret 2026 dan menjadi tertinggi pada Januari 2026.
Di saat bersamaan, kenaikan harga energi global di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri berpotensi menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia serta ketahanan sektor usaha, terutama UMKM.
Abdul Manap Pulungan, Peneliti Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menjelaskan Ramadhan dipandang sebagai peluang dan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Adanya dinamika global seperti perang mempengaruhi stabilitas ekonomi.
“Potensi tersebut terlihat dari penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) yang mendorong lonjakan permintaan pangan, sandang, transportasi, serta mudik. Namun, ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri sering terjadi lonjakan inflasi terutama pada komponen volatile food dan administered prices yang menyebabkan peran THR tidak begitu signifikan menaikkan daya beli,” jelasnya, dalam diskusi INDEF, “Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang,” Senin (9/3/2026).
Kondisi yang demikian diperparah oleh kenaikan harga BBM, kemacetan saat mudik, serta dampak konflik global yang mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku.
Kata dia, dampak ekonomi Ramadhan dan Idul Fitri tercermin dari pertumbuhan M1 yang meningkat, namun pertumbuhannya melambat dalam beberapa tahun terakhir. “Hal ini mengonfirmasi pelemahan daya beli,” ujarnya.
Sementara itu, peningkatan konsumsi, kata dia, lebih banyak terjadi pada kelompok berpendapatan tinggi sedangkan kelas menengah ke bawah semakin tertekan.
Afaqa Hudaya, Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan INDEF, menjelaskan kondisi pangan dan energi dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang berdampak pada stabilitas harga.
Menurut data World Bank, harga pangan global relatif mulai membaik dari sisi pasokan meskipun pada level tertinggi.
Di Indonesia, tekanan inflasi terlihat pada administered prices yang naik 12,66% (yoy) serta volatile food yang cenderung meningkat, terutama saat Ramadhan.
Pada Februari 2026, volatilitas harga mulai moderat, namun komoditas seperti beras medium dan gula masih mengalami kenaikan, sementara bawang merah dan cabai naik akibat distribusi yang terpusat.
Dari sisi energi, konflik geopolitik terutama antara AS–Israel dan Iran meningkatkan risiko pasokan minyak global, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz. Harga minyak brent sempat menyentuh 90 USD per barel dan diproyeksikan dapat meningkat hingga 114,17 USD per barel pada Mei 2026.
“Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan karena neraca migas 2016–2025 terus mengalami defisit akibat status sebagai net importer, yang sensitif terhadap kenaikan harga minyak global,” kata Afaqa.
Rencana pengalihan impor minyak ke Amerika Serikat juga berpotensi memperlebar defisit dan menimbulkan inefisiensi pada proses pengolahan kilang domestik.
“Sehingga, dengan adanya konflik antara Amerika dan Iran, ketergantungan impor energi Indonesia diprediksi akan semakin besar dan semakin sensitif terhadap pergerakan harga global,” jelasnya.
Nur Komaria, Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM, menyampaikan momentum lebaran selalu ditandai dengan tingginya mobilitas pemudik yang turut mendorong aktivitas ekonomi, khususnya bagi sektor UMKM melalui tren belanja baju lebaran dan fenomena war takjil.
“Tahun ini momentum tersebut berdekatan dengan perayaan imlek sehingga diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat di tengah kondisi defisit APBN,” katanya.
Di sisi lain, ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat pada periode 2019–2025 dengan e-commerce sebagai kontributor utama, didukung oleh meningkatnya adopsi sistem pembayaran digital seperti QRIS.
Namun, masih terdapat tantangan berupa ketimpangan akses internet yang terpusat di Pulau Jawa serta keterbatasan infrastruktur pariwisata dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Kondisi ini, ditambah mahalnya biaya penerbangan domestik akibat keterbatasan armada dan kenaikan harga bahan bakar global, membuat sebagian wisatawan memilih transit di negara lain.
“Oleh karena itu, penguatan infrastruktur digital di luar Jawa, pengembangan komoditas lokal, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan efisiensi transportasi menjadi kunci agar Indonesia dapat memaksimalkan peluang ekonomi digital dan pariwisata secara lebih merata,” ingatnya.
