Jakarta, TopBusiness — Pemerintah mencatat kinerja penerimaan pajak yang kuat pada awal tahun 2026. Hingga akhir Februari 2026, realisasi penerimaan pajak tercatat tumbuh signifikan dan menjadi penopang utama pendapatan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bahwa penerimaan pajak hingga Februari 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif, mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan baik di dalam negeri.
“Realisasi penerimaan pajak per akhir Februari secara bruto tumbuh 12,7 persen. Sementara secara neto yang benar-benar masuk sebagai kas ke APBN tumbuh 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBNKita edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, pertumbuhan tersebut terlihat konsisten sejak awal tahun. Pada Januari 2026 penerimaan pajak tumbuh sekitar 30,7 persen secara tahunan, sementara pada Februari 2026 tercatat tumbuh 30,1 persen.
Secara total, penerimaan pajak hingga akhir Februari mencapai Rp245,1 triliun, meningkat sekitar Rp57 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp188 triliun.
“Tambahan Rp57 triliun ini benar-benar cash yang masuk ke APBN. Dengan tambahan penerimaan ini, pemerintah memiliki ruang yang lebih baik untuk mempercepat belanja negara,” jelasnya.
Suahasil menjelaskan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak didorong oleh beberapa jenis pajak utama, termasuk Pajak Penghasilan (PPh) serta Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPNBM).
Penerimaan dari PPh tumbuh sekitar 3–4 persen seiring peningkatan penghasilan masyarakat dan aktivitas dunia usaha. Namun, peningkatan paling signifikan berasal dari PPN dan PPNBM yang tumbuh hingga 97 persen.
Menurutnya, lonjakan penerimaan PPN tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas transaksi di perekonomian terus berjalan.
“PPN dan PPNBM itu dibayar kalau ada transaksi. Jadi ketika transaksi ekonomi berjalan, penerimaan PPN juga meningkat. Ini menunjukkan kegiatan ekonomi kita berjalan terus,” kata Suahasil.
Ia menambahkan, meningkatnya penerimaan pajak menjadi sinyal bahwa aktivitas konsumsi masyarakat dan kegiatan usaha masih kuat di tengah dinamika ekonomi global.
Empat Sektor Penyumbang Utama Pajak
Secara sektoral, penerimaan pajak didominasi oleh empat sektor utama yang menyumbang sekitar 74 persen dari total penerimaan pajak nasional.
Keempat sektor tersebut meliputi industri pengolahan, perdagangan, sektor keuangan dan asuransi, serta pertambangan. “Empat sektor utama ini semuanya menunjukkan pertumbuhan baik secara bruto maupun neto,” kata Suahasil.
Kinerja positif sektor-sektor tersebut menjadi indikasi bahwa berbagai sektor ekonomi utama masih mencatatkan aktivitas yang solid pada awal tahun ini.
Kepabeanan dan Cukai Turun
Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai hingga Februari 2026 tercatat sebesar Rp44,9 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp52,6 triliun.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh kontraksi penerimaan cukai sekitar 13,3 persen, yang disebabkan oleh penurunan produksi pada akhir 2025. Meski demikian, pemerintah mulai melihat adanya peningkatan produksi pada awal tahun 2026 yang diharapkan dapat memperbaiki penerimaan dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, penerimaan bea keluar juga mengalami kontraksi sekitar 48,8 persen, terutama karena penurunan harga komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO). Sebaliknya, penerimaan bea masuk tercatat naik tipis sekitar 1,7 persen seiring pertumbuhan impor.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap peredaran barang ilegal. Sepanjang awal 2026, jumlah penindakan terhadap rokok ilegal meningkat dari 1.993 kasus pada 2025 menjadi 2.872 kasus pada 2026.
Barang bukti rokok ilegal yang berhasil diamankan juga meningkat signifikan dari sekitar 179 juta batang menjadi 369 juta batang.
“Teman-teman di Bea Cukai terus bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memastikan peredaran rokok ilegal dan narkotika dapat ditekan,” kata Suahasil.
Dengan kinerja penerimaan pajak yang kuat pada awal tahun, pemerintah optimistis pendapatan negara dapat terus meningkat sehingga mendukung pembiayaan program prioritas dan menjaga stabilitas fiskal sepanjang 2026.
