Jakarta, TopBusiness—PT PLN Indonesia Power UBP Jabar 2 Pelabuhan Ratu menghadirkan inovasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk Barasena, sebuah program yang mengolah limbah menjadi sumber energi alternatif sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Program ini dijalankan di wilayah sekitar operasional pembangkit, khususnya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Officer CSR, Humas, dan Keamanan PLN Indonesia Power UBP Jabar 2 Pelabuhan Ratu, Robert David Carniago, menjelaskan bahwa Barasena dirancang untuk menjawab dua kebutuhan utama, yakni mendukung transisi energi bersih dan mengurangi dampak lingkungan dari operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Program ini mengintegrasikan pengelolaan limbah, khususnya fly ash and bottom ash (FABA), dengan pengembangan biomassa sebagai bahan bakar cofiring,” ujar Robert saat presentasi untuk Dewan Juri Top CSR Awards 2026 gelaran Majalah TopBusiness (2/4/2026).
Pada kesempatan itu, dari perusahaan itu hadir pula Nandya Erlisa Galis, Community Development Officer (CDO); Muhammad Saghar Septian, Community Development Officer (CDO).
Robert menambahkan, Barasena menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung target energi bersih nasional, sekaligus sejalan dengan komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) menuju net zero emission 2060.
Secara implementasi, program ini melibatkan masyarakat melalui pendekatan partisipatif. Proses perencanaan diawali dengan social mapping, diskusi kelompok terarah (FGD), hingga penyusunan rencana kerja berbasis kebutuhan lokal. Masyarakat desa, badan usaha milik desa (bumdes), hingga kelompok tani dilibatkan sebagai mitra utama dalam produksi dan pengolahan biomassa.
Program Barasena mulai dirintis sejak 2022 melalui proyek percontohan cofiring biomassa. Dalam perjalanannya, program ini terus berkembang, mulai dari penyediaan infrastruktur dasar, penguatan kelembagaan masyarakat, hingga transformasi model bisnis dari operator menjadi agregator biomassa berbasis desa.
Saat ini, sejumlah kelompok masyarakat telah bertransformasi menjadi pemasok biomassa untuk kebutuhan cofiring. Selain itu, limbah FABA juga dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti batako, paving block, hingga material konstruksi untuk penahan abrasi pantai.
Dari sisi dampak, Barasena menunjukkan hasil yang signifikan. Program ini mampu mereduksi limbah FABA hingga 10 ton per bulan. Selain itu, pembangunan tanggul berbahan FABA sepanjang sekitar 3 kilometer turut membantu mengatasi abrasi di wilayah pesisir.
Tidak hanya berdampak pada lingkungan, program ini juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat. Pendapatan kelompok masyarakat tercatat meningkat hingga sekitar Rp13,5 juta per bulan, dengan penyerapan tenaga kerja lokal mencapai 10 orang per kelompok.
Lebih jauh, keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok biomassa juga membuka peluang ekonomi baru, seperti produksi serbuk kayu (sawdust) yang menjadi bahan bakar alternatif.
Robert menegaskan, keberhasilan program ini tidak lepas dari proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala. Perusahaan melakukan kunjungan rutin, pengukuran kepuasan masyarakat, hingga evaluasi berbasis dampak melalui pendekatan social return on investment (SROI).
“Barasena bukan sekadar program CSR, tetapi menjadi model pengembangan ekonomi sirkular berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan kebutuhan energi bersih,” kata Robert.
Ke depan, perusahaan itu berencana mereplikasi program ini ke wilayah lain di sekitar operasional perusahaan. Dengan demikian, manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan dapat diperluas, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
Melalui Barasena, limbah yang sebelumnya menjadi persoalan kini justru bertransformasi menjadi sumber energi dan peluang ekonomi—sebuah langkah konkret menuju masa depan energi yang lebih hijau dan inklusif.
| Aspek | Keterangan Singkat |
| Nama Program | Barasena (Bahan Energi Berbasis Limbah untuk Energi Berkelanjutan) |
| Pelaksana | PLN Indonesia Power UBP Jabar 2 Pelabuhan Ratu |
| Lokasi | Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat |
| Tujuan Utama | Mengolah limbah menjadi energi alternatif dan meningkatkan ekonomi masyarakat |
| Latar Belakang | Pemanfaatan limbah FABA (fly ash & bottom ash) dan kebutuhan energi bersih |
| Konsep Utama | Ekonomi sirkular berbasis masyarakat + cofiring biomassa |
| Tahun Mulai | 2022 (pilot project) |
| Mitra Program | BUMDes, kelompok tani, komunitas lokal |
| Kegiatan Utama | Produksi biomassa, pengolahan FABA, pelatihan & pemberdayaan masyarakat |
| Produk Turunan | Biomassa (sawdust), batako, paving block, material konstruksi |
| Dampak Lingkungan | Reduksi limbah FABA ±10 ton/bulan, penahan abrasi ±3 km |
| Dampak Ekonomi | Pendapatan kelompok ±Rp13,5 juta/bulan |
| Dampak Sosial | Penyerapan tenaga kerja ±10 orang/kelompok |
| Model Bisnis | Transformasi dari operator menjadi agregator biomassa desa |
| Nilai Strategis | Mendukung ESG & target net zero emission 2060 |
| Rencana Ke Depan | Replikasi program ke wilayah lain |
