Kiranya, kini industri properti di Indonesia ibarat rangkaian mobil yang kecepatannya tak sama. Dalam artian, pemulihan pasca-dampak Covid-19, belumlah merata.
Simaklah uraian konsultan properti dari Colliers Indonesia, Ferry Salanto. Begini, belum lama ini, dalam paparan riset pasar untuk para wartawan, Ferry mengatakan bahwa sektor properti nasional mulai tumbuh pasca-dampak tersebut. Tetapi, pemulihan tersebut belum merata.
Ferry pun mengatakan bahwa, kini, para developer properti pun masih dibayangi tekanan global. “Yang menarik, semua sektor properti sudah lebih adaptif. Mereka menggunakan cara realistis dan [berharga] terjangkau,” kata dia.
Maka, kiranya bisa kita simpulkan bahwa merespons situasi yang bisa dikatakan masih tak pasti, developer properti mesti sigap menempuh semacam jalur baru, bukan?
Salah satu yang merespons dengan taktik seperti itu adalah developer properti yang terdaftar sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini: PT Indonesian Paradise Property, Tbk. Perusahaan dengan kode saham INPP tersebut menempuh jalur transformasi dengan cara jeli mendeteksi potensi pasar.
Presiden Direktur/CEO INPP, Anthony Prabowo Susilo, mengatakan bahwa pihaknya mengutamakan porsi recurring income (pendapatan berulang) nan kuat untuk menjalankan bisnis berkelanjutan. INPP sudah hadir di delapan kota besar: Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Makassar, dan segera menyusul Semarang dan Balikpapan.
Di situ, INPP menggarap tiga lini: komersial, perhotelan, dan residensia,l dengan konsep 4 M: mixed-use development, mid scale, middle-up, dan major cities. Hal itu untuk porsi recurring income yang kuat untuk menjalankan bisnis yang berkelanjutan.
Dalam keterangan untuk wartawan, Anthony mengatakan: “Kami akan terus menjaga pertumbuhan double digit dengan mengintensifkan capex dan peningkatan kualitas aset.”
Dalam konteks tersebut, aset properti yang sudah dipunyai INPP diperluas/diotimalkan. “Jadi, kami tak hanya memerluas dengan menambah lahan. Kami melakukan intensifikasi dari aset-aset yang ada seperti menambah meeting room di FX, dan perluasan di 23 Paskal Shopping Center Bandung yang menambah luas 20 persen. Dan kami akan lihat aset apa lagi yang bisa diintensifkan,” kata dia.
Di Balikpapan, INPP membuat sesuatu yang beda, konsepnya yakni properti mixed use yang ada CBD zone dengan konsep mid to low density. Jadi, INPP bisa menggaet target double digit growth dan double digit profitability dengan strategi seperti itu.
Adapun di 23 Paskal Shopping Center, INPP bisa menambah net leasable area karena ada waiting list selama dua-tiga tahun.
INPP pun terus melihat apa saja yang possible dan accessible, untuk menghasilkan profit.
Pada properti Antasari Place di Jakarta Selatan, INPP mulai berencana membangun menara kedua. “Kami juga telah sukses dengan penerbitan obligasi awal tahun 2025, lalu diteruskan dengan kolaborasi dengan Hankyu Hanshin.”
Klaim Anthony, INPP selalu merealisasikan janji yang dilontarkan ke publik.
Bagaimana dengan strategi pembiayaan proyek INPP? Begini, Anthony menjelaskan bahwa porsi pembiayaan bank sebesar 70%, yang mayoritas dari BCA. “Strategi kami, tiap penjualan senilai USD1 itu imbasnya berkisar USD2 hingga USD3 ke recurring income.”
Cermat Membangun Mal
Bagi INPP, membangun pusat belanja modern alias mal pun harus digelar secara cermat agar profit dan kesinambungan bisnis INPP bisa terjaga. “Mengembangkan mal kan tak mudah. Di Indonesia, tidak banyak developer yang pandai mengelola mal, apalagi yang nasional. Di Indonesia, palingan hanya empat hingga lima developer yang kuat di pengembangan mal,” Anthony mengimbuhkan.
INPP menempuh ‘jalan terbalik’ dalam membesut mal. Yakni, saat akan membangun mal, mendeteksi dulu potensi kelaikan reccurring income dari properti tersebut. Bila potensi tersebut bagus, barulah mal tersebut dibangun.
High Rise
Taktik mengutamakan kesinambungan bisnis pun digelar INPP dalam membesut properti highrise. Perhatikan, Anthony menjelaskan bahwasanya tren urbanisasi yang merupakan pasar basah bagi high rise property, punya batasan masa. Kini bisa dikatakan bahwa properti tersebut kelebihan pasokan dan tumbuh pesat.
“Realitasnya, kalau INPP membangun apartemen dan diluncurkan di 2010, nilai proyek Rp1 triliun bisa diserap pasar dalam setahun. Kalau sekarang, serapan per tahun bisa-bisa hanya Rp150 miliar,” Anthony mencontohkan.
Jadi, bagi INPP, level penyerapan pasar adalah kata kunci nan penting.
Dengan semua kecermatan dan strategi tersendiri itu, bisa kita katakan bahwa INPP ada di jalur transformasi dengan cara jeli mendeteksi potensi pasar, bukan?
Tabel Recurring Income INPP 2025 (Rp Juta)
| Kategori | 2025 | 2024 | Sifat |
| Recurring Income | |||
| Komersial | 542.544 | 475.687 | Recurring |
| Perhotelan – Kamar | 468.405 | 431.206 | Recurring |
| Perhotelan – F&B | 144.178 | 136.891 | Recurring |
| Perhotelan – Lainnya | 14.830 | 12.303 | Recurring |
| Subtotal Perhotelan | 627.413 | 580.400 | Recurring |
| Manajemen properti & lainnya | 43.270 | 21.508 | Recurring |
| Total Recurring Income | 1.213.227 | 1.077.595 | |
| Non-Recurring Income | |||
| Penjualan properti | 527.402 | 232.067 | Non-recurring |
| Total Non-Recurring | 527.402 | 232.067 | |
| Total Pendapatan Neto | 1.740.629 | 1.309.662 |
Poin Penting:
- Recurring income 2025: 69,7% dari total pendapatan
- Non-recurring: ~30,3%
- Pertumbuhan recurring:
- 2024 → 2025 naik dari 1,08T → 1,21T (+12,6%)
