Jakarta, TopBusiness – PT Chandra Asri Pacific Tbk terus memperkuat implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu program unggulannya, Rangkai Asri, berhasil menghasilkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1,53 serta memberikan dampak sosial dan lingkungan yang signifikan.
Hal itu disampaikan tim PT Chandra Asri Pacific Tbk dalam wawancara penjurian TOP CSR Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Selasa (14/4/2026).
Tim dari Chandra Asri yang hadir dalam penjurian ini: Edi Rivai (Legal, External Affairs, and Circular Economy Director), Andang Pungkase (Head of ESG and Sustainability), Wawan Mulyana (Head of Corporate Shared Value), dan Nicko Setyabudi (Circular Economy and Partnership Manager).
Dalam presentasinya, mereka membawakan materi berjudul Aligning CSR and ESG through Circular Actions and Innovation for a Sustainable and Resilient Environment.
Dalam presentasinya, tim Chandra Asri memaparkan soal integrasi Corporate Social Responsibility (CSR) dan Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi pilar utama untuk menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Legal, External Affairs, and Circular Economy Director Chandra Asri, Edi Rivai, menjelaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar program tambahan, tetapi telah menjadi strategi bisnis jangka panjang perusahaan.
“Keberlanjutan bukan hanya komitmen, tetapi strategi bisnis jangka panjang yang menciptakan nilai bagi perusahaan sekaligus bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Edi Rivai.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan melalui berbagai aksi sirkular dan inovasi yang mendukung terciptanya sistem industri yang lebih efisien, inklusif, dan rendah emisi.
Transformasi Bisnis dan Transisi Energi
Sebagai pemimpin di industri petrokimia Indonesia dan Asia Tenggara dengan pangsa pasar domestik hingga 50 persen, Chandra Asri terus melakukan transformasi bisnis untuk memperkuat ketahanan energi dan daya saing industri nasional.
Perusahaan memperluas ekspansi regional, termasuk penguatan operasi di Singapura, sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat rantai pasok energi dan kimia di Asia Tenggara.
Selain itu, perusahaan juga melakukan sejumlah inovasi strategis dalam mendukung transisi energi dan hilirisasi industri.
Beberapa di antaranya meliputi pengembangan panel surya pada sektor infrastruktur energi, pengembangan industri klor-alkali untuk mendukung rantai pasok baterai kendaraan listrik, serta ekspansi pabrik MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether) yang meningkatkan kapasitas produksi hingga 25 persen.
Produk MTBE sendiri digunakan untuk meningkatkan nilai oktan bahan bakar sehingga mendukung efisiensi pembakaran serta pengurangan emisi. “Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga strategi untuk memperkuat ketahanan energi regional sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional,” jelas Edi.
Selain itu, perusahaan juga terus mengembangkan pemanfaatan feedstock berkelanjutan, termasuk bahan baku berbasis limbah dan sumber terbarukan dalam proses produksi petrokimia.
Implementasi ESG Terintegrasi
Head of ESG and Sustainability Chandra Asri, Andang Pungkase, menjelaskan bahwa implementasi ESG dimulai dari tingkat kepemimpinan tertinggi perusahaan.
Dewan Direksi dan Dewan Komisaris memiliki peran aktif dalam menetapkan arah strategi ESG, melakukan pengawasan pelaksanaan, serta mengevaluasi kinerja secara berkala. “Kami memastikan bahwa strategi ESG terintegrasi dengan visi dan misi perusahaan serta menjadi bagian dari indikator kinerja perusahaan,” ujar Andang.
Perusahaan mengembangkan kerangka kerja keberlanjutan yang disebut Responsible Framework, yang mencakup seluruh aspek material ESG yang relevan bagi bisnis dan pemangku kepentingan. Kerangka ini menjadi landasan bagi implementasi berbagai inisiatif keberlanjutan perusahaan.
Pada aspek lingkungan, perusahaan fokus pada pengelolaan perubahan iklim, efisiensi energi, dan pengelolaan sumber daya. Sementara pada aspek sosial, perusahaan menekankan pengembangan masyarakat dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Pada aspek tata kelola, perusahaan menerapkan standar etika bisnis yang kuat dan transparansi operasional.
Implementasi ESG ini telah menghasilkan sejumlah capaian terukur. Di antaranya penurunan intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen dibandingkan baseline, penghematan air sekitar 11 megaliter, serta pemanfaatan 81 persen limbah non-B3.
Perusahaan juga mencatat zero limbah B3 ke landfill, serta berhasil menurunkan emisi sekitar 25.000 ton CO2 ekuivalen.
Selain itu, Chandra Asri telah memasang 12 MWp panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional.
Dari sisi sosial, lebih dari 3.500 penerima manfaat telah terlibat dalam program pemberdayaan ekonomi, sementara 1.062 pelajar menerima dukungan beasiswa pendidikan.
Perusahaan juga menjalankan berbagai program kesehatan masyarakat, termasuk intervensi kesehatan bagi 110 ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) serta 256 balita stunting.
Program CSR Berbasis Circular Economy
Head of Corporate Shared Value Chandra Asri, Wawan Mulyana, menjelaskan bahwa perusahaan mengimplementasikan CSR dengan mengacu pada standar internasional ISO 26000. Pendekatan ini memastikan bahwa seluruh program CSR mencakup aspek tata kelola organisasi, ketenagakerjaan, lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Salah satu program unggulan perusahaan adalah Rangkai Asri (Rangkaian Aksi Sirkular dan Inovasi untuk Lingkungan Asri) yang mengintegrasikan konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengembangan ekonomi masyarakat.
“Program ini dirancang untuk menciptakan nilai bersama melalui integrasi antara konservasi mangrove, pengelolaan limbah plastik, dan penguatan ekonomi masyarakat,” kata Wawan.
Program ini mengembangkan kawasan edu-ekowisata mangrove Lembur Mangrove Patikang yang melibatkan masyarakat sebagai pengelola utama.
Sebanyak 78 ibu rumah tangga dan masyarakat pengangguran diberdayakan dalam berbagai kegiatan ekonomi, mulai dari pengolahan limbah plastik hingga produksi produk turunan mangrove.
Program ini juga membentuk empat kelompok masyarakat yang mengelola aktivitas ekonomi berbasis ekowisata. Dari sisi ekonomi, kelompok masyarakat berhasil mencatat omzet sekitar Rp 94 juta per tahun.
Inovasi Eco-Cage dan Eco-Track
Salah satu inovasi utama dalam program CSR Chandra Asri adalah pengembangan Eco-Cage dan Eco-Track. Eco-Cage merupakan sistem perangkap sampah yang dibuat dari limbah non-B3 perusahaan. Sistem ini dipasang sepanjang 45 meter untuk mencegah sampah plastik masuk ke kawasan mangrove dan pesisir.
Eco-Cage mampu menangkap sekitar 10 kilogram sampah plastik setiap bulan. Sampah plastik yang tertangkap kemudian dikelola oleh masyarakat dan diolah oleh mitra perusahaan menjadi Re-Plast, yaitu papan plastik daur ulang.
Material tersebut kemudian digunakan untuk membangun Eco-Track, yaitu jalur wisata mangrove yang ramah lingkungan.
Pada 2025, sekitar 5,3 ton plastik low-value berhasil diolah menjadi 179 meter Eco-Track di kawasan wisata mangrove tersebut. Secara keseluruhan, program ini telah mengelola sekitar 13 ton sampah plastik.
Selain itu, program CSR ini juga berhasil melakukan rehabilitasi 3 hektare kawasan mangrove, dengan tambahan rencana penanaman hingga 30 hektare. Program ini juga diperkirakan mampu menghasilkan 126 hingga 321 ton kredit karbon dari konservasi mangrove.
Program CSR Pilar Kesehatan
Pada pilar kesehatan, ‘ PT Chandra Asri Pacific Tbk pada 2024-2026 difokuskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaligus percepatan penurunan stunting melalui Program Teman Tumbuh. Program ini dirancang secara terintegrasi dengan menyasar kelompok rentan, khususnya balita dan ibu hamil, melalui berbagai intervensi kesehatan di lapangan.
Sepanjang pelaksanaan program, tercatat sebanyak 256 balita stunting dan wasting telah mendapatkan intervensi kesehatan dan pendampingan intensif. Selain itu, 366 ibu turut berperan aktif dalam program percepatan penurunan stunting melalui berbagai kegiatan edukasi dan penguatan kapasitas keluarga. Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, perusahaan juga menyalurkan 1.280 paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil.
Program ini diperkuat melalui berbagai kegiatan edukatif dan preventif, antara lain monitoring kesehatan, pemberian makanan tambahan, screening kesehatan dan pemberian suplemen, kelas parenting, kelas memasak bergizi, serta kelas ibu hamil. Rangkaian kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta penerapan pola hidup sehat.
Selain intervensi kesehatan langsung kepada keluarga, program juga menyasar sektor pendidikan melalui edukasi kesehatan di sekolah. Sebanyak 2.054 pelajar telah mendapatkan dukungan melalui implementasi program kesehatan sekolah. Untuk mendorong kebiasaan hidup sehat sekaligus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, perusahaan juga menyalurkan 2.054 paket tempat makan dan minum berbahan ramah lingkungan bagi para siswa.
Program ini turut memberikan manfaat yang lebih luas melalui peningkatan akses layanan dasar bagi masyarakat. Tercatat sebanyak 2.220 penerima manfaat memperoleh akses sanitasi dan air bersih, sementara 3.510 masyarakat telah menerima manfaat layanan pengobatan gratis yang diselenggarakan dalam rangka mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Secara keseluruhan, implementasi program CSR pada pilar kesehatan ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, dan kuratif yang berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan stunting di tingkat daerah.
Dampak Sosial dan Nilai SROI
Efektivitas program CSR perusahaan diukur menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa program Rangkai Asri menghasilkan nilai SROI sebesar 1,53.
Artinya, setiap investasi Rp1 yang dikeluarkan perusahaan mampu menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi sebesar Rp 1,53 bagi masyarakat dan lingkungan.
Selain itu, program ini juga mencatat skor Impact Pool Composite sebesar 243, yang menunjukkan tingkat dampak sosial yang signifikan. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program ini juga mencapai 90,25, yang masuk dalam kategori sangat baik.
Chandra Asri juga melakukan pengukuran SROI pada program Teman Tumbuh, yang berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak serta upaya pencegahan stunting melalui edukasi gizi, intervensi kesehatan, dan penguatan kapasitas kader kesehatan masyarakat.
Hasil pengukuran menunjukkan program ini memiliki nilai SROI sebesar 2,97, yang berarti setiap investasi Rp1 mampu menghasilkan manfaat sosial senilai Rp2,97 bagi masyarakat. Secara finansial, program ini mencatat total manfaat sebesar Rp 9,68 miliar dibandingkan dengan total investasi sekitar Rp 3,26 miliar sejak program berjalan.
Dari sisi penerimaan masyarakat, program Teman Tumbuh juga menunjukkan respons positif dengan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 86,11, yang termasuk dalam kategori “Baik”.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa program tidak hanya memberikan dampak kesehatan dan sosial yang nyata, tetapi juga dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat penerima program.
Pengukuran dampak juga dilakukan pada program Pesona Anyar, yang berfokus pada pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi desa serta penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan pariwisata dan usaha mikro.
Berdasarkan hasil evaluasi, program ini mencatat nilai SROI sebesar 2,66, yang menunjukkan bahwa setiap Rp 1 investasi yang dilakukan perusahaan mampu menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi sebesar Rp2,66 bagi masyarakat. Secara kumulatif, program ini menghasilkan total manfaat sekitar Rp 5,91 miliar dengan total investasi sekitar Rp2,22 miliar selama periode pelaksanaan program.
Sementara itu, tingkat penerimaan masyarakat terhadap program Pesona Anyar juga tergolong positif dengan nilai IKM sebesar 86,11, yang berada pada kategori Baik. Hasil tersebut mencerminkan bahwa program pengembangan ekonomi berbasis komunitas ini mampu meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru di wilayah sekitar operasional perusahaan.
Pengakuan dan Apresiasi
Komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan juga tercermin dari berbagai penghargaan yang diraih perseroan.
Perusahaan meraih PROPER Emas pada 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta mempertahankan peringkat PROPER Hijau selama 2021–2024.
Selain itu, perusahaan juga memperoleh berbagai pengakuan internasional dari lembaga pemeringkat ESG seperti MSCI, Sustainalytics, dan CDP. Dari sisi penilaian MSCI, pada tahun 2023 perusahaan memperoleh peringkat BBB dengan skor 5,4, dan berhasil meningkat pada tahun 2025 dengan tetap mempertahankan peringkat BBB namun dengan skor yang lebih tinggi, yaitu 5,7. Pencapaian ini menempatkan Chandra Asri dalam 20 besar sektor bahan kimia komoditas,
Selanjutnya, berdasarkan penilaian Sustainalytics, skor risiko ESG juga menunjukkan perbaikan. Pada tahun 2023, skor berada di angka 16,6 dengan kategori low risk, dan membaik menjadi 16,4 pada tahun 2025, yang tetap berada dalam kategori low risk. Dengan pencapaian ini, Chandra Asri masuk dalam persentil teratas di sub-industri, serta termasuk 10 besar di Indonesia.
Dari sisi CDP juga terjadi peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2023, perusahaan memperoleh nilai Climate B. Kemudian pada tahun 2025, meningkat menjadi Climate B dan Water A-.
Peringkat A- mencerminkan penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan air, sementara peringkat B menunjukkan adanya aksi nyata perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim.
Tidak hanya dari sisi keberlanjutan, kepuasan pelanggan juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, skor kepuasan pelanggan mencapai 81 dari 100, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka 79.
Berkat konsistensi perusahaan dalam mengintegrasikan CSR dan ESG, Chandra Asri pada 2025 meraih penghargaan TOP CSR Awards 2025 bintang 5 setelah sebelumnya meraih TOP CSR Awards 2024 Goldeng Trophy. Tahun ini, Chandra Asri juga masuk kandidat peraih TOP CSR Awards 2026.
