Jakarta, TopBusiness – Prospek pasar saham Indonesia dinilai masih menyimpan peluang menarik bagi investor meskipun tekanan eksternal global masih membayangi. Riset terbaru dari Mandiri Sekuritas menunjukkan sejumlah saham unggulan di sektor perbankan, konsumer, hingga telekomunikasi masih direkomendasikan untuk dikoleksi dengan potensi kenaikan harga yang cukup atraktif.
Riset Mandiri Sekuritas dalam Investor Digest per 16 April 2026 mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.623,6. Secara valuasi, pasar saham Indonesia diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 11 kali untuk 2026 dan 9,8 kali untuk 2027, dengan dividend yield sekitar 5% hingga 5,6%.
Valuasi tersebut dinilai masih relatif menarik dibandingkan prospek pertumbuhan laba emiten yang diperkirakan mencapai 14,3% pada 2026.
Sektor perbankan tetap menjadi salah satu pilihan utama. Beberapa bank besar nasional memperoleh rekomendasi buy dengan potensi kenaikan harga dua digit.
Saham Bank Central Asia (BBCA) misalnya diperdagangkan di kisaran Rp6.550 dengan target harga Rp8.600 atau potensi kenaikan sekitar 31%. Laba bersih bank ini diproyeksikan mencapai Rp61,7 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp67 triliun pada 2027.
Sementara itu saham Bank Negara Indonesia (BBNI) juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp4.600 dari posisi Rp3.670. Bank ini diperkirakan mencatat laba Rp22,6 triliun pada 2026.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga tetap menarik dengan target harga Rp4.100 dari posisi Rp3.400. Bank yang fokus pada segmen UMKM ini diproyeksikan membukukan laba Rp60 triliun pada 2026.
Selain bank besar, peluang juga terlihat pada bank digital dan bank berbasis ekosistem. Salah satunya adalah Super Bank Indonesia (SUPA) yang direkomendasikan buy dengan target harga Rp1.300 dari posisi Rp910. Kinerja bank ini dinilai mulai menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang kuat serta penguatan ekosistem transaksi digital.
Selain sektor perbankan, saham sektor konsumer juga dinilai memiliki fundamental yang kuat. Saham Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) direkomendasikan buy dengan target harga Rp12.000, jauh di atas harga saat ini Rp7.200. Laba perusahaan diperkirakan meningkat dari Rp9,9 triliun pada 2026 menjadi Rp11,6 triliun pada 2027.
Saham Mayora Indah (MYOR) juga memiliki prospek positif dengan target harga Rp3.210 dari posisi Rp1.885. Pertumbuhan laba perusahaan makanan dan minuman ini diperkirakan mencapai lebih dari 20%.
Di sektor ritel modern, saham Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) dinilai menarik dengan target harga Rp2.500 dari posisi Rp1.530, seiring ekspansi jaringan gerai dan pertumbuhan konsumsi domestik.
Sektor telekomunikasi juga diperkirakan tetap stabil dengan pertumbuhan trafik data yang terus meningkat. Saham Telkom Indonesia (TLKM) direkomendasikan buy dengan target harga Rp4.000 dari posisi Rp3.090. Laba perusahaan diproyeksikan mencapai Rp23,2 triliun pada 2026.
Selain itu, saham Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp3.000 dari posisi Rp2.070.
Dari sektor komoditas, saham pertambangan dan energi masih memiliki peluang seiring tingginya harga komoditas global.
Saham Aneka Tambang (ANTM) misalnya memiliki target harga Rp5.450 dari posisi Rp3.940. Sedangkan saham Harum Energy (HRUM) memiliki potensi kenaikan hingga sekitar 44% dengan target harga Rp1.500.
Selain itu, saham United Tractors (UNTR) juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp34.000 dari posisi Rp31.475.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia masih dipandang menarik secara valuasi dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. Dengan kombinasi pertumbuhan laba, dividend yield yang relatif tinggi, serta valuasi yang masih murah dibandingkan pasar regional, peluang investasi di pasar saham domestik dinilai tetap terbuka bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada emiten berfundamental kuat, memiliki pertumbuhan laba yang stabil, serta didukung prospek sektor yang positif.
