Jakarta, TopBusiness — PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Brantas mengembangkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk Batik Seng Naik Kelas. Program CSR ini dijalankan sebagai upaya mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional pembangkit.
Program ini lahir dari kebutuhan perusahaan untuk mengelola dampak operasional sekaligus menjawab persoalan sosial-ekonomi di Desa Sengguruh, Kabupaten Malang, yang menjadi salah satu wilayah terdampak aktivitas pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Senior Manager PT PLN Nusantara Power UP Brantas, Eko Wijanarto, menjelaskan bahwa pelaksanaan CSR di unitnya tidak berjalan tanpa dasar, melainkan mengacu pada regulasi dan tata kelola yang terstruktur. “UP Brantas mengimplementasikan program CSR didasari dengan peraturan perundang-undangan, keputusan direksi, dan peraturan direksi yang kemudian dituangkan dalam instruksi kerja yang lebih praktis dan aplikatif,” ujarnya di hadapan dewan juri TOP CSR Awards 2026, Jumat (17/4/2026).
Sebagai unit pembangkitan dengan kapasitas 291,54 MW yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan listrik energi baru terbarukan (EBT) di Jawa Timur, UP Brantas menempatkan keberlanjutan sumber daya air sebagai prioritas utama.
“Sebagai pembangkit hidro, kami menyadari bahwa air adalah nadi bisnis kami, sehingga kami harus memastikan bahwa kualitas air sangat penting untuk dijaga,” kata Eko yang pada sesi penjurian ini ditemani oleh beberapa orang tim dari PLN NP UP Brantas, di antaranya Raden Sultani Indragunawan (Manager Business Support), Edi Purnomo (Assistant Manager SDM, Umum & CSR), Dian Karisma Septiana Guteres (Junior Officer Umum & CSR), dan Sinki Anggriani (Community Development Officer).
Berangkat dari Pemetaan Sosial
Inisiatif program Batik Seng Naik Kelas berawal dari hasil pemetaan sosial yang dilakukan bersama Prospek Institut. Hasilnya menunjukkan sejumlah tantangan di Desa Sengguruh, mulai dari tingkat pengangguran yang mencapai 13 persen, hingga 21 persen warga yang merupakan ibu rumah tangga tanpa akses pekerjaan. Selain itu, terdapat 239 kepala keluarga dalam kategori miskin serta kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan akses ekonomi.
Dari sisi lingkungan, persoalan pembuangan limbah rumah tangga ke sungai dan kebiasaan membakar sampah menjadi perhatian serius, terutama karena berpotensi mencemari aliran air menuju waduk yang menjadi bagian penting operasional pembangkit.
Namun di tengah tantangan tersebut, terdapat potensi lokal berupa kelompok batik yang diinisiasi Yayasan Saujana Cita. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan menjadi program unggulan CSR berbasis pemberdayaan masyarakat.
“Inisiatif program ini berangkat dari hasil pemetaan sosial… terdapat beberapa permasalahan dan potensi di Desa Sengguruh,” ujar Eko.
Di mana berdasarkan hasil pemetaan sosial yang dilakukan bersama terungkap adanya beberapa permasalahan dan potensi di Desa Sengguruh, baik masalah ekonomi, sosial, dan masalah lingkungan.
Kendati demikian, di permasalahan yang ada Desa Sengguru juga menyimpan potensi yagn dapat dikembangkan.
“Potensi yang ada di Desa Sengguruh, terdapat kelompok batik yang diinisiasi oleh Yayasan Saujana Cita, karena pelatihan keterampilan orang tua atau wali murid dari MI Bilingual Al-Ikhlas dapat dikembangkan sebagai jawaban masalah pengangguran dan kelompok rentan, serta dibina hingga seminimal mungkin menghasilkan limbah produksi,” ungkap Eko.
Kolaborasi dan Tata Kelola Terintegrasi
Program Batik Seng Naik Kelas tidak berjalan sendiri. Dalam pelaksanaannya, UP Brantas menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga perguruan tinggi. Kolaborasi dilakukan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, hingga Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.
Selain itu, sejumlah kampus seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, hingga IPB turut dilibatkan dalam penguatan program, termasuk riset dan pengembangan teknologi pengolahan limbah.
Dalam implementasinya, program ini juga mengedepankan prinsip perencanaan partisipatif. “UP Brantas juga aktif melibatkan partisipasi masyarakat dan stakeholder terkait dalam perencanaan program termasuk dalam melakukan penyusunan Renstra lima tahun,” kata Eko.
Dari sisi tata kelola, perusahaan menerapkan sistem monitoring dan evaluasi berkala setiap tiga bulan. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perbaikan program, termasuk strategi pemasaran jika terjadi penurunan penjualan.
Berdampak Nyata
Program Batik Seng Naik Kelas dirancang dengan pendekatan terukur, mulai dari penggunaan pewarna alami hingga pengelolaan limbah produksi. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) bekerja sama dengan akademisi untuk memastikan limbah tidak mencemari lingkungan.
Selain itu, program ini juga mengintegrasikan pengelolaan limbah kain perca melalui bank sampah, serta memanfaatkan sabut kelapa sebagai bahan produksi.
Dari sisi sosial, program ini menyasar kelompok rentan. Lebih dari 50 persen anggota kelompok batik berasal dari kalangan ibu rumah tangga, lansia, hingga penyandang disabilitas.
Sejumlah capaian signifikan berhasil diraih dari program ini. Dari sisi ekonomi, program mampu meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 55,85 persen serta membuka lapangan kerja baru bagi kelompok rentan.
Selain itu, terbentuk kelompok baru seperti Batik Kaputren sebagai bentuk replikasi program, serta kolaborasi dengan bank sampah untuk pengelolaan limbah produksi.
Dari aspek lingkungan, program ini berhasil menurunkan beban pencemaran air hingga 94,89 persen, mendaur ulang 378 kg limbah malam, serta mengolah 275 kg kain perca menjadi produk bernilai ekonomi. Bahkan, pengurangan emisi karbon tercatat mencapai 0,07 ton CO2 ekuivalen dari pemanfaatan limbah sabut kelapa.
Tak hanya itu, hubungan perusahaan dengan masyarakat juga menunjukkan tren positif. “Wilayah operasional perusahaan tetap kondusif terhadap konflik. Ini terbukti dengan catatan konflik tiap tahunnya yang tidak ada,” kata Eko.
Indeks social license to operate perusahaan juga mencapai angka 4,52 yang mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Program Batik Seng Naik Kelas telah memiliki roadmap jangka panjang sejak 2022 sebagai fase rintisan hingga ditargetkan mencapai fase mandiri pada 2026.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya, program ini tidak hanya menjadi solusi lokal, tetapi juga model pemberdayaan berbasis keberlanjutan.
“Batik Seng Naik Kelas ini berfokus pada peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM yang berbasis inovasi dan ramah lingkungan. Program ini melibatkan berbagai kelompok masyarakat seperti ibu rumah tangga, usia produktif, putus sekolah, lansia dan penyandang disabilitas,” jelas Eko.
Lebih lanjut, Eko mengatakan bahwa tujuan tujuan perusahaan melalui program ini adalah untuk mengelola dampak perusahaan terutama terkait isu penyerapan tenaga kerja lokal. Selain itu, juga turut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan terutama pada sektor ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya dengan dukungan para stakeholder.
Batik Seng disebut telah mampu menyebar manfaat dengan melibatkan kelompok lain dalam proses produksi sehingga kelompok lain dapat merasakan manfaat ekonomi.
“Maka dari itu program CSR Batik Seng ini memiliki keterkaitan erat dengan bisnis keberlanjutan karena mampu mengintegrasikan pengelolaan lingkungan, pemberdayaan sosial yang inklusif, serta penciptaan nilai ekonomi lokal sehingga menghasilkan dampak jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan perusahaan,” tutupnya.
