Lewat program UMKM Smart Aggregator, PT Ganda Alam Makmur Site Sempayau di Kutai Timur menunjukkan praktik CSR berdampak nyata—menghubungkan ekonomi lokal dengan ekosistem digital dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jakarta, TopBusiness — Upaya perusahaan tambang dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan kian mendapat sorotan. PT Ganda Alam Makmur (GAM) Site Sempayau di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menjadi salah satu contoh bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) diimplementasikan secara strategis dan terukur.
Pada ajang penjurian TOP CSR Awards 2026 yang digelar secara daring, Senin (27/4/2026), GAM mempresentasikan program unggulan bertajuk UMKM Smart Aggregator. Program ini menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam menyelaraskan praktik CSR dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Presentasi disampaikan oleh Wakil Kepala Teknik Tambang Yudhi Wardhini bersama Community Development Officer Geovani Ayu Astuti. Turut mendampingi tim Community Development lainnya, yakni Bayu Setiawan, Daru Kusumo Ismartono, dan Vina Aydin.
Mengusung tema “A Sustainable Future: Driving Social Impact, Aligning Environmental Sustainability”, GAM menekankan pentingnya integrasi antara keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sekilas GAM
Yudhi Wardhini memaparkan PT Ganda Alam Makmur (GAM) adalah perusahaan pertambangan batubara yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, dan didirikan pada tahun 2012.
“”Perusahaan ini terafiliasi dengan LX International Corp (dulu LG International) dan memiliki izin operasi produksi seluas 10.600 hektar yang berlaku hingga 2027,” ujar Yudhi.
Ia menambahkan bahwa kalori Batubara yang dihasilkan GAR 3.500 hingga GAR 4.800 dengan jangkauan ekspor ke sejumlah negara, seperti China, India, Jepang, Korea, Hongkong, Taiwan dll.
Program UMKM Smart Aggregator: Dari Lokal ke Digital
Program UMKM Smart Aggregator dirancang untuk menjawab tantangan klasik di wilayah lingkar tambang: keterbatasan akses pasar, ketergantungan ekonomi, serta rendahnya nilai tambah produk lokal.
Melalui pendekatan model bisnis berbasis digital, program ini menghimpun berbagai produk UMKM dalam satu sistem terintegrasi melalui Koperasi Pemasaran Berdaya Sejahtera Makmur (BerSaMa).
“Selain untuk menjawab tantangan dari daerah lingkar tambang, program ini kami rancang tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih mandiri dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Geovani Ayu Astuti.
Ia menambahkan, digitalisasi menjadi kunci dalam membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM di daerah terpencil.
Dampak Nyata: Omzet Melonjak, Peluang Terbuka
Hasil implementasi program menunjukkan capaian signifikan. Dalam kurun waktu satu tahun, total pendapatan UMKM binaan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp 193,9 juta pada 2024 menjadi Rp 394,2 juta pada 2025.
Sebanyak 32 anggota koperasi kini terhimpun dalam ekosistem pemasaran terpadu, dengan rata-rata omzet bulanan pelaku usaha mencapai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.
Selain itu, pembagian sisa hasil usaha (SHU) koperasi juga tercatat mencapai Rp 11,35 juta pada tahun buku 2024.
“Yang menarik, bahan baku yang sebelumnya kurang diminati seperti pisang dan ikan justru kini memiliki nilai tambah setelah diolah menjadi produk UMKM,” kata Geovani.
Dari sisi perusahaan, program ini juga menghasilkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 3,32. Artinya, setiap Rp 1 investasi menghasilkan dampak sosial senilai lebih dari Rp 3.
Pemberdayaan Perempuan dan Diversifikasi Ekonomi
Salah satu fokus utama program ini adalah pemberdayaan perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Mereka didorong untuk terlibat aktif dalam produksi dan pemasaran produk UMKM.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat struktur sosial ekonomi masyarakat.
Selain itu, program ini membuka peluang diversifikasi pekerjaan di luar sektor pertambangan, yang selama ini mendominasi mata pencaharian masyarakat di wilayah tersebut.
Strategi Berbasis Data dan Partisipasi
Berdasarkan dokumen presentasi perusahaan, perencanaan program dilakukan melalui kombinasi pendekatan top-down dan bottom-up, dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses identifikasi kebutuhan.
Evaluasi dilakukan secara berkala melalui monitoring harian hingga tahunan, serta pengukuran dampak menggunakan indikator seperti Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan SROI oleh lembaga independen.
Pendekatan ini memastikan program tetap relevan dengan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
CSR sebagai Strategi Bisnis Berkelanjutan
Dalam operasionalnya, PT Ganda Alam Makmur mengedepankan prinsip triple bottom line: people, planet, dan profit.
Program CSR menjadi bagian integral dari strategi bisnis, bukan sekadar aktivitas filantropi. Hal ini sejalan dengan tema TOP CSR Awards 2026, yakni penyelarasan CSR dan ESG untuk menciptakan nilai jangka panjang perusahaan.
Menuju Replikasi dan Skalabilitas
Ke depan, GAM berupaya mereplikasi program UMKM Smart Aggregator ke wilayah lain dengan menyesuaikan kondisi lokal. Strategi ini mencakup identifikasi faktor keberhasilan, adaptasi lokal, serta standarisasi melalui SOP.
“Harapannya, model ini bisa menjadi referensi bagi perusahaan lain dalam mengembangkan program CSR yang tidak hanya berdampak, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Geovani.
Pembelajaran dari Lapangan
TOP CSR Awards sendiri bertujuan memberikan apresiasi sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas implementasi CSR di Indonesia.
Dalam konteks ini, GAM menunjukkan bahwa keberhasilan CSR tidak hanya diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari sejauh mana program mampu menciptakan perubahan nyata di masyarakat.
Dari desa terpencil di Kutai Timur, sebuah model pemberdayaan ekonomi berbasis digital kini mulai menunjukkan hasil—membuktikan bahwa transformasi sosial bisa dimulai dari langkah yang tepat, terukur, dan berkelanjutan.
