Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan Senin (27/04/2026). IHSG terkoreksi 22,97 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52 pada akhir sesi perdagangan, setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari di tengah tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup aktif dengan frekuensi transaksi yang mencapai jutaan kali hingga penutupan sesi II. Total volume perdagangan saham tercatat sebesar 32,93 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp16,40 triliun. Likuiditas yang tetap terjaga ini mencerminkan minat investor yang masih cukup kuat meskipun indeks berada di zona negatif.
Dari sisi aliran dana, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) yang turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan.
Sejumlah saham menjadi penekan utama indeks, di antaranya BBCA yang turun Rp25 ke level Rp9.675, BBRI melemah Rp20 ke Rp5.700, TLKM terkoreksi Rp30 ke Rp3.850, serta ASII yang turun Rp75 ke Rp5.925. Sementara itu, penguatan pada beberapa saham seperti BMRI yang naik Rp50 ke Rp6.450, ADRO yang menguat Rp40 ke Rp2.980, dan ANTM yang naik Rp60 ke Rp3.700 membantu menahan pelemahan IHSG agar tidak lebih dalam.
Secara sektoral, pelemahan terutama terjadi pada sektor keuangan, infrastruktur, dan properti, seiring tekanan jual dan aksi ambil untung. Di sisi lain, sektor energi dan bahan baku menunjukkan penguatan terbatas yang ditopang oleh pergerakan harga komoditas global, sehingga memberikan penopang bagi indeks.
Pergerakan IHSG pada awal pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya, arus keluar dana asing, serta sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian terkait arah kebijakan suku bunga dan kondisi ekonomi dunia. Meski demikian, aktivitas transaksi yang tetap tinggi menunjukkan pasar domestik masih memiliki daya tahan, dengan investor cenderung melakukan rotasi ke sektor-sektor yang dinilai lebih prospektif.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan sideways, sambil menunggu katalis baru dari dalam maupun luar negeri. Jika tekanan jual mereda dan aliran dana kembali masuk, peluang penguatan jangka pendek tetap terbuka, namun dalam waktu dekat pergerakan indeks cenderung akan tetap berhati-hati.
Data AI
