Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi, naik 32,12 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.988,92. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga turut menguat 2,22 poin atau 0,33 persen ke level 671,56.
Pada awal sesi perdagangan, aktivitas pasar tercatat cukup aktif. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 285 ribu kali dengan volume perdagangan menyentuh 3,95 miliar saham dan nilai transaksi harian sekitar Rp1,62 triliun. Likuiditas yang terjaga ini mencerminkan minat beli investor yang cukup kuat sejak pembukaan perdagangan.
Penguatan IHSG didorong oleh pergerakan positif sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik Rp75 ke posisi Rp5.925 per saham, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat Rp30 ke level Rp3.020, serta Bank Mandiri Tbk (BMRI) bertambah Rp70 menjadi Rp4.460.
Selain sektor perbankan, saham Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik Rp40 ke posisi Rp2.850, sementara Astra International Tbk (ASII) menguat Rp75 ke level Rp6.050. Kenaikan saham-saham big caps ini menjadi penopang utama laju indeks di awal sesi.
Secara sektoral, penguatan didorong oleh sektor keuangan, infrastruktur, dan barang konsumsi yang bergerak di zona hijau. Aksi beli investor domestik terlihat dominan, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.
Dari sisi analisis, kenaikan IHSG pada pembukaan perdagangan mencerminkan adanya aksi akumulasi atau bargain hunting setelah pergerakan pasar yang cenderung melemah pada periode sebelumnya. Selain itu, sentimen positif juga didorong oleh stabilnya kondisi makroekonomi domestik serta ekspektasi terhadap kinerja emiten kuartalan yang relatif solid.
Namun, secara teknikal, pergerakan IHSG masih menghadapi tantangan pada level psikologis 7.000 sebagai area resistance terdekat. Jika mampu menembus level tersebut dengan dukungan volume yang kuat, maka peluang penguatan lanjutan terbuka. Sebaliknya, level 6.900 diperkirakan menjadi area support yang cukup kuat untuk menahan potensi koreksi.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap selektif dalam melakukan transaksi, dengan fokus pada saham-saham sektor perbankan dan konsumer yang masih menjadi penggerak utama indeks.
Data AI
