Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu pagi dibuka melemah tajam di tengah tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sentimen global.
IHSG dibuka turun 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 ikut terkoreksi 5,90 poin atau sekitar 0,88 persen ke posisi 663,94.
Pada awal perdagangan, aktivitas transaksi di pasar reguler BEI terpantau cukup aktif. Volume perdagangan tercatat mencapai sekitar 1,6 miliar saham dengan frekuensi transaksi lebih dari 114 ribu kali dan nilai transaksi sekitar Rp515 miliar pada menit-menit awal perdagangan.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari aksi jual pada saham-saham sektor perbankan, energi, dan petrokimia yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat melemah ke posisi Rp8.875 per saham dari sebelumnya Rp9.050 per saham. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga turun ke level Rp5.850 per saham dari posisi sebelumnya Rp5.975 per saham.
Selain sektor perbankan, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bergerak turun ke level Rp1.215 per saham, sedangkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah ke posisi Rp7.425 per saham. Koreksi pada saham-saham big caps tersebut menjadi pemberat utama pergerakan IHSG pada sesi pembukaan.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona merah. Sektor keuangan memimpin pelemahan seiring tekanan pada saham bank-bank besar, diikuti sektor industri dan infrastruktur. Sementara itu, sektor energi dan barang baku cenderung bergerak variatif ditopang kenaikan sejumlah saham komoditas.
Pelemahan IHSG pada awal perdagangan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta dinamika pasar regional Asia yang cenderung melemah.
Di sisi domestik, pelaku pasar juga melakukan aksi profit taking setelah IHSG sebelumnya bergerak menguat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Kondisi tersebut mendorong tekanan jual terutama pada saham-saham unggulan yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada area support 6.700 hingga 6.750. Apabila tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area tersebut, maka IHSG berpotensi melanjutkan koreksi lebih dalam. Namun, jika terjadi rebound, IHSG berpeluang kembali menguji area resistance di kisaran 6.850 hingga 6.900.
Analis menilai volatilitas pasar masih akan cukup tinggi dalam jangka pendek, namun peluang akumulasi pada saham-saham fundamental kuat tetap terbuka seiring prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif stabil.
Data AI
