TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

IHSG Ambruk Akibat Tekanan Saham Big Caps

Agus Haryanto
19 May 2026 | 16:23
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Bursa Efek Indonesia (Rendy MR/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 228,56 poin atau 3,46 persen ke level 6.370,67 pada akhir perdagangan Selasa (19/5/2026). Koreksi tajam tersebut dipicu tekanan jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, terutama sektor perbankan dan telekomunikasi.

Aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai dengan total volume transaksi mencapai 45,50 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp25,07 triliun. Frekuensi perdagangan hingga penutupan tercatat mencapai 2,7 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya aksi jual investor di pasar reguler.

Tekanan terhadap IHSG terjadi hampir sepanjang sesi perdagangan. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih di sejumlah saham unggulan di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global.

Saham-saham pengurang indeks atau top laggards mengalami pelemahan signifikan hingga penutupan perdagangan, di antaranya:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp125 menjadi Rp6.000 per saham
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah Rp140 menjadi Rp2.980 per saham
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun Rp250 menjadi Rp4.850 per saham
  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkoreksi Rp90 menjadi Rp2.600 per saham
  • PT Astra International Tbk (ASII) melemah Rp175 menjadi Rp4.350 per saham

Pelemahan saham-saham big caps tersebut memberikan tekanan besar terhadap pergerakan IHSG karena memiliki bobot kapitalisasi pasar yang dominan dalam indeks.

Analis menilai koreksi tajam IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar dibayangi ketidakpastian geopolitik, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan kekhawatiran suku bunga global yang masih tinggi.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah terhadap dolar AS memicu kekhawatiran terhadap potensi keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Selain itu, investor juga melakukan aksi profit taking setelah penguatan pasar dalam beberapa pekan terakhir.

BACA JUGA:   IHSG masih Berpotensi Plus

Tekanan jual yang terjadi secara masif pada saham perbankan membuat IHSG kehilangan daya topang utama. Sektor finansial menjadi penyumbang pelemahan terbesar terhadap indeks sepanjang perdagangan sesi II.

Meski demikian, pelaku pasar menilai pelemahan ini masih bersifat teknikal dan jangka pendek. Level 6.300 menjadi area support penting yang akan dicermati investor pada perdagangan berikutnya. Jika tekanan eksternal mulai mereda dan arus dana asing kembali masuk, IHSG berpotensi mengalami technical rebound dalam waktu dekat.

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

Menkeu Pastikan Ekonomi RI Tumbuh Berkualitas, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang

Next Post

PT Semen Tonasa Perkuat Program TJSL Berbasis ISO 26000 dan ESG untuk Bisnis Berkelanjutan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR