TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Kids Biennale Indonesia Jadikan Seni sebagai Media Advokasi Perlindungan Anak

Nurdian Akhmad
21 May 2026 | 11:56
rubrik: Business Info, CSR, Event
Kids Biennale Indonesia Jadikan Seni sebagai Media Advokasi Perlindungan Anak

Jakarta, TopBusiness – Isu perlindungan anak semakin mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk komunitas seni dan budaya. Yayasan Kids Biennale Indonesia hadir dengan pendekatan berbeda, yakni menjadikan seni sebagai medium advokasi sosial untuk menyuarakan persoalan kekerasan seksual, bullying, intoleransi, hingga kesehatan mental anak dan remaja.

Dalam presentasi penjurian TOP CSR Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Direktur Yayasan Kids Biennale Indonesia, Gie Sanjaya, menjelaskan bahwa organisasi yang dibangunnya lahir dari kegelisahan pribadi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini.

“Saya membangun Yayasan Kids Biennale Indonesia ini adalah untuk legacy. Bagaimana saya hidup di dunia ini dan memberikan legacy untuk next generation melalui kesenian,” ujar Gie Sanjaya dalam presentasinya, Kamis (21/5/2026). Hadir pula dalam penjurian daring ini Indawan Mulia
dan Tania Jasmin.

Sebagai seorang independent curator di bidang seni dan budaya, khususnya fine art, Gie mengaku terbiasa melakukan riset mengenai isu-isu sosial dan kebudayaan. Pada 2022, ia menaruh perhatian besar terhadap tiga “dosa besar pendidikan”, yakni kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi.

Ia menyebut data yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjadi titik awal munculnya gerakan tersebut. Menurutnya, persoalan yang dialami anak-anak tidak cukup hanya dibahas dalam ruang akademik atau diskusi formal, tetapi perlu dihadirkan melalui medium yang dekat dengan ekspresi dan emosi mereka.

“Karena ada kegelisahan mengenai tiga isu dosa besar di dunia pendidikan, akhirnya saya mencoba eksperimental membuat pameran speak up isu kekerasan seksual terhadap anak dan remaja,” katanya.

Pameran perdana bertajuk Speak Up digelar pada 2023 di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Program tersebut melibatkan anak-anak dan remaja usia 12–17 tahun melalui mekanisme open call karya seni. Untuk menjangkau peserta, Gie dan tim melakukan pendekatan langsung kepada guru seni dan jaringan sekolah.

Strategi tersebut ternyata mendapat respons besar dari publik. Pameran yang awalnya bersifat eksperimental justru menjadi ruang ekspresi baru bagi anak-anak untuk menyuarakan pengalaman dan keresahan mereka.

BACA JUGA:   Direktur Keuangan BNI Life Raih Best CFO 2020

“Hasil review 2023 cukup booming. Banyak sekolah hadir dan ternyata anak-anak bisa mempresentasikan kegelisahan mereka, bahkan ada yang pernah mengalami langsung,” ujarnya.

Salah satu instalasi yang menjadi perhatian dalam pameran tersebut adalah “Bilik Aman”. Instalasi itu menghadirkan ruang refleksi yang memungkinkan pengunjung mendengarkan kisah korban kekerasan pada masa kecil. Konsepnya terinspirasi dari bilik pengakuan dosa, tetapi dikembangkan menjadi ruang empati dan edukasi publik.

Menurut Gie, pendekatan seni dipilih karena memiliki kekuatan emosional yang mampu membuka ruang dialog lebih luas, termasuk bagi anak-anak yang selama ini sulit menyampaikan pengalaman traumatis secara verbal.

Pada 2024, gerakan tersebut berkembang menjadi lembaga resmi melalui pembentukan Yayasan Kids Biennale Indonesia. Yayasan ini mendapatkan dukungan sejumlah seniman dan tokoh budaya, termasuk Dolorosa Sinaga.

Kids Biennale Indonesia kemudian berkembang menjadi platform seni budaya lintas disiplin yang inklusif. Programnya tidak hanya menyasar anak-anak umum usia 6–17 tahun, tetapi juga anak berkebutuhan khusus hingga usia 22 tahun.

“Kami melandaskan filosofi cipta, rasa dan karsa sebagai pilar utama pembentukan karakter dan budi pekerti luhur anak-remaja,” kata Gie.

Ia menjelaskan, ruang yang dibangun melalui Kids Biennale bukan sekadar pameran seni, tetapi menjadi ruang setara bagi anak-anak untuk berekspresi, membangun empati, dan meningkatkan kesadaran sosial terhadap isu pendidikan, lingkungan, hingga keberagaman.

Program ini juga mengadopsi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa dalam pembentukan karakter manusia.

Dalam presentasinya, Gie memaparkan bahwa yayasan telah menyusun rencana strategis 10 tahun ke depan dengan lima pilar utama, yakni art exhibition, education incubator, global collaboration, creative economy, serta research and sustainability.

Melalui strategi tersebut, Kids Biennale Indonesia ingin membangun ekosistem seni anak yang lebih berkelanjutan dan terhubung dengan berbagai sektor.

“Kami ingin menjadi platform global bagi kreativitas dan ekspresi anak-anak remaja Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA:   PLN NP UP Cirata Usung Program CSR Unggulan, Cirata Geulis

Pada 2024, organisasi tersebut kembali mengangkat isu sosial melalui program Road to Kids Biennale bertema Speak Up on Bullying and Intolerance. Fokus program diarahkan kepada anak-anak neurodivergen seperti autisme dan ADHD.

Dalam program tersebut, Kids Biennale Indonesia bekerja sama dengan sekolah inklusif, psikolog, museum, komunitas seni, hingga lembaga perlindungan anak. Kegiatan yang digelar meliputi workshop, diskusi publik, gelar bicara, hingga penggalangan dana secara organik.

“Kami langsung knock door ke sekolah-sekolah yang memang fokus pada anak-anak inclusivity,” kata Gie.

Pada 2025, Kids Biennale Indonesia memperluas cakupan program melalui open call berskala nasional bertema Tumbuh Tanpa Takut. Pameran tersebut digelar di Galeri Nasional Indonesia dan berhasil menarik 11.999 pengunjung.

Pameran ini melibatkan berbagai seniman dari sejumlah daerah di Indonesia, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus yang diberikan ruang tampil secara setara. Program tersebut juga mendapat dukungan pendanaan dari LPDP melalui Dana Indonesiana untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan dan penguatan ekosistem seni berbasis advokasi sosial.

“Pameran kami kemarin mendapatkan funding dari Dana Indonesiana yang dari LPDP,” ujar Gie dalam sesi tanya jawab penjurian.

Salah satu momen yang paling berkesan, menurut Gie, adalah ketika seorang peserta yang memiliki keterbatasan bicara mampu tampil di depan jurnalis nasional untuk menjelaskan karyanya. “Dia dari kecil di-bully, tapi akhirnya bisa berdiri di depan jurnalis Indonesia dan itu patut dibanggakan,” katanya.

Selain menghadirkan pameran, Kids Biennale Indonesia juga mengembangkan berbagai program pendukung seperti pemutaran film anak, permainan tradisional, workshop batik, bahasa isyarat, hingga ruang interaktif bagi pengunjung.

Organisasi ini bahkan telah menyediakan virtual tour 360 derajat melalui situs resmi mereka agar karya anak-anak dapat diakses masyarakat lebih luas.

Dalam aspek tata kelola, Gie mengakui organisasi yang dipimpinnya masih terus berproses dan belajar membangun sistem yang lebih kuat. Namun demikian, pihaknya telah mulai menerapkan berbagai kebijakan perlindungan anak dan tata kelola kolaborasi.

BACA JUGA:   HUT ke-50 Asosiasi Kontraktor Indonesia, Menteri Basuki Tekankan Peningkatan Kualitas Konstruksi

Kids Biennale Indonesia bekerja sama dengan Save The Children, UNICEF, Yayasan Pulih, serta berbagai organisasi lainnya untuk menyusun child protection policy, code of conduct, hingga mekanisme mitigasi risiko.

“Kami sadar di pameran seni pun bisa terjadi kekerasan. Karena itu kami membuat sistem mitigasi, trigger warning, pendamping psikolog, sampai SOP khusus untuk menjaga keamanan anak-anak selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan pameran, pihaknya juga menyiapkan gallery sitter, petugas pendamping khusus, hingga ruang konseling apabila ada pengunjung yang mengalami trigger emosional akibat karya yang dipamerkan.

Selektif dalam Kerja Sama CSR

Kerja sama CSR yang dijalankan Kids Biennale Indonesia juga dibuat secara selektif. Gie menegaskan bahwa yayasannya tidak membuka kolaborasi dengan industri yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip perlindungan anak dan tumbuh kembang anak.

“Kami punya rules sendiri. CSR harus inline dengan isu anak dan perlindungan anak,” katanya.

Ia mencontohkan, yayasan menolak kerja sama dengan industri rokok maupun produk susu tertentu yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip dan standar perlindungan anak yang diterapkan organisasi. Sebaliknya, Kids Biennale Indonesia memilih berkolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki kesamaan visi terkait pendidikan, kreativitas, kesehatan mental, dan tumbuh kembang anak.

“Misalnya CSR-nya tidak bisa berhubungan dengan rokok. Terus kami juga tidak menggunakan produk susu tertentu. Jadi kami ada rules-rules sendiri yang memang sudah disepakati bersama,” ujar Gie.

Ke depan, Kids Biennale Indonesia menargetkan penguatan kolaborasi internasional dengan berbagai negara di Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat. Pada 2027, organisasi tersebut berencana mengangkat tema “Empati” sebagai isu utama gerakan.

Bagi Gie, seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga sarana membangun perubahan sosial dan keberanian anak untuk menyuarakan pengalaman mereka.

“Hal kecil seperti memberikan panggung kepada anak-anak untuk bicara tentang pengalaman dan karya mereka, bagi saya itu adalah agent of change,” ujar Gie Sanjaya.

Tags: TOP CSR Awards 2026Yayasan Kids Biennale Indonesia
Previous Post

Indonesia Perkuat Strategi Pembiayaan Tahun 2026

Next Post

Seminar Indonesia Credit Spotlight 2026, Pefindo dan S&P Global Ratings: Trik Jaga Ketahanan Ekonomi di Tengah Isu Geopolitik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR