Jakarta, TopBusiness – Tekanan pada nilai tukar rupiah yang kini menyentuh level Rp17.900 per dollar AS, utamanya disebabkan oleh menyempitnya surplus neraca perdagangan Indonesia per April 2026 yang tercatat sebesar US$ 90 juta.
Meskipun capaian ini berhasil memperpanjang tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, namun disebut analis PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), angka tersebut merupakan rekor surplus terkecil sejak tahun 2019 akibat adanya lonjakan nilai impor yang signifikan.
“Penurunan surplus ini secara fundamental berpotensi menekan posisi current account balance (neraca transaksi berjalan) kita semakin dalam ke depannya,” ujarnya, dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).
Pelemahan rupiah yang cukup agresif mencapai 7% secara Year-to-Date (YTD) menjadi faktor utama yang mendorong koreksi tajam IHSG saat ini. Hal ini justru memicu peningkatan arus modal keluar (capital outflow).
“Hingga periode ini, capital outflow di pasar ekuitas telah menembus Rp66,2 triliun dan berpotensi masih akan membesar jika volatilitas kurs terus berlanjut,” ujarnya.
Hubungan erat antara stabilitas nilai tukar dengan ekspektasi kinerja emiten berbobot besar tersebut, kata dia, membuat pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000 langsung direspons pasar dengan pengurangan posisi portfolio saham secara serentak.
