Jakarta, TopBusiness – Pada Rabu—Kamis (3–4 Juni 2026), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara Bursa Karbon (IDXCarbon) menyelenggarakan serangkaian talk show dan sosialisasi di Surabaya guna meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat serta pelaku usaha dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Demikian disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia atau BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, di Jakarta, akhir pekan ini.
Kegiatan diawali dengan talk show “Gaya Hidup Rendah Karbon” yang dibuka oleh Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dan dihadiri perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Jejak Enviro Teknologi.
Talk show tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sumber emisi dalam aktivitas sehari-hari, langkah mitigasi yang dapat diterapkan, serta pentingnya komitmen aksi personal dan offset emisi karbon.
Selanjutnya, BEI bersama OJK menggelar Sosialisasi Perdagangan Karbon di Bursa Karbon bagi Lembaga Jasa Keuangan dan Pelaku Industri di Daerah untuk meningkatkan literasi pasar karbon, memperkenalkan perkembangan kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), serta mendorong integrasi strategi dekarbonisasi dalam dunia usaha.
“Melalui kedua kegiatan tersebut, BEI menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem pasar karbon Indonesia, mendorong investasi hijau berkelanjutan, dan mendukung pencapaian target Net Zero Emissions Indonesia,” ujar Kautsar.
Kemudian pada Kamis (4/6), BEI bersama Kementerian Keuangan Republik Indonesia menyelenggarakan seminar bertema “Penguatan Transaksi Repurchase Agreement Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk Meningkatkan Likuiditas SBSN” di Main Hall BEI, yang turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, DSN-MUI, serta berbagai asosiasi industri.
Dikatakan, BEI menegaskan komitmennya untuk memperluas cakupan instrumen underlying pada Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) guna mendukung transaksi Repo berbasis SBSN dan memperdalam likuiditas pasar surat utang Indonesia.
“Hingga 29 Mei 2026, SPPA mencatat total nilai transaksi sebesar Rp602,9 triliun, meningkat 114,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh transaksi SBSN sebesar Rp105 triliun dan transaksi Repo sebesar Rp348,7 triliun, sehingga melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memperkuat efisiensi, transparansi, dan daya saing pasar keuangan Indonesia,” tutup Kautsar.
