Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin (8/6/2026) dibuka melemah 108,46 poin atau 1,94 persen ke level 5.486,31. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 12,06 poin atau 2,16 persen ke posisi 545,69.
Tekanan jual berlanjut pada menit-menit awal perdagangan. Hingga sekitar pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat turun lebih dalam ke level 5.412,32 atau melemah 182,44 poin setara 3,26 persen.
Aktivitas transaksi pada awal perdagangan terpantau cukup tinggi. Volume transaksi mencapai 2,78 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,92 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 186.761 kali. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 55 saham menguat, 536 saham melemah, dan 109 saham bergerak stagnan.
Pelemahan indeks terutama dipicu aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan yang selama ini menjadi motor penggerak utama IHSG.
Beberapa saham yang menjadi penekan indeks pada perdagangan pagi antara lain:
| Kode Saham | Harga | Perubahan |
|---|---|---|
| BBCA | Rp4.800 | turun Rp200 |
| BMRI | Rp3.000 | turun sekitar Rp80 |
| BBNI | Rp3.940 | turun sekitar Rp140 |
| BBRI | Rp3.820 | turun sekitar Rp100 |
Selain saham perbankan, tekanan jual juga terjadi pada sejumlah saham di sektor infrastruktur, transportasi, dan bahan baku. Kondisi ini membuat seluruh indeks sektoral berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan.
Sektor transportasi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun 4,72 persen, disusul sektor infrastruktur yang terkoreksi 4,67 persen dan sektor bahan baku yang melemah 4,34 persen.
Dari sisi teknikal, pelemahan yang terjadi menunjukkan sentimen pasar masih sangat negatif. Dominasi saham yang turun dibanding saham yang naik mencerminkan aksi jual berlangsung secara luas dan tidak hanya terkonsentrasi pada saham tertentu.
Tekanan terhadap IHSG diperkirakan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Saham-saham perbankan besar menjadi sasaran utama aksi profit taking dan pengurangan portofolio karena memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks. Akibatnya, setiap koreksi pada saham-saham tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Untuk jangka pendek, level 5.400 menjadi area psikologis penting yang akan dicermati pelaku pasar. Apabila tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut ditembus, peluang pelemahan lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, apabila terjadi aksi beli pada saham-saham unggulan yang telah terkoreksi cukup dalam, IHSG berpotensi mengalami technical rebound pada sesi berikutnya.
Data AI
