Jakarta, TopBusiness – Asia FinTech Alliance (AFA) meluncurkan ajang penghargaan regional pertamanya, Asia FinTech Alliance Awards (AFA Awards), sebagai upaya mendorong perusahaan fintech Asia yang telah terbukti skalabel untuk memperluas bisnis ke 16 negara anggota aliansi tersebut.
Inisiatif ini hadir di tengah proyeksi industri yang memperkirakan Asia akan menjadi pasar fintech terbesar di dunia pada 2030. Seiring perkembangan industri, perusahaan fintech di kawasan ini dinilai telah bergerak melampaui tahap pembuktian konsep (proof-of-concept) menuju model bisnis yang lebih matang dan siap berkembang secara luas.
Chairwoman AFA sekaligus Honorary Chairperson Taiwan Fintech Association (TFTA), Jaclyn Tsai, mengatakan penghargaan tersebut menjadi ajang pertama di Asia yang dibentuk bersama oleh asosiasi fintech dari 16 negara.
“Ini merupakan ajang penghargaan unggulan utama di Asia, yang untuk pertama kalinya dibentuk secara bersama oleh asosiasi-asosiasi fintech dari 16 negara. Kami tidak hanya mencari teknologi kelas atas, tetapi juga perusahaan dengan rekam jejak yang terbukti dalam menyelesaikan tantangan lintas negara,” ujar Tsai dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, sejumlah lembaga investasi internasional turut dilibatkan dalam tahap seleksi final. Para pemenang nantinya berpeluang memperoleh akses untuk berekspansi ke seluruh pasar yang tergabung dalam AFA. “Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan landasan peluncuran bagi peningkatan besar ekosistem keuangan lintas negara di Asia,” katanya.
AFA sendiri memiliki struktur keanggotaan unik, di mana setiap negara hanya diwakili oleh satu organisasi industri. Saat ini, aliansi tersebut mencakup 16 negara, yakni Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Jepang, Filipina, Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Thailand, Kamboja, Mongolia, Nepal, India, Vietnam, Sri Lanka, dan Uzbekistan.
Pada penyelenggaraan perdananya, AFA Awards menggunakan mekanisme nominasi berbasis undangan. Setiap organisasi anggota AFA dapat mengajukan maksimal tujuh perusahaan fintech untuk mengikuti seleksi.
Proses penilaian akan dilakukan dalam dua tahap oleh dewan juri yang terdiri atas investor modal ventura dan pakar industri dari 16 negara. Penilaian difokuskan pada kekuatan fundamental bisnis, kemampuan inovasi, serta potensi pertumbuhan internasional peserta.
Vice Chairperson AFA sekaligus Chair of Global Partnership pada Korea Fintech Industry Association, Dongpyo Hong, mengatakan setiap anggota AFA akan menominasikan perusahaan yang merepresentasikan kekuatan dan inovasi terbaik dari masing-masing pasar.
“Kami berharap dapat melihat perusahaan-perusahaan unggulan dengan profil yang beragam. AFA Awards bukan sekadar program penghargaan, melainkan peta ekosistem fintech Asia. Mampu menonjol di lingkungan yang sangat kompetitif dan beragam akan menjadi validasi kuat atas kapabilitas suatu perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Vice Chairperson AFA sekaligus Advisor dan Founding Member Fintech Association of Malaysia, Wilson Beh, menilai penghargaan ini menjadi langkah penting untuk menciptakan nilai nyata bagi anggota AFA.
Menurut Beh, platform tersebut tidak hanya memperkuat kolaborasi antar-asosiasi fintech di kawasan, tetapi juga membuka peluang eksposur internasional, kerja sama bisnis, serta ekspansi lintas negara bagi perusahaan-perusahaan unggulan.
“Melalui platform ini, kami membantu perusahaan fintech memperoleh peluang pertumbuhan yang lebih luas dan memanfaatkan jaringan regional AFA untuk mempercepat ekspansi bisnis,” katanya.
