Jakarta, TopBusiness—Pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di level 6.177 atau menguat kurang lebih 2,82% dibandingkan pekan sebelumnya. Di masa penguatan IHSG dalam 1 minggu terakhir, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp 4.5 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), David Kurniawan, menegaskan pergerakan positif IHSG selama sepekan terakhir terkerek sentimen global dan domestik. Dari global, ada The Fed yang menahan suku bunga. Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) kembali menahan suku bunga acuan di level tertingginya dalam dua dekade terakhir alih-alih membawa ketenangan, justru mulai memicu alarm kecemasan di pasar keuangan global.
“Kebijakan menahan ini bukan lagi cerminan dari strategi yang penuh kehati-hatian, melainkan sebuah pengakuan tersirat bahwa inflasi jauh lebih kebal dan sulit ditaklukkan daripada yang mereka perkirakan semula,” tegas David dalam analisis terbaru yang diterima Redaksi Majalah TopBusiness, pagi ini.
Bagi negara-negara berkembang (emerging markets), imbuh David, narasi higher-for-longer suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama adalah sebuah pil pahit yang harus ditelan tanpa kepastian kapan efeknya akan berakhir.
Sementara itu dari domestik ada juga sentimen suku bunga 5.75%. Melampaui ekspektasi dan proyeksi konsensus pasar, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah preemtif yang agresif dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) ke level 5,75%.
David menegaskan keputusan yang tidak terduga ini memicu penyesuaian instan (repricing) di pasar keuangan domestik, khususnya pada instrumen ekuitas dan obligasi. Kebijakan moneter yang ketat ini mengindikasikan adanya eskalasi risiko pada stabilitas makroekonomi global serta tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang lebih signifikan daripada yang diantisipasi publik.
“Melalui langkah ini otoritas moneter memprioritaskan stabilitas stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi, meskipun harus memitigasi risiko perlambatan pada momentum pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek.”
Sentimen dan Rekomendasi Pekan Ini
David menegaskan pasar sempat berada dalam tekanan tinggi setelah MSCI merilis laporan Global Market Accessibility Review yang menurunkan peringkat indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif.
Penurunan tersebut dipicu oleh catatan kritis mengenai transparansi struktur kepemilikan saham (free float) dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi (coordinated trading).
“Skenario terburuk mengenai potensi penurunan kasta (downgrade) menjadi Frontier Market sempat membayangi bursa. Namun, mayoritas dari 18 kriteria aksesibilitas lainnya yang tetap terjaga, memberikan fondasi bagi pasar untuk merawat optimisme aset-aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia yang memperoleh sentimen positif,” tegasnya.
David lantas memberikan rekomendasi untuk saham dan obligasi ini:
- Buy on Breakout GGRM (Current Price: 16,625, Entry: 17,475, Target Price: 19,000 (8.73%), Stop Loss: 16,600 (-5.01%) dan Risk to Reward Ratio 1:1.7). Emiten PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dalam jangka pendek kembali bergerak di atas MA5 dan MA20 dan berpotensi breakout dari area konsolidasinya.
- Buy on Breakout MAPI (Current Price: 1,510, Entry: 1,520, Target Price: 1,630 (7.24%), Stop Loss: 1,470 (-3.29%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.2). Emiten MAPI (PT Mitra Adiperkasa Tbk) konsisten bertahan di atas MA5 dan price action mendukung untuk breakout dan melanjutkan kenaikan.
- Buy on Pullback DEWA (Current Price: 368, Entry: 358 (362), Target Price: 400 (11.73%), Stop Loss: 340 (-5.03%) dan Risk to Reward Ratio 1:2.3). Saham DEWA (PT Darma Henwa Tbk) dalam jangka pendek bertahan di atas MA5 dan indikator MACD masih cenderung mengarah bullish.
- Buy Obligasi PBS 038. Dengan kondisi obligasi 10 year yield Indonesia di area 7.07%, IPOT merekomendasikan PBS 038 dengan kupon per tahun 6.87% dan yield 7.17%.
