Jakarta, TopBusiness – Transaksi emas digital mencatatkan peningkatan yang signifikan sepanjang pekan kedua Juni 2026, di tengah koreksi harga emas global yang dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Berdasarkan data JFX, volume transaksi emas digital pada periode 7–13 Juni 2026 mencapai 11.897,10 atau meningkat 49,94% dibandingkan pekan sebelumnya. Sejalan dengan itu, nilai transaksi naik 44,74% menjadi Rp29,51 miliar.
“Peningkatan aktivitas transaksi tersebut terjadi ketika harga emas global mengalami tekanan setelah Federal Reserve mempertahankan sikap yang cenderung hawkish,” ujar Yazid Kanca Surya, Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX), dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Pasar merespons revisi proyeksi suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026 yang mengindikasikan suku bunga acuan berpotensi bertahan lebih tinggi untuk periode yang lebih panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan menekan harga emas dunia. Namun, koreksi harga yang terjadi justru dimanfaatkan oleh sebagian investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
“Di tengah volatilitas pasar keuangan global, emas tetap dipandang sebagai salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan portofolio dalam jangka Panjang,” katanya.
Meski demikian, lanjut dia, sentimen safe haven belum menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar emas saat ini. Perkembangan positif dalam upaya deeskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meredam kebutuhan investor untuk mencari perlindungan melalui aset-aset defensif.
“Dalam jangka pendek, sebagian pelaku pasar masih menilai dolar AS lebih menarik sebagai aset lindung nilai dibandingkan emas,” tegasnya.
Selain emas digital, transaksi olein juga menunjukkan perbaikan pada pekan kedua Juni 2026. Volume transaksi olein meningkat 121,20% dibandingkan pekan sebelumnya menjadi 13.763, sementara nilai transaksi naik 7,91% menjadi Rp1,48 triliun.
Peningkatan transaksi tersebut terjadi di tengah dinamika pasar minyak nabati global yang cukup kompleks.
Di satu sisi, penurunan harga minyak mentah dunia memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit dan produk turunannya karena berkurangnya daya saing biodiesel berbasis sawit.
Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi gangguan pasokan akibat risiko El Niño di Malaysia yang diperkirakan dapat mempengaruhi produksi sawit sepanjang tahun ini.
Selain itu, kenaikan ekspor sawit Malaysia pada awal Juni turut memberikan dukungan terhadap sentimen pasar.
“Meskipun demikian, pelaku pasar masih mempertimbangkan sejumlah faktor lain seperti meningkatnya persediaan minyak sawit di Malaysia, persaingan dengan minyak nabati alternatif seperti soyoil, serta belum pulihnya permintaan dari China yang merupakan salah satu konsumen utama produk sawit global,” tegas dia.
Pada komoditas lainnya, aktivitas transaksi timah ekspor mengalami normalisasi setelah mencatatkan lonjakan pada akhir Mei lalu. Volume transaksi timah ekspor tercatat sebanyak 300 transaksi atau turun 20% dibandingkan pekan sebelumnya, dengan nilai transaksi sebesar Rp 297,03 miliar.
Kendati demikian, harga rata-rata transaksi timah masih meningkat 2,99%, mencerminkan bahwa pasar tetap memperhatikan potensi pengetatan pasokan dari sejumlah negara produsen utama.
Instrumen Penyalur Amanat Luar Negeri (PALN) juga mencatatkan penurunan aktivitas setelah mengalami reli yang kuat pada dua pekan sebelumnya. Pada periode 7–13 Juni 2026, volume transaksi PALN tercatat sebanyak 1,06 juta lot dengan nilai transaksi Rp15,91 triliun.
“Kondisi ini menunjukkan sebagian pelaku pasar cenderung mengambil posisi yang lebih hati-hati setelah tingginya aktivitas transaksi pada pekan-pekan sebelumnya,” tegasnya.
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan di JFX sepanjang pekan kedua Juni 2026 menunjukkan bahwa minat pelaku pasar terhadap instrumen perdagangan berjangka tetap terjaga.
Dinamika yang terjadi pada emas digital, olein, timah ekspor, maupun instrument berbasis akses pasar global mencerminkan bagaimana pelaku pasar terus merespons perkembangan kebijakan moneter, kondisi geopolitik, serta perubahan fundamental pada berbagai komoditas dan aset keuangan dunia.
