Jakarta, TopBusiness – PT Hutama Marga Waskita (Hamawas) selaku pengelola Jalan Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (Kutepat) terus memperkuat komitmen dalam menghadirkan layanan jalan tol yang aman, andal, dan responsif bagi pengguna jalan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan dan Simulasi Pemadaman Kebakaran bagi petugas layanan operasi Tol Kutepat.
Kegiatan yang diselenggarakan di Gerbang Tol Dolok Merawan ini diikuti oleh petugas layanan operasi dengan melibatkan instruktur dan pemateri dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tebing Tinggi. Kolaborasi ini dilakukan untuk memastikan materi pelatihan, teknik penanganan awal, serta simulasi kondisi darurat diberikan sesuai prosedur keselamatan yang tepat dan aplikatif di lapangan.
Pelatihan ini menjadi penting mengingat jalan tol merupakan infrastruktur transportasi strategis dengan tingkat mobilitas tinggi, sehingga membutuhkan kesiapan petugas dalam merespons berbagai potensi keadaan darurat, termasuk kebakaran kendaraan, gangguan di area gerbang tol, maupun insiden lain yang dapat berdampak terhadap keselamatan dan kelancaran perjalanan pengguna jalan. Kesiapsiagaan petugas juga menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jalan Tol, khususnya pada aspek keselamatan serta unit pertolongan/penyelamatan dan bantuan pelayanan.
Corporate Secretary Hamawas, Ergy Pramadipta, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmenHamawas dalam meningkatkan kompetensi dan keterampilan petugas layanan operasi agar mampu memberikan respons cepat, tepat, dan terukur ketika menghadapi kondisi darurat di lingkungan jalan tol.
“Keselamatan pengguna jalan merupakan prioritas utama dalam operasional Tol Kutepat. Melalui pelatihan dan simulasi ini, kami ingin memastikan petugas memiliki pemahaman, keterampilan, serta kepercayaan diri dalam melakukan penanganan awal keadaan darurat secara profesional, cepat, dan sesuai prosedur,” ujar Ergy.
Ergy menambahkan, peningkatan kapasitas petugas tidak hanya penting untuk aspek teknis, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan budaya keselamatan di lingkungan operasional jalan tol. Menurutnya, petugas layanan tol merupakan garda terdepan yang harus memiliki kemampuan responsif, disiplin prosedur, dan ketenangan dalam membantu pengguna jalan pada situasi darurat sehingga target pelayanan berupa Zero Accident dapat tercapai.
“Kami terus mendorong agar seluruh petugas layanan operasi memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam setiap kondisi. Respons yang cepat dan tepat di lapangan menjadi salah satu kunci dalam meminimalkan risiko, menjaga keselamatan pengguna jalan, serta memastikan pelayanan Tol Kutepat tetap berjalan optimal,”tutup Ergy.
Rangkaian pelatihan ini mengombinasikan sesi teori dan praktik lapangan guna memastikan peserta memiliki pemahaman yang komprehensif dalam penanganan keadaan darurat. Pada sesi teori, peserta dibekali pengetahuan mengenai klasifikasi sumber api, identifikasi potensi bahaya di lingkungan operasional jalan tol, prinsip dasar pencegahan kebakaran, serta langkah-langkah penanganan awal saat terjadi insiden.
Selanjutnya, peserta mengikuti praktik simulasi pemadaman kebakaran dengan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Dalam sesi ini, petugas dilatih mengenai teknik penggunaan APAR yang benar, pemilihan media pemadam yang sesuai, posisi aman saat melakukan pemadaman, serta tahapan penanganan awal secara cepat dan aman sebelum bantuan lanjutan tiba di lokasi.
Melalui kegiatan ini, Hamawas berharap dapat terus membangun petugas layanan operasi yang kompeten, tanggap, dan adaptif dalam menghadapi berbagai kondisi darurat. Pelatihan serupa juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat kualitas layanan operasional, meningkatkan standar keselamatan, serta menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi seluruh pengguna Jalan Tol Kutepat.
Hamawas juga mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk turut berperan aktif menjaga keselamatan selama berkendara di jalan tol. Pengguna jalan diharapkan memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, memeriksa potensi gangguan teknis sebelum perjalanan, mematuhi batas kecepatan, tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat, serta segera menghubungi layanan jalan tol apabila membutuhkan bantuan di perjalanan.
