Jakarta, TopBusiness – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperoleh tambahan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari pemerintah. Tambahan dana tersebut diyakini akan memperkuat likuiditas perseroan sekaligus membuka ruang lebih besar bagi ekspansi kredit, khususnya di sektor perumahan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penempatan dana SAL menjadi instrumen penting bagi perbankan dalam menjaga stabilitas likuiditas di tengah dinamika perekonomian. Dengan bertambahnya dana SAL yang dikelola, BTN memiliki kapasitas yang lebih kuat untuk menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Keuangan atas kepercayaan yang diberikan kepada BTN. Penempatan dana SAL ini sangat penting bagi kami,” ujar Nixon dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).
Menurut Nixon, likuiditas yang memadai menjadi fondasi utama bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada sektor produktif. Karena itu, tambahan dana SAL tidak hanya memperkuat struktur pendanaan perseroan, tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan kredit yang lebih optimal.
“Ini bukan sekadar memperkuat fundamental likuiditas perusahaan, tetapi menjadi stimulus bagi kami untuk terus menggerakkan roda perekonomian melalui penyaluran kredit yang lebih agresif namun tetap terukur,” katanya.
Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti menambahkan, dukungan likuiditas dari pemerintah memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi BTN untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki efek pengganda terhadap perekonomian nasional.
Sebagai bank yang berfokus pada pembiayaan perumahan, BTN akan mengarahkan pemanfaatan dana tersebut untuk mendukung sektor properti dan sektor riil yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Tugas kami adalah memastikan likuiditas ini tersalurkan dengan efektif ke sektor riil. Kami optimistis, dengan total dana SAL yang ada, BTN dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan kredit yang berkualitas,” ujar Venda.
Ia menegaskan pengelolaan dana SAL tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian perbankan. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga efisiensi operasional, mengantisipasi dinamika pasar uang, serta memastikan pembiayaan yang disalurkan tetap berkualitas dan tepat sasaran.
Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan pemerintah sempat menarik dana SAL sebesar Rp110 triliun pada Juni 2026. Penarikan tersebut membuat posisi dana pemerintah yang ditempatkan di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) turun menjadi sekitar Rp181 triliun dari sebelumnya Rp281 triliun.
Tambahan penempatan dana SAL kepada sejumlah bank BUMN, termasuk BTN, diharapkan dapat menjaga kecukupan likuiditas industri perbankan sekaligus memperkuat dukungan pembiayaan terhadap sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
