Jakarta, BusinessNews Indonesia – Dalam rangka ikut melestarikan batik sebagai kekayaan warisan budaya nusantara, Samara Suites Gatot Subroto (Group Synthesis Development), mengadakan bincang ringan bersama Notty J Mahdi Pemerhati Wastra dan Antropolog Universitas Indonesia. Kali ini dengan mengangkat tema “Batik Pesisir Kancah Batik Niaga”.
Batik nusantara memiliki beragam keunggulan, salah satunya adalah corak dan motif yang sangat banyak yang tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Banyak motif batik yang dibuat dengan ritual tertentu dan memiliki nilai skaral yang dipakai dalam berbagai moment tertentu, seperti acara-acara di keraton.
Namun banyak juga batik di luar keraton yang ada di Jawa, berkembang luas sejak dulu dengan corak dan motif di luar pakem yang sangat beragam. Termasuk salah satunya batik-batik pesisir yang ada di Jawa yang sejak dulu juga telah banyak dikembangkan secara niaga. Bahkan banyak di antaranya yang dibawa pedagang atau kolektor ke manca negara.
“Berdasarkan penelusuran yang kami lakukan, hampir semua daerah yang ada di wilayah pesisir, itu memiliki batik dengan ciri khas motif yang berbeda. Mulai dari daerah Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Batang, Semarang, Lasem, dan beberapa daerah lainnya. Masing-masing punya batik motif dengan keunikan tersendiri. Namun yang berkembang dan menonjol secara komersial niaga, hanya beberapa daerah. Seperti batik Cirebon, Pekalongan, dan Lasem. Padahal batik dari daerah pesisir lainnya juga potensial dikembangkan atau dibina lebih lanjut untuk kelangsungannya,” ujar Notty J Mahdi kepada wartawan di acara bincang santai “Batik Pesisir Kancah Batik Niaga”, (25/4), di Synthesis Square Gatot Subroto, Jakarta.
Menurutnya, meski tidak seperti batik keraton yang memiliki pakem tertentu, beberapa batik yang ada di daerah pesisir juga memiliki beragam filosofi dan warisan budaya tinggi. Secara umum, motif batik pesisir lebih berwarna berani, karena dipengaruhi adanya campuran budaya, di antaranya WNI Keturunan (China) dan Arab.
“Jika batik keraton hadir dengan tampilan warna agak gelap dengan pakem tegas dan elegan yang sarat filosofi, kalau batik pesisir justru kebalikannya. Batik pesisir lahir di luar tembok keraton, sehingga tampilan warna lebih ekspresif dan berani, seperti merah dan kuning yang digemari WNI keturunan. Sedangkan pengaruh Arab, bisanya motif warna cenderung biru atau hijau,” ujarnya.
Karena pertimbangan bisnis, belakangan lanjutnya, Batik di Indonesia juga dikembangkan dengan motif dan warna yang lebih beragam tanpa terikat pakem dan nilai filosofi. Sehingga banyak dijumpai motif batik yang dikembangkan sesuai dengan tren yang sedang digemari anak masa kini. Dalam kesempatan itu juga diisi dengan peragaan busana batik khas nusantara dari berbagai daerah, termasuk batik pesisir.”Jadi sekarang berkembang namanya batik kombinasi yang lebih karena mengikuti tren. Makanya ada istilah batik gaya Manohara, Syahrini, dan lainnya,” ujar Notty J Mahdi. (AC)
