TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Geopolitik Mereda, Dana Asing Mulai Kembali Masuk Pasar Indonesia

Nurdian Akhmad
17 July 2026 | 13:27
rubrik: Business Info, Ekonomi
Sentimen Positif AS Bakal Picu Rupiah di Zona Merah

foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Economic Researcher PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Myrdal Gunarto menilai sentimen pasar global mulai bergerak lebih konstruktif seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuka peluang meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko, termasuk di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Myrdal menjelaskan, sinyal kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah membantu menurunkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan rantai pasokan global, terutama pada jalur distribusi energi. Dampaknya, harga minyak dunia yang sebelumnya menjadi sumber volatilitas kembali terkoreksi ke level yang lebih terkendali.

“Harga minyak Brent kini bergerak di kisaran US$72,61 per barel atau kembali di bawah level US$75 per barel. Meredanya tekanan harga energi juga menurunkan volatilitas pasar dan memberikan ruang bagi investor untuk kembali mempertimbangkan aset berisiko,” kata Myrdal dalam keterangannya yang dikutip Jumat (17/7/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut tercermin dari indeks volatilitas (VIX) yang turun ke kisaran 17,65–18,89. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) masih bertahan kuat di level 101,11–101,61 sehingga tetap memberikan tekanan terhadap mata uang global.

Meski demikian, yield US Treasury tenor 10 tahun mulai menurun ke kisaran 4,37%-4,39% sejalan dengan berkurangnya premi risiko energi. Sentimen positif juga terlihat dari penguatan indeks Dow Jones yang mencetak rekor tertinggi baru di level 52.319.

Dari kawasan Asia, Myrdal melihat perbaikan aktivitas manufaktur China menjadi katalis positif bagi pasar. Data NBS Manufacturing PMI China naik dari 50 menjadi 50,3 pada Juni 2026, menandakan sektor manufaktur kembali berada di zona ekspansi.

“Perbaikan indikator tersebut menunjukkan pemulihan sektor riil China mulai berjalan lebih stabil, didukung pesanan pra-pengiriman dan volume ekspor yang masih kuat,” ujarnya.

BACA JUGA:   Cadangan Devisa Mei 2019 Turun, Ini Penyebabnya

Perkembangan tersebut turut menopang mata uang regional dan memperkuat ekspektasi masuknya kembali arus modal ke pasar negara berkembang di Asia.

Sementara dari dalam negeri, fokus investor tertuju pada kombinasi kebijakan moneter dan fiskal pemerintah. Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate secara akumulatif sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Kebijakan tersebut diikuti kenaikan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 25 basis poin. Di sisi fiskal, pemerintah dan DPR telah menyepakati postur RAPBN 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi yang cukup ekspansif, yakni 5,8%-6,5%.

Menurut Myrdal, target tersebut diharapkan didukung oleh berbagai program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memperoleh alokasi anggaran Rp224,6 triliun untuk meningkatkan indikator sosial sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Meski demikian, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Rupiah berada di kisaran Rp17.903 hingga Rp17.957 per dolar AS akibat kombinasi penguatan dolar global, kebutuhan valuta asing pada akhir bulan, termasuk pembayaran dividen dan kebutuhan haji, serta kenaikan inflasi domestik yang mencapai 3,34% secara tahunan pada Juni 2026.

Di tengah tekanan tersebut, pasar obligasi Indonesia masih menawarkan daya tarik. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,16%-7,17%, sementara kepemilikan investor asing pada SUN meningkat menjadi Rp884,25 triliun pada akhir Juni 2026.

“Hal ini menunjukkan minat investor asing mulai kembali secara bertahap ke pasar keuangan domestik,” kata Myrdal.

Ia menambahkan, meskipun PMI manufaktur Indonesia masih berada di zona kontraksi pada level 46,9, kondisi likuiditas domestik tetap menjadi faktor penopang ekonomi. Hal ini terlihat dari pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) yang mencapai 10,8%.

BACA JUGA:   Jadi Ujung Tombak Penurunan Emisi di RI, PLN Konsisten Jaga Kelestarian Bumi

Selain itu, penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp400 triliun di bank-bank Himbara dinilai dapat membantu menjaga transmisi kredit ke sektor riil.

Myrdal mengingatkan investor untuk tetap selektif dalam menyusun portofolio investasi di tengah dinamika pasar yang masih tinggi. Bagi investor konservatif, instrumen defensif seperti reksa dana pasar uang dan Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih menarik. Sementara investor moderat dapat mempertimbangkan diversifikasi ke reksa dana pendapatan tetap dan obligasi pasar sekunder. Adapun investor agresif dengan horizon jangka panjang dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan melalui reksa dana saham secara bertahap dengan tetap memperhatikan pengelolaan risiko.

Tags: Dana asing masukKonflik Geopolitik
Previous Post

Indonesia Resmi jadi Founding Member WAICO, Menko Airlangga Tegaskan Komitmen untuk Jembatani Kesenjangan AI Global

Next Post

Kementerian UMKM Perkuat Transformasi Tata Kelola UMKM melalui SAPA UMKM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR