Jakarta, TopBusiness — PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) memulai fase kemandirian Program Sentra Kriya Ogan Ilir melalui pertemuan serah terima program di Aula Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (30/07). Agenda ini menandai peralihan pengelolaan program dari pendampingan penuh Perseroan menjadi pengelolaan mandiri oleh 65 perajin perak, tembaga, dan kain Gebeng bersama Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Hutama Karya, Dianita Saraswati; Plt. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Ogan Ilir, Rini Agustina, S.Sos., M.Si; Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ogan Ilir, Wahyudi Wibowo, M.Si; Kepala Seksi Kesejahteraan Kecamatan Tanjung Batu, Martini; serta mitra pendamping program, PT Olahkarsa Inovasi Indonesia.
Sepanjang periode pendampingan intensif Desember 2025–Mei 2026, kelompok binaan membukukan penjualan 100 lembar kain Gebeng senilai Rp81 juta dan 310 produk kerajinan perak senilai Rp15,6 juta. Perolehan tersebut menjadi baseline penjualan pertama yang tercatat secara terstruktur sejak program berjalan, sekaligus indikator utama kesiapan perajin memasuki fase mandiri.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Ogan Ilir memberikan apresiasi kepada PT Hutama Karya (Persero) atas terjalinnya kolaborasi antara dunia usaha dengan pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat, utamanya mengembangkan produktivitas perajin dengan membentuk program Sentra Kriya Ogan Ilir.
“Yang dilaporkan dan diserahkan hari ini bukan sekadar kegiatan pemberdayaan yang sudah dilaksanakan, namun juga kelompok usaha/koperasi yang semakin kuat untuk berkreasi dengan modal keterampilan pemasaran dan inovasi produk. Tugas kami selanjutnya adalah menciptakan pembinaan yang berkelanjutan dan menjaga ritme pendampingan usaha. Pola seperti ini yang kami harapkan diikuti mitra lain di Ogan Ilir,” ujar Rini Agustina dalam siaran pers.
Pada kesempatan terpisah, Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyampaikan bahwa fase kemandirian merupakan bagian dari desain program sejak awal, bukan penghentian dukungan.
“Ukuran keberhasilan program pemberdayaan bukan berapa lama kami mendampingi, melainkan kapan perajin tidak lagi membutuhkan kami. Empat tahun terakhir kami membangun modal, keterampilan, kelembagaan, dan akses pasar. Hari ini kemudi itu kami serahkan kepada perajin dan Pemerintah Daerah, dengan catatan keuangan dan mitra pasar yang sudah berjalan,” ujarnya.
Kabupaten Ogan Ilir dipilih karena berada di lintasan operasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Ruas Palembang–Indralaya–Prabumulih, sekaligus merupakan sentra perajin terbesar di Sumatera Selatan. Pemilihan lokasi ini merefleksikan pendekatan Hutama Karya yang menautkan program TJSL pada wilayah operasi bisnisnya, sesuai amanat Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-1/MBU/03/2023 yang menempatkan Pengembangan Usaha Mikro dan Usaha Kecil sebagai salah satu bidang prioritas TJSL.
Program yang menjadi bagian dari payung HK Peduli Kreatif ini berjalan bertahap sejak 2023. Tahun pertama difokuskan pada penambahan modal bahan baku kerajinan perak–tembaga dan pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Usang Sungging. Dukungan diperluas pada 2024 ke wastra tradisional Ogan Ilir melalui Koperasi Produsen Kain Gebeng Maju Berjaya.
Memasuki 2025, Perseroan menggandeng PT Olahkarsa Inovasi Indonesia sebagai mitra pendamping untuk pembinaan teknis dan promosi intensif hingga April 2026.
Pada fase pendampingan intensif, proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk Motif Limar Padi Pegagan pada Kain Gebeng, satu paket profil dan katalog produk, serta dua mitra pemasaran aktif yakni KC Haris Jaya dan Puswabar. Perseroan bersama Olahkarsa juga menginisiasi Youth Culture Creative (YCC) yang melibatkan mahasiswa Ogan Ilir dan komunitas HIMUKTA sebagai duta budaya, dengan puncak kegiatan berupa Experience Day pada Mei 2026. Hasil perhitungan SROIImpact yang dihasilkan dari adanya program ini dengan perhitungan Social Return on Investment (SROI) adalah dampak sosial ekonomi dan kelestarian budaya dengan perolehan skor SROI 2,40. Artinya setiap Rp1 yang diserahkan HK menghasilkan Rp2,40 bagi peningkatan ekonomi perajin.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh perajin.“Dalam menghasilkan produk kain tenun gebeng kendala kami adalah bagaimana cara memasarkan produk ke konsumen, dengan hadirnya Hutama Karya memberikan kami pembekalan manajemen pemasaran kami sudah mulai memanfaatkan digital marketing untuk menarik pelanggan. Sekarang ada katalog, ada harga yang jelas, dan pembeli bisa lihat dari HP. Selain itu, kami juga dibekali kreasi motif untuk memperkaya produk tenun gebeng yang dihasilkan dari Ogan Ilir.” ujar Madu Lukita (26), Ketua Koperasi Produsen Kain Gebeng Maju Berjaya.
Untuk menjembatani transisi, Hutama Karya menghadirkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Tanjung Batu yang memberikan pembekalan manajemen keuangan usaha dan akses permodalan, serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Ogan Ilir yang memperkuat tata kelola kepengurusan koperasi.
Meski pendampingan intensif berakhir, Perseroan tetap menjalankan mekanisme pemantauan pada fase lanjutan sebagai exit program. Kepala Unit TJSL Hutama Karya, Dianita Saraswati, menjelaskan bahwa rangkaian tindak lanjut terdiri dari beberapa tahap agar proses kemandirian kelompok usaha dapat benar-benar dilepas tanpa intervensi dari Hutama Karya. Menurutnya, dua hal yang paling menentukan pada fase ini adalah konsistensi produksi dan disiplin pencatatan transaksi sebag keduanya yang menentukan apakah kelompok mampu bertahan tanpa pendamping.
Program Sentra Kriya Ogan Ilir menjadi wujud komitmen Hutama Karya dalam mendukung Asta Cita Presiden RI, khususnya misi ke-6 membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi, misi ke-2 mendorong kemandirian melalui penguatan ekonomi kreatif, serta misi ke-8 pelestarian budaya lokal di koridor JTTS, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Bagi Hutama Karya, kehadiran infrastruktur tidak berhenti pada konektivitas. Melalui Sentra Kriya Ogan Ilir, Perseroan menempatkan kriya lokal di sepanjang koridor JTTS sebagai rantai nilai ekonomi yang dapat tumbuh mandiri — dan berpotensi berkembang menjadi destinasi eduwisata bagi pengguna jalan tol.
