Jakarta, TopBusiness – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) terus memperkuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) terintegrasi sebagai fondasi utama pertumbuhan bisnis yang sehat, patuh, dan berkelanjutan. Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kinerja keuangan Danamon tetap positif di tengah dinamika ekonomi dan regulasi perbankan.
Kinerja Danamon menunjukkan tren pertumbuhan yang solid. Perseroan membukukan laba sebesar Rp3,5 triliun pada 2023, meningkat menjadi Rp4,0 triliun pada 2025, sementara pada semester I 2026 laba telah mencapai Rp2,4 triliun.
Compliance Director Danamon, Rita Mirasari, menegaskan bahwa penerapan GRC terintegrasi merupakan elemen strategis bagi keberlanjutan perusahaan.
“GRC memastikan Bank Danamon tumbuh secara sehat, patuh, dan berkelanjutan melalui tata kelola yang kuat, pengelolaan risiko yang efektif, serta kepatuhan terhadap regulasi dan komitmen kepada para pemangku kepentingan,” ujar Rita dalam presentasi TOP GRC Award 2026, Kamis (13/8/2026) kepada Dewan Juri secara daring.
Lima Pilar GRC Danamon
Menurut Rita, terdapat lima manfaat utama penerapan GRC di Danamon:
- Memastikan bank dikelola secara sehat sesuai regulasi, termasuk ketentuan OJK dan otoritas terkait.
- Memperkuat pengelolaan risiko dan ketahanan bank melalui manajemen risiko terintegrasi.
- Mendukung keuangan dan bisnis berkelanjutan melalui implementasi ESG, ESRM/ESRA, dan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB).
- Menjaga kepercayaan pemangku kepentingan dengan mendorong transparansi, akuntabilitas, independensi, kewajaran, dan tanggung jawab.
- Mendorong penciptaan nilai jangka panjang melalui pertumbuhan bisnis yang prudent dan berkelanjutan.
Rita menambahkan bahwa integrasi GRC dengan strategi keberlanjutan menjadikan Danamon lebih siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi, risiko operasional, maupun dinamika regulasi.
Perkuat Tata Kelola Melalui Berbagai Komite Strategis
Untuk memastikan implementasi GRC berjalan efektif, Danamon membangun struktur tata kelola yang kuat melalui sejumlah komite strategis, antara lain:
- Komite Nominasi dan Remunerasi
- Komite Audit
- Komite Pemantau Risiko
- Komite Tata Kelola
- Komite Tata Kelola Terintegrasi
- Komite Manajemen Risiko
- Komite Manajemen Risiko Terintegrasi
- Komite Assets & Liability (ALCO)
- Komite Pengarah Teknologi Informasi
- Komite Kredit/Pembiayaan
- Komite Kebijakan Perkreditan/Pembiayaan
Komite-komite tersebut bertugas memastikan kualitas pelaporan keuangan, efektivitas pengendalian internal, kepatuhan terhadap regulasi, pengawasan risiko, pengelolaan likuiditas dan permodalan, hingga penerapan tata kelola terintegrasi di seluruh entitas dalam konglomerasi keuangan Danamon.
“Seluruh keputusan bisnis, termasuk kredit dan pembiayaan, harus dilakukan secara prudent, objektif, dan sesuai dengan risk appetite yang telah ditetapkan,” jelas Rita.
Bangun Leadership dan Budaya Risiko hingga Level Terbawah
Selain memperkuat struktur tata kelola, Danamon juga menempatkan leadership dan culture sebagai kunci keberlanjutan perusahaan. Pengembangan kepemimpinan tidak hanya dilakukan di level manajemen puncak, tetapi hingga seluruh jenjang organisasi.
Danamon secara rutin menyelenggarakan pelatihan dan e-learning manajemen risiko agar seluruh karyawan memahami risiko dalam pekerjaannya serta mampu melakukan mitigasi secara tepat.
“Setiap insan Danamon wajib memahami risiko dan mampu mengatasinya. Budaya risiko harus hidup di seluruh organisasi, bukan hanya di level manajemen,” tegas Rita.
Siap Tumbuh Lebih Kuat
Dengan kombinasi tata kelola yang kuat, manajemen risiko terintegrasi, kepatuhan yang konsisten, serta budaya organisasi yang berorientasi pada risiko dan keberlanjutan, Danamon optimistis dapat terus menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkualitas sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan perekonomian nasional.
Penerapan GRC terintegrasi tersebut menjadi bukti bahwa pertumbuhan bisnis perbankan dapat berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan keberlanjutan jangka panjang.
