Jakarta, TopBusiness – Pembiayaan berbasis emas mulai menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis konsumer Bank Mega Syariah. Hal itu tercermin dari kinerja Flexi Gold yang mencatatkan lonjakan outstanding hingga 1.796% menjadi Rp42 miliar pada Juli 2026 dibandingkan posisi Desember 2025.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan produk pembiayaan konsumtif lainnya yang dimiliki Bank Mega Syariah. Produk pembiayaan kepemilikan emas itu dikembangkan perseroan sejak akhir 2025 untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin memiliki aset emas sekaligus memperoleh akses pembiayaan.
Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah Benadicto Alvonzo Ferary mengatakan perkembangan Flexi Gold menunjukkan semakin beragamnya kebutuhan masyarakat terhadap produk pembiayaan.
“Kami melihat kebutuhan pembiayaan masyarakat semakin beragam. Salah satu yang menunjukkan perkembangan cukup kuat adalah pembiayaan berbasis emas,” ujar Alvonzo dalam keterangan pers, Kams (20/8/2026).
Menurut dia, emas tidak lagi hanya dipandang sebagai instrumen untuk menyimpan nilai. Bagi sebagian masyarakat, aset tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan keuangan ketika membutuhkan dana.
“Masyarakat tidak hanya melihat emas sebagai aset untuk menjaga nilai, tapi juga dapat memanfaatkannya untuk memperoleh pembiayaan ketika membutuhkan dana tanpa harus melepaskan kepemilikan aset tersebut,” katanya.
Pertumbuhan Flexi Gold terjadi ketika bisnis pembiayaan konsumer Bank Mega Syariah secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif.
Hingga Juli 2026, pembiayaan konsumer Bank Mega Syariah mencapai Rp596,7 miliar atau tumbuh 4,97% secara year to date (ytd). Produk tersebut mencakup pembiayaan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain kepemilikan hunian, kebutuhan multiguna, hingga pembiayaan berbasis aset seperti emas.
Di antara produk konsumtif tersebut, Flexi Gold mencatatkan pertumbuhan paling tinggi sejak akhir 2025. Outstanding yang pada Desember 2025 masih relatif kecil, meningkat hingga mencapai Rp42 miliar pada Juli 2026.
Alvonzo mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi salah satu hasil dari pengembangan Flexi Gold yang dimulai pada penghujung 2025. “Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan Flexi Gold sejak mulai kami kembangkan pada akhir 2025,” ujarnya.
Peluang Pasar Masih Terbuka
Bank Mega Syariah melihat peluang pengembangan pembiayaan konsumer masih terbuka seiring kebutuhan masyarakat terhadap akses pendanaan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit konsumsi perbankan nasional tumbuh 5,75% secara year on year (yoy) hingga Juni 2026. Pertumbuhan tersebut mencerminkan masih adanya permintaan terhadap pembiayaan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
Bagi Bank Mega Syariah, tren tersebut menjadi ruang untuk memperluas produk pembiayaan yang lebih spesifik dan sesuai dengan karakteristik kebutuhan nasabah. Flexi Gold menjadi salah satu produk yang diarahkan untuk menangkap peluang tersebut melalui pembiayaan berbasis emas.
Namun, perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan penyaluran. Pengembangan bisnis tetap akan disertai dengan perhatian terhadap kualitas pembiayaan dan penerapan prinsip kehati-hatian.
Alvonzo mengatakan Bank Mega Syariah akan terus mengembangkan produk pembiayaan konsumer sesuai kebutuhan masyarakat, sekaligus menjaga kualitas portofolio.
