Jakarta, TopBusiness – Penerapan Governance, Risk and Compliance (GRC) yang konsisten menjadi salah satu fondasi PT SUCOFINDO (Persero) dalam menjaga kualitas layanan sekaligus mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan. Melalui tata kelola yang terintegrasi dengan manajemen risiko dan kepatuhan, perusahaan jasa Testing, Inspection and Certification (TIC) ini terus memperkuat perannya dalam mendukung kebutuhan pelaku usaha di berbagai sektor industri.
Selama sekitar 70 tahun, SUCOFINDO telah memberikan layanan pengujian, inspeksi, dan sertifikasi yang dibutuhkan dunia usaha, mulai dari sektor pertambangan, minyak dan gas, manufaktur hingga perdagangan dan ekspor. Peran tersebut menjadikan kualitas, independensi, serta kredibilitas layanan sebagai faktor penting yang harus terus dijaga.
Direktur Sumber Daya Manusia/Plt. Direktur Keuangan SUCOFINDO, Budi Utomo, mengatakan perusahaan terus berkomitmen memberikan kontribusi bagi dunia industri melalui layanan TIC yang memenuhi standar nasional maupun internasional.
“Sebagai perusahaan jasa TIC, kami sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik untuk memenuhi standar kualitas dan mutu, kebutuhan survei di sektor pertambangan, perminyakan maupun industri lainnya, termasuk untuk kebutuhan dokumen ekspor,” ujar Budi Utomo saat memaparkan kinerja perusahaan kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, kualitas kinerja SUCOFINDO sangat menentukan mutu layanan yang diterima konsumen. Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan kini memiliki sekitar 2.500 tenaga kerja dengan beragam kompetensi dan keahlian serta melayani lebih dari 1.000 pelanggan dari berbagai sektor industri.
“Dengan jumlah tenaga kerja dan pelanggan yang cukup besar, kami harus memastikan pelayanan diberikan secara optimal dan sesuai dengan standar yang dibutuhkan oleh masing-masing klien,” tegasnya.
Budi menjelaskan, SUCOFINDO tidak menempatkan GRC hanya sebagai perangkat administratif maupun pemenuhan kepatuhan. GRC telah menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses bisnis, pengambilan keputusan, hingga pembentukan budaya perusahaan.
“Kami berkomitmen menerapkan Sistem Manajemen Terintegrasi dan menjadikan tata kelola, risiko, dan kepatuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses bisnis, pengambilan keputusan, dan budaya perusahaan untuk menjamin mutu dan keberlanjutan perusahaan,” jelasnya.
Untuk memperkuat penerapan tersebut, SUCOFINDO memiliki sejumlah kebijakan pendukung, antara lain Pedoman Manajemen Anti Penyuapan, Pedoman Manajemen Risiko, Pedoman Kebijakan Sistem Manajemen, serta Pedoman Kebijakan Sistem Manajemen Kelangsungan Perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga melakukan harmonisasi kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis, termasuk melalui keputusan direksi mengenai tata kelola proyek, kewenangan BOMHD, serta berbagai kebijakan terkait lainnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penerapan GRC di SUCOFINDO diarahkan tidak hanya untuk mengendalikan risiko, tetapi juga memastikan setiap keputusan bisnis tetap berada dalam koridor tata kelola yang baik, transparan, dan berkelanjutan.
Kinerja Keuangan Terus Menguat
Implementasi tata kelola yang semakin matang tersebut berjalan seiring dengan peningkatan kinerja perusahaan. Dalam periode 2021–2025, SUCOFINDO mencatat pertumbuhan kinerja dan performa perusahaan yang positif.
Pada 2025, SUCOFINDO membukukan pendapatan sebesar Rp3,86 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp515 miliar.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penguatan tata kelola, pengendalian risiko, dan kepatuhan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai bisnis.
Tidak hanya dari sisi finansial, kualitas tata kelola perusahaan juga menunjukkan tren positif. Skor GCG SUCOFINDO terus meningkat sepanjang 2021 hingga 2025 dan pada penilaian terakhir mencapai 97,35 dengan predikat “Sangat Baik”.
Sementara itu, berdasarkan hasil penilaian Kantor Akuntan Publik (KAP), SUCOFINDO memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tingkat kesehatan perusahaan juga berada pada kategori AA+ atau Sehat, dengan capaian KPI sebesar 106,83 persen.
Selain GRC, SUCOFINDO juga mulai memperkuat komitmen terhadap aspek Environmental, Social and Governance (ESG). Kebijakan tersebut mulai diberlakukan perusahaan sejak 2025 sebagai bagian dari upaya membangun bisnis yang berkelanjutan.
Budi menegaskan, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam tata kelola bisnis SUCOFINDO ke depan. Dengan mengintegrasikan aspek ESG, perusahaan tidak hanya berorientasi pada pencapaian kinerja finansial, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan, sosial, serta kualitas tata kelola.
“Komitmen kami adalah memastikan tata kelola bisnis berjalan dengan baik, risiko dapat dikelola, kepatuhan terjaga, dan seluruh proses tersebut mendukung keberlanjutan perusahaan,” katanya.
Dengan fondasi GRC yang semakin kuat, ditopang kinerja keuangan yang positif, tata kelola berpredikat sangat baik, opini WTP, serta tingkat kesehatan perusahaan AA+, SUCOFINDO menegaskan posisinya sebagai perusahaan jasa TIC yang tidak hanya memberikan layanan pengujian, inspeksi dan sertifikasi, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi pelaku usaha dalam memenuhi standar kualitas, keamanan, kepatuhan, dan keberlanjutan.
Bagi pelaku usaha, kehadiran lembaga TIC yang memiliki tata kelola kuat menjadi semakin penting. Sebab, kualitas layanan TIC pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai sertifikat atau hasil pengujian, tetapi juga mengenai kepercayaan—sebuah modal penting bagi dunia usaha untuk tumbuh dan bersaing di pasar nasional maupun global.
