Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (14/9/2026) dengan koreksi tipis setelah sempat terperosok cukup dalam pada perdagangan sesi I. IHSG ditutup turun 6,70 poin atau 0,10% ke level 6.534,69.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat jatuh hingga level terendah 6.371,39. Tekanan jual yang terjadi pada awal perdagangan membuat indeks sempat kehilangan lebih dari 1% sebelum akhirnya mampu mempersempit pelemahan pada sesi akhir.
Perubahan posisi Menteri Keuangan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar. Setelah sebelumnya pasar merespons negatif kabar pergantian Menteri Keuangan, pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan memberikan sedikit kepastian sehingga tekanan terhadap IHSG mulai mereda.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 429 saham melemah, 219 saham menguat, dan 141 saham stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi perdagangan meskipun IHSG akhirnya hanya terkoreksi tipis.
Nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar Rp17,64 triliun dengan volume perdagangan 34,45 miliar saham.
Pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu faktor yang membantu IHSG mempersempit koreksi menjelang penutupan.
Saham perbankan menjadi perhatian karena memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks. Sejumlah saham bank besar mampu mencatatkan penguatan dan membantu mengimbangi tekanan dari saham-saham yang mengalami koreksi tajam.
BBRI bergerak di kisaran Rp3.390-Rp3.400 pada perdagangan Senin. Sementara itu, BMRI berada di sekitar Rp4.350 dan BBCA bergerak di kisaran Rp6.400.
Penguatan saham-saham bank tersebut menjadi penting karena tekanan pasar sebenarnya masih cukup luas. Dengan bobot besar sektor perbankan terhadap IHSG, kenaikan saham bank mampu memberikan bantalan terhadap indeks ketika sejumlah saham lain mengalami tekanan.
Di sisi lain, saham-saham komoditas dan energi masih menghadapi tekanan jual.
EMAS menjadi salah satu saham yang mengalami koreksi signifikan dengan penurunan sekitar 12,29% ke level Rp7.675. DSSA juga tercatat melemah sekitar 2,73%.
Tekanan terhadap saham komoditas menjadi salah satu faktor yang membuat breadth pasar tetap negatif meskipun IHSG berhasil mengurangi pelemahan pada sesi kedua.
Pergerakan saham komoditas juga menunjukkan bahwa investor masih cenderung selektif dan melakukan rotasi portofolio ke saham-saham yang dinilai memiliki fundamental dan likuiditas lebih kuat.
Tekanan paling besar terjadi pada perdagangan sesi I. IHSG ditutup di level 6.429,88 pada akhir sesi pertama, turun 111,49 poin atau 1,70%.
Dengan demikian, dari penutupan sesi I hingga penutupan perdagangan, IHSG mengalami pemulihan lebih dari 100 poin. Pergerakan tersebut menunjukkan munculnya aksi beli ketika indeks berada di level rendah.
Pemulihan pada sesi kedua juga menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan bargain hunting setelah IHSG mengalami tekanan tajam pada awal perdagangan.
Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren IHSG telah sepenuhnya berbalik positif. Jumlah saham yang melemah masih jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Pergantian Menkeu Belum Menghilangkan Risiko Pasar
Pergantian Menteri Keuangan menjadi katalis penting pada perdagangan hari ini, tetapi investor masih akan mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah setelah perubahan tersebut.
Pasar akan menunggu kepastian mengenai kesinambungan kebijakan fiskal, pengelolaan anggaran negara, penerimaan negara, serta strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Karena itu, respons positif pada sesi akhir lebih tepat dipandang sebagai berkurangnya ketidakpastian jangka pendek daripada sinyal bahwa seluruh risiko pasar telah hilang.
Investor juga masih akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat kembali memberikan tekanan terhadap saham-saham domestik, terutama ketika sentimen global sedang negatif.
The Fed Jadi Perhatian Berikutnya
Setelah fokus terhadap pergantian Menteri Keuangan, perhatian investor akan beralih kepada agenda bank sentral global, terutama keputusan Federal Reserve pada pekan ini.
Arah kebijakan suku bunga AS akan menjadi salah satu penentu pergerakan aset berisiko, termasuk saham Indonesia. Investor akan mencermati keputusan suku bunga, pernyataan pejabat The Fed, serta proyeksi ekonomi Amerika Serikat.
Selain The Fed, pasar juga akan memperhatikan keputusan bank sentral Inggris dan Jepang.
Jika sentimen global kembali memburuk, IHSG berpotensi menghadapi tekanan lanjutan meskipun pasar domestik telah memperoleh katalis dari kepastian posisi Menteri Keuangan.
Analisis: Rebound IHSG Belum Menandakan Pembalikan Tren
Secara teknikal, penutupan IHSG di level 6.534,69 memberikan sinyal bahwa aksi beli masih mampu muncul ketika indeks mendekati area support.
IHSG bahkan sempat menyentuh 6.371,39 sebelum akhirnya ditutup jauh lebih tinggi. Namun, indeks masih menghadapi tantangan untuk menembus area resistance di sekitar 6.633-6.705.
Jika mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang pemulihan IHSG akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali muncul dan indeks turun menembus area 6.448, risiko pengujian kembali level 6.370 menjadi semakin besar.
Dengan kondisi tersebut, investor sebaiknya tetap mewaspadai volatilitas tinggi dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.
Perdagangan Senin menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan kebijakan pemerintah dan sentimen global. Pergantian Menteri Keuangan memang berhasil membuat IHSG mempersempit pelemahan, tetapi dominasi saham turun menunjukkan bahwa kepercayaan pasar belum sepenuhnya pulih.
Untuk sementara, level 6.370-6.450 menjadi area support penting, sedangkan 6.633-6.705 menjadi zona resistance yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi pemulihan lebih lanjut.
Dengan demikian, penutupan IHSG yang hanya turun 0,10% pada Senin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi perdagangan yang sebenarnya. Di balik koreksi tipis tersebut, indeks sempat mengalami tekanan sangat dalam dan baru mampu pulih pada sesi akhir. Investor kini akan menunggu apakah pemulihan tersebut berlanjut pada perdagangan berikutnya atau justru kembali menghadapi aksi jual.
Data AI
