TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

IHSG Ambruk di Akhir Sesi Kamis

Agus Haryanto
24 September 2026 | 16:32
rubrik: Capital Market
FOTO2 BURSA EFEK

Ilustrasi harga saham di Bursa Efek Indonesia. FOTO: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). IHSG ditutup anjlok 1,20% atau terpangkas 76,305 poin ke level 6.298,607.

Tekanan jual sudah terlihat sejak awal perdagangan. IHSG dibuka di level 6.364,976 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.368,573. Namun, tekanan jual semakin kuat hingga indeks menyentuh titik terendah 6.287,456 sebelum akhirnya ditutup di level 6.298,607.

Aktivitas perdagangan juga cukup ramai. Berdasarkan data penutupan, volume transaksi mencapai sekitar 29,31 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,23 triliun. Sebanyak 462 saham ditutup melemah, sementara 188 saham menguat dan 144 saham stagnan.

Tekanan terjadi secara luas karena seluruh 11 indeks sektoral IDX-IC berakhir di zona merah.

Sektor bahan baku menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 2,17%, diikuti sektor industrial yang melemah 2,09% dan properti turun 1,66%. Kondisi ini menunjukkan tekanan tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok saham, melainkan terjadi secara relatif merata di pasar.

Dari eksternal, pasar saham Indonesia menghadapi kombinasi sentimen yang kurang bersahabat.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali berada di atas 5%, bahkan dilaporkan mencapai sekitar 5,11%-5,12%. Kenaikan yield tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus memperketat kondisi keuangan global. Pada saat yang sama, rupiah kembali tertekan mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi aset berisiko seperti saham. Yield obligasi AS yang tinggi dapat mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio ke aset yang dianggap memberikan imbal hasil lebih menarik dengan risiko yang berbeda.

Tekanan juga datang dari pasar minyak. Kenaikan harga minyak hingga di atas US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Pasar kemudian kembali mencermati kemungkinan kebijakan moneter AS bertahan ketat lebih lama.

BACA JUGA:   Berikut Ini Manuver Sinar Mas Garap Green Office di Serpong

Dengan kata lain, pasar saat ini menghadapi kombinasi yield tinggi, dolar kuat, rupiah tertekan, dan ketidakpastian geopolitik. Kombinasi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menambah posisi pada aset berisiko.

Pelemahan IHSG juga menarik karena terjadi sehari setelah indeks melonjak 1,56% setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%.

Keputusan BI tersebut pada awalnya memberikan sentimen positif. Namun, penguatan tersebut ternyata belum mampu mengubah tekanan yang berasal dari faktor eksternal.

Dari perspektif teknikal, penutupan di 6.298,60 membuat IHSG kembali berada di sekitar level psikologis 6.300.

Level tersebut menjadi area yang perlu diperhatikan dalam perdagangan berikutnya. Jika tekanan jual berlanjut, pasar akan mencermati apakah IHSG mampu mempertahankan area 6.300 atau justru melanjutkan pelemahan menuju level yang lebih rendah.

Sebaliknya, apabila tekanan jual mereda dan indeks mampu kembali bergerak di atas 6.300, investor akan melihat apakah terjadi pemulihan menuju area resistance terdekat. Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan rentang pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini berada di sekitar 6.300-6.400.

Namun, sinyal teknikal tersebut tetap perlu dibaca bersama indikator makro. Selama yield US Treasury masih tinggi, rupiah menghadapi tekanan dan arus dana asing belum menunjukkan pembalikan yang konsisten, ruang pemulihan IHSG berpotensi tetap menghadapi volatilitas.

Dengan demikian, penurunan IHSG 1,20% pada Kamis bukan sekadar koreksi setelah kenaikan sehari sebelumnya. Pelemahan terjadi secara luas di berbagai sektor dan diperkuat tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar. Di sisi lain, faktor eksternal seperti tingginya yield obligasi AS, penguatan dolar, tekanan terhadap rupiah, harga minyak, dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang membuat investor kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Perdagangan berikutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah level 6.300 mampu dipertahankan dan apakah tekanan jual asing mulai mereda.

BACA JUGA:   Bisa Bullish Lagi, IHSG Dekati Level Resistance 6256

Data AI

Tags: ihsgindeksJCI
Previous Post

Tepat Waktu dan Bermutu, Hutama Karya Tuntaskan Pekerjaan Tanggap Darurat Sumber Daya Air di Aceh

Next Post

Crocs Echo II Bawa Semangat Let Them Talk

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR