Jakarta, TopBusiness—Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2024 dan SIINas tahun 2025, tercatat sebanyak 256 unit usaha yang bergerak di sektor industri mainan dengan total 15.663 tenaga kerja. Selain itu, terdapat 10 sentra IKM mainan, yang terdiri dari empat sentra di Jawa Tengah, satu sentra di Jawa Timur, dan lima sentra di Jawa Barat.
“Data ini menunjukkan bahwa industri mainan memiliki basis produksi dan penyerapan tenaga kerja yang cukup luas serta memiliki potensi untuk terus dikembangkan,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian RI (IKMA Kemenperin) Reni Yanita, via keterangan resmi, hari ini.
Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia juga menunjukkan prospek yang positif. Dalam lima tahun terakhir, industri mainan mencatat surplus net ekspor. Pada tahun 2025, nilai ekspor meningkat sebesar 8,2 persen dibandingkan tahun 2024, mencapai sekitar USD 664,6 juta.
Pada periode Januari hingga Juni 2026, ekspor juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yaitu dari USD 297,7 juta menjadi USD 351,8 juta.
“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” imbuh Dirjen IKMA.
Reni mengatakan, industri mainan memiliki peran ganda yang strategis. Selain menjadi sektor ekonomi yang produktif, mainan anak juga berfungsi sebagai media pembelajaran interaktif yang menunjang pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, hingga problem solving pada anak.
Reni menekankan salah satu peluang yang perlu dioptimalkan adalah segmen pasar produk pendidikan yang membuka peluang bagi produk-produk media pembelajaran maupun produk interaktif lainnya. “Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucap Reni.
Pada kesempatan yang sama, Reni menjelaskan Kemenperin bertekad memperkuat penggunaan produk dalam negeri (P3DN). Hingga tahun 2026, terdapat 65 pelaku industri mainan yang produknya telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Industri Aneka Kementerian Perindustrian RI, Reny Meilany, mengatakan dalam menjaga kualitas dan keamanan, pemenuhan standar juga menjadi modal penting bagi pengembangan industri mainan.
“Kemenperin konsisten melakukan pembinaan dan fasilitasi bagi pelaku industri mainan, khususnya yang berskala IKM,” jelasnya. Dukungan tersebut diberikan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan standar dan peningkatan kualitas, penguatan kapasitas produksi, hingga perluasan akses pasar.
Ditjen IKMA telah melakukan kegiatan fasilitasi sertifikasi SNI mainan anak, pendampingan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, asesmen dan implementasi Industri 4.0, sosialisasi e-katalog industri mainan anak, workshop tata cara penghitungan TKDN, pendampingan sentra IKM, pengembangan sentra IKM mainan, perluasan akses pasar, pitching dan business matching, serta fasilitasi partisipasi dalam pameran internasional.
Selain pembinaan dan fasilitasi tersebut, Ditjen IKMA juga menyediakan dukungan untuk peningkatan kapasitas produksi melalui program restrukturisasi mesin dan/atau peralatan bagi IKM.
